Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mama Sinta Muncul Beri Klarifikasi Usai Keluarga Sebut Putus Komunikasi
Tokoh perempuan adat dan pejuang lingkungan dari Merauke, Papua Selatan, Yasinta Moiwend atau akrab disapa Mama Sinta menyambangi Mapolda Metro Jaya pada Jumat (29/5/2026). (IDN Times/Irfan Fathurohman)
  • Mama Sinta menegaskan kedatangannya ke Jakarta atas biaya pribadi untuk menuntut keadilan terkait pencatutan wajahnya tanpa izin dalam film dokumenter 'Pesta Babi'.
  • Ia melaporkan Direktur LBH Papua Merauke, Teddy John Wakum, ke Polda Metro Jaya atas dugaan pelanggaran perlindungan data pribadi karena penggunaan wajahnya tanpa izin.
  • Keluarga mengaku kehilangan kontak dengan Mama Sinta sejak 24 Mei 2026 dan menduga adanya tekanan sebelum ia membuat laporan polisi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Mama Sinta pergi ke Jakarta sendiri pakai uangnya karena marah wajahnya dipakai di film tanpa izin. Dia bilang tidak dijemput siapa-siapa dan tidak kenal orang yang dituduh bantu dia. Mama Sinta lapor polisi karena merasa sedih dan kecewa. Keluarganya sempat khawatir karena tidak bisa bicara dengan dia beberapa hari.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Klarifikasi langsung dari Mama Sinta menunjukkan keberanian dan kemandiriannya sebagai tokoh adat yang tegas memperjuangkan hak pribadi. Dengan menegaskan bahwa perjalanannya ke Jakarta dilakukan atas inisiatif sendiri, ia memperlihatkan integritas serta komitmen terhadap harga diri dan keadilan, sekaligus meluruskan informasi yang beredar tanpa dasar jelas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Tokoh perempuan adat dan pejuang lingkungan asal Merauke, Papua Selatan, Yasinta Moiwend alias Mama Sinta menyatakan kedatangannya ke Jakarta atas inisiatif dan biaya pribadi untuk menuntut keadilan atas pencatutan wajahnya tanpa izin dalam film dokumenter berjudul "Pesta Babi".

Hal itu disampaikan merespons beredarnya narasi dari akun media lokal @laolao_papua yang menarasikan dirinya dijemput paksa dan difasilitasi PT Jhonlin Group.

"Itu tidak benar nak, itu tidak benar. Saya naik pesawat biasa dengan penumpang. Saya tidak naik kapal ke Merauke atau ke Boven Digoel dengan pesawat helikopternya Haji Isam. Itu tidak ada, itu omong kosong. Itu namanya provokator," kata Mama Sinta, Minggu (31/5/2026).

Dia juga menambahkan, dirinya tidak pernah bertemu dengan Haji Isam dan melakukan perjalanan dari Wanam ke Merauke, lalu membeli tiket pesawat ke Jayapura menuju Jakarta.

"TNI tidak jemput saya, tidak ada intimidasi. Kenapa kalian yang repot dengan saya? Saya datang ke Jakarta karena harga diri saya," kata dia.

1. Mama Sinta laporkan LBH Papua Merauke

Film "Pesta Babi" Yang Berisik Bukan Filmnya Tapi Penontonya

Diketahui, Mama Sinta menyambangi Mapolda Metro Jaya pada Jumat (29/5/2026) sore. Dia melaporkan Direktur LBH Papua Merauke Teddy John Wakum atas dugaan pelanggaran perlindungan data pribadi. Laporan teregistrasi dengan nomor LP/B/3843/V/2026/SPKT/Polda Metro Jaya tertanggal 29 Mei 2026.

“Kita laporkan ini adalah untuk perorangan, Ketua LBH Merauke inisialnya adalah JTW,” kata Pengacara Mama Sinta, T.S. Hamonangan Daulay saat mendampingi kliennya di Polda Metro.

Mama Sinta menjelaskan, pelaporan ini merupakan buntut sakit hatinya karena keterlibatan dalam film ‘Pesta Babi’ dilakukan tanpa izin resmi darinya.

Menurut dia, film ‘Pesta Babi’ telah diputar di berbagai daerah dan kini juga dapat diakses melalui platform YouTube.

“Mereka putar film pesta babi itu di mana-mana, saya sakit hati, saya kecewa sekali! Tanpa izin dari saya, tanpa pembicaraan. Itu penjahat itu mereka! Saya punya wajah ini di mana-mana mereka putar film itu, saya sakit hati!” tegas Sinta dalam kesempatan yang sama.

2. Mama Sinta merasa dijadikan objek

poster film Pesta Babi (Instagram.com/watchdoc_insta)

Sinta mengaku pertama kali mengetahui keberadaan film tersebut saat dibawa ke Papua oleh seseorang yang ia sapa Bang Tigor. Saat itu, ia mengira akan ada acara ‘potong babi’. Namun, ketika film diputar, barulah ia mengetahui tayangan tersebut berjudul ‘Pesta Babi’ pada 8 April 2026.

Ia pun mengungkapkan kekecewaannya karena merasa dijadikan objek yang ditampilkan ke publik tanpa persetujuannya.

“Kenapa wajah saya bisa dibawa ke mana-mana lewat film itu? Apa saya ini boneka? Apa saya patung Asmat yang sudah diukir? Orang Papua bilang itu patung Asmat, ukiran itu. Saya bukan ukiran Asmat!” tegas Mama Sinta.

3. Keluarga putus komunikasi dengan Mama Sinta

Tokoh perempuan adat dan pejuang lingkungan dari Merauke, Papua Selatan, Yasinta Moiwend atau akrab disapa Mama Sinta menyambangi Mapolda Metro Jaya pada Jumat (29/5/2026). (IDN Times/Irfan Fathurohman)

Sementara itu, pihak keluarga menduga ada tekanan yang dihadapi Mama Sinta sebelum melaporkan Direktur LBH Papua Merauke Teddy John Wakum terkait film Pesta Babi ke Polda Metro Jaya.

Dalam sebuah video, keluarga Mama Sinta mengaku sudah tak bisa menghubungi Mama Sinta sejak Minggu (24/5/2026).

“Setelah tanggal 23, hari Sabtu, ketika video Mama Sinta Moiwend berkembang di media, saat itu kami coba membangun komunikasi dengan Mama, tetapi Mama sudah tidak komunikasi dengan kita, keluarga, mulai dari hari Minggu. Dan diduga saat itu Mama ditekan,” kata pihak keluarga, dikutip Minggu (31/5/2026).

Pihak keluarga menduga Mama Sinta diselundupkan ke Jakarta oleh aparat militer yang ditugaskan mengamankan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan.

Pihak keluarga menyatakan, sejak 24 Mei, Mama Sinta sudah tak bermalam di rumahnya, dan diketahui bermalam di pos TNI di Kampung Wogikel, Distrik Ilwayab.

Editorial Team

Related Article