Luhut: Kepuasan Terhebat Saya adalah Menjadi Tentara

Luhut Binsar Pandjaitan menyebut masa sebagai tentara sebagai kepuasan terbesar dalam perjalanan hidupnya.
Kecintaan Luhut pada militer tumbuh sejak kecil dan berlanjut melalui perannya dalam mereorganisasi sistem pelatihan Kopassus.
Perjalanan menjadi duta besar dan menteri turut membentuk karier politiknya, dengan peran Gus Dur dan Devi Simatupang.
Jakarta, IDN Times - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, menilai perjalanan panjangnya dari kawah candradimuka militer hingga menjadi menteri di berbagai era pemerintahan Indonesia sebagai sebuah misteri kehidupan. Perjalanan kariernya menyimpan banyak cerita tentang dedikasi, rasa syukur, juga menyelipkan kefrustrasian.
Di sela-sela peresmian Galeri Jejak Langkah Luhut Binsar Pandjaitan di Sopo Del Tower, Senin (28/9/2026), Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) tersebut membongkar momen-momen dalam hidupnya. Meski kini dikenal sebagai politisi dan pengusaha sukses, ternyata kepuasan batinnya tertinggal di militer.
"Kepuasan terhebat di hidup saya adalah menjadi tentara. Saya instruktur dalam terjun bebas, saya instruktur dalam menembak, saya instruktur dalam perang hutan dan saya membuat berbagai macam sistem yang sampai hari ini masih digunakan di Kopassus. Ya itu bikin saya ada bangga dan mengucapkan syukur pada Tuhan. Ya, saya ada kontribusi juga lah kecil-kecil di TNI," kata Luhut.
1. Cita-cita masa kecil masuk RPKAD

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Panjaitan dalam acara Indonesia Summit 2026. (IDN Times/Herka Yanis) Kecintaan Luhut pada dunia militer ternyata sudah tumbuh sejak ia menyaksikan langsung operasi penumpasan PRRI/Permesta di Pekanbaru semasa kecil. Ia kagum melihat bagaimana pasukan kecil yang kini bernama Kopassus itu mampu mengamankan fasilitas vital.
"Saya lihat RPKAD mendarat di sana, bagaimana mereka merebut Simpang Tiga lapangan terbang Pekanbaru, bagaimana mereka men-secure Caltex di Rumbai hanya dalam jumlah yang kecil. Mungkin orang membayangkan sesusah apa ini ya, tapi saya di situlah saya terus langsung pikir saya harus masuk RPKAD. Saya harus punya pasukan yang kecil," ujar Luhut.
Momen historis itulah yang menanamkan tekad kuat dalam benaknya untuk bisa masuk dan memimpin pasukan elite tersebut di kemudian hari. Seiring berjalannya waktu, rasa bangganya pun kian tebal. Khususnya ketika Luhut berkesempatan mereorganisasi sistem pelatihan di tubuh Kopassus yang masih digunakan hingga saat ini.
"Itu satu kepuasan tersendiri mungkin dalam hidup saya. Saya me-reorganisasi Kopassus dengan ada latihan spesialisasi yang dulunya kita terjun di tim-tim tidak punya itu. Nah, itu ya satu kepuasan tersendiri yang tidak bisa dibayangkan banyak orang. Ya, kalau saya cerita nanti lebih jadi sentimentil lagi mengenai itu ya," ucap Luhut.
2. Overqualified jadi Dubes, buka wawasan diplomasi

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Panjaitan dalam acara Indonesia Summit 2026. (IDN Times/Herka Yanis) Karier Luhut di militer berbelok tajam setelh Presiden ketiga RI, BJ Habibie, menugaskannya menjadi Duta Besar Indonesia untuk Singapura. Transisi dari seorang prajurit menjadi diplomat negara merupakan hal yang tak pernah sedikit pun terlintas di benaknya.
Kemampuan diplomasinya ternyata mendapat pujian selangit dari Presiden RI keempat, Abdurrahman Wahid. Gus Dur menilai Luhut terlalu bagus untuk sekadar menjabat sebagai duta besar.
Di sisi lain, penempatan di Singapura justru menjadi sekolah pertamanya dalam memahami kompleksitas kerja sama internasional dan negosiasi lintas negara. Di sanalah Luhut mulai merajut relasi dan persahabatan yang kuat dengan banyak pejabat tinggi Singapura yang masih terawat hingga hari ini.
"Dan Pak Gus Dur memang bilang ke saya, Pak Luhut, Pak Luhut itu overqualified untuk jadi Dubes gitu. Waktu satu pertemuan kami mau buka puasa di Jatinegara ini. Ya, tapi saya bilang saya udah diperintah ya saya akan laksanakan. Ya saya jadilah Dubes, tapi dari Dubes juga saya pikir menjadi awal dari pemahaman saya mengenai kerja sama internasional. Dan saya membangun perkawanan di sana. Sampai hari ini kami berteman. Mereka menjadi pejabat-pejabat tinggi di Pemerintahan Singapura. Karena buat saya, perkawanan itu harus dipelihara," kata Luhut.
3. Jasa besar Gus Dur dan peran krusial istri

Luhut Binsar Pandjaitan dalam acara Ngobrol Seru by IDN Times x Total Politik, "Ngobrol yang Paten-paten Aja Bareng Menko Marves". (IDN Times/Tata Firza) Jalan hidupnya kembali mengejutkan saat Gus Dur menariknya kembali ke tanah air untuk diangkat menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Meski sempat menolak tawaran tersebut hingga tiga kali, Luhut akhirnya menerima tugas yang kemudian membuka pintu kariernya di dunia politik.
Gus Dur menjadi sosok yang memiliki peran penting dalam hidupnya. Bahkan, Luhut menegaskan kepada anak dan cucunya agar tidak pernah melupakan jasa besar Gus Dur.
"Bagaimana lah seorang prajurit profesional tiba-tiba jadi menteri? Menteri yang saya tidak paham lagi, Memperindag. Dan saya juga nolak sama Gus Dur tiga kali. Tapi saya pikir itu yang membawa saya ke dalam kancah yang lebih luas. Itu sebabnya saya bilang sama anak cucu saya, kita nggak boleh lupa sama Gus Dur dengan keluarganya," kenang Luhut.
Di balik semua kesuksesan dan ketangguhannya, ternyata Luhut juga pernah diselimuti rasa frustrasi dan nyaris menyerah. Sang istri, Devi Simatupang, menjadi penyelamat dalam masa-masa sulit tersebut.
"Istri saya punya peran luar biasa. Pada titik-titik tertentu saya pernah mau menyerah. Ya karena saya frustasi juga. Manusia. Tapi istri saya yang memberikan banyak apa ya nasihat masukan dan kita berdoa. Ya itu aja banyak menyelesaikan masalah," cerita Luhut.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)


















