Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD menghadiri acara peluncuran buku yang berisi kumpulan tulisannya sejak tahun 2000-an awal (3/6/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
Dalam kesempatan itu, Mahfud secara terbuka mengakui banyak tulisannya muncul karena rasa marah terhadap berbagai persoalan yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Terlepas dari apapun isinya, yang nanti bisa dinilai sendiri, tapi hampir semua tulisan saya itu adalah kemarahan," kata Mahfud disambut tawa hadirin.
Menurutnya, kemarahan tersebut terutama muncul ketika melihat persoalan dalam dunia politik maupun penegakan hukum. Namun, ia menegaskan selalu berupaya mengulas persoalan tersebut dari sisi filosofi dan asas hukum, bukan sekadar perdebatan pasal.
"Kemarahan terhadap keadaan politik dan perkembangan hukum. Di saat-saat terjadi masalah di bidang politik, kan tidak semua masalah politik itu jelek. Tapi hukum juga begitu, tapi kalau terjadi masalah dalam penegakan hukum, saya marah. Lalu saya nulis," ujarnya.
"Tetapi kalau saya nulis biasanya selalu mengaitkan dengan filosofi dan asas hukumnya. Tidak bicara soal pasal-pasal karena kalau pasal-pasal itu pokrol juga bisa. Tidak harus belajar hukum jauh-jauh kalau cuma mau adu pasal itu. Tapi asas dan filosofi itu menjadi sangat penting," lanjut Mahfud.
Ia juga mengungkapkan tidak semua tulisan yang pernah dibuat akhirnya dimasukkan ke dalam buku tersebut. Sejumlah tulisan yang dianggap terlalu emosional atau tidak memiliki nilai teoritis sengaja disisihkan.
"Ketika saya ribut misalnya dengan Refly Harun masalah apa, membongkar mafia di MK, saya bilang ndak usah dimuat ini udah selesai. Ndak ada teorinya juga ini. Ini orang marah-marahan aja gitu," katanya.