Makin Sulit Berkembang Biak, Harimau Sumatra Masuk "Garis Merah"

Populasi Harimau Sumatra diperkirakan tinggal sekitar 400 ekor secara global dan berada di garis merah akibat kesuburan rendah serta selektivitas tinggi dalam memilih pasangan.
Reproduksi di penangkaran sulit dipaksakan karena insting alami harimau memengaruhi kecocokan pasangan, meski jantan dan betina telah ditempatkan bersama.
Sejak 1995, Taman Safari Indonesia telah menangkarkan 25 anakan; saat ini mengelola 22 harimau dengan dukungan dana riset, pakan, dan operasional dari sektor swasta.
Take a Deeper Reads

Bogor, IDN Times - Populasi Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) di seluruh dunia kini berada di "garis merah" dengan estimasi tersisa hanya sekitar 400 ekor.
Hal tersebut diungkapkan Vice President Life Science Taman Safari Indonesia (TSI), drh. Bongot Huaso Mulia, dalam pemaparan terkait kondisi Harimau Sumatra di Kawasan Penangkaran Taman Safari Indonesia di Cisarua, Kabupaten Bogor, Rabu (7/10/2026).
Krisis populasi ini diperberat oleh karakter biologis Harimau endemik nusantara di kawqsan konservasi tersebut yang memiliki tingkat kesuburan rendah dan sangat selektif dalam memilih pasangan, sehingga upaya penangkaran di luar habitat asli menghadapi tantangan berlapis.
"Mereka punya kesulitan dalam mereproduksi secara alami memiliki tingkat reproduksi yang lebih sulit, kemudian mereka pemilih juga antara jantan dan betinanya. Perkiraan (di seluruh dunia) ada sekitar 400 ekor, iya garis merah," ungkapnya.
1. Kesuburan rendah hambat percepatan populasi

Cantik, Salah satu Harimau Betina di Kawasna Konsrrvasi TSI Bogor. IDN Times/Linna Susanti Tingkat kesuburan (fertility) yang rendah menjadi kendala utama dalam memperbanyak individu Harimau Sumatra.
Di alam liar, pergerakan mereka lebih leluasa, namun di area penangkaran, insting alami dan kriteria pemilihan pasangan kawin yang ketat membuat proses reproduksi tidak bisa dipaksakan meski jantan dan betina disatukan.
2. TSI tangkarkan 25 anakan sejak 1995 di tengah krisis

Kadang Harimau Sumatra di kawasan penangkaran Taman Safari Indonesia Bogor. IDN Times/Linna Susanti Meski dihadapkan pada kebuntuan reproduksi alami, upaya konservasi di TSI tetap membuahkan hasil. Sejak tahun 1995, lembaga ini berhasil menangkarkan sedikitnya 25 ekor anakan Harimau Sumatra.
drh. Bongot mengungkapkan juga kondisi jumlah Harimau Sumatra yang saat ini dikelola di kawasan TSI Bogor.
"Saat ini, terdapat total 22 ekor Harimau Sumatra di bawah pengelolaan TSI, dengan 16 ekor berada di TSI Bogor dan tambahan 4 ekor anakan yang baru lahir enam bulan lalu di TSI Prigen," ungkap dia.
3. Tingginya biaya riset dan pakan paksa intervensi swasta

Wawancara Andrew dari Pihak PGI dan drH Bongot dari Pihak TSI Bogor. IDN Times/Linna Susanti Status krisis satwa ini akhirnya memicu intervensi pendanaan dari sektor swasta, salah satunya melalui Pusat Gadai Indonesia (PGI) yang menyokong operasional riset dan reproduksi di TSI.
Dirut PGI, Andrew Susanto, mengungkapkan dirinya sebagai pencinta satwa turut mengucurkan bantuan berupa mobil operasional untuk TSI Bogor hingga dana untuk operasional pemelriharaan Harimau Sumatra tersebut.
"Harimau Sumatra itu cuma ada 400 atau 600. Saya enggak mau anak kita atau cucu kita nanti enggak bisa lihat," tegas Andrew.
Ia juga mengajak para pengusaha lainnya untuk turut berpartisipasi dalam upaya pemeliharaan satwa liar yang di ambang kepunahan.
"Saya mengajak pengusaha lain untuk ikut bergerak menyokong konservasi satwa di Taman Safari," serunya.






















