Presiden Prabowo Subianto saat menggelar pertemuan dengan pengusaha KADIN Pusat dan Daerah seluruh Indonesia, Jumat (31/7/2026). (Youtube/Sekretariat Presiden)
Tepat pada 17 Oktober 2026, Prabowo Subianto genap berusia 75 tahun. Tiga perempat abad perjalanan hidupnya diwarnai berbagai fase, mulai dari menempuh pendidikan di sejumlah negara, membangun karier sebagai perwira TNI, terjun ke dunia bisnis, mendirikan partai politik, hingga akhirnya mencapai puncak karier sebagai Presiden Republik Indonesia.
Prabowo Subianto lahir di Jakarta pada 17 Oktober 1951. Ia merupakan putra ekonom dan politikus Soemitro Djojohadikusumo dan Dora Marie Sigar. Masa kecil Prabowo banyak dihabiskan di luar negeri mengikuti keluarganya. Data KPU mencatat, pendidikan dasarnya ditempuh di Singapura dan kemudian dilanjutkan di Malaysia, Swiss, serta Inggris.
Perjalanan panjang itu kemudian membawanya kembali ke Indonesia. Pada usia 18 tahun, Prabowo mulai menempuh pendidikan militer di Akademi Militer Nasional di Magelang. Empat tahun kemudian, ia lulus dan memulai karier sebagai perwira TNI Angkatan Darat.
Prabowo memulai pendidikan formalnya sejak usia sekitar lima tahun. Berdasarkan data KPU untuk Pilpres 2024, ia bersekolah di The Dean School, Singapura, pada 1957-1960, kemudian melanjutkan ke Glenealy Junior School pada 1960-1962.
Saat berusia sekitar 11 tahun, Prabowo bersekolah di Victoria Institution, Kuala Lumpur, Malaysia, pada 1962-1964. Setelah itu, ia pindah ke American International School of Zurich, Swiss, pada 1964-1966.
Prabowo kemudian melanjutkan pendidikan menengah atas di The American School in London, Inggris, pada 1966-1968. Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, ia kembali ke Indonesia dan memilih jalur militer.
Pada 1970, ketika berusia sekitar 18 tahun, Prabowo masuk Akademi Militer Nasional di Magelang. Ia menjalani pendidikan selama empat tahun dan lulus pada 1974.
Karier militernya dimulai dua tahun kemudian. Pada 1976, ketika berusia sekitar 24 tahun, Prabowo dipercaya menjadi Komandan Peleton Para Komando Grup-1 Kopassandha.
Kariernya kemudian meningkat secara bertahap. Pada 1977 ia menjadi Komandan Kompi Para Komando Grup-1 Kopassandha. Memasuki usia 30-an, ia mendapat sejumlah penugasan strategis, termasuk menjadi Wakil Komandan Detasemen 81 Kopassus pada 1983-1985.
Pada 1985-1987, Prabowo menjabat Wakil Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 328 Kostrad. Setahun kemudian, pada usia sekitar 36 tahun, ia dipercaya menjadi Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 328 Kostrad.
Kariernya terus menanjak. Ia pernah menjadi Kepala Staf Brigade Infanteri Lintas Udara 17/Kujang I/Kostrad, Komandan Grup-3/Pusat Pendidikan Pasukan Khusus, Wakil Komandan Kopassus, hingga Komandan Kopassus.
Memasuki usia 44 tahun, Prabowo dipercaya memimpin Kopassus. Pada 1996, ia diangkat menjadi Komandan Jenderal Kopassus dengan pangkat mayor jenderal.
Dua tahun kemudian, pada Maret 1998, Prabowo mencapai posisi tertinggi dalam perjalanan militernya dengan menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Saat itu usianya sekitar 46 tahun.
Namun, karier militernya berakhir pada 1998 di tengah perubahan politik besar setelah Presiden Soeharto mengundurkan diri. Prabowo kemudian dimutasi menjadi Komandan Sekolah Staf dan Komando ABRI sebelum mengakhiri karier militernya pada Agustus 1998.
Setelah meninggalkan militer, Prabowo memasuki dunia bisnis. Ia mengembangkan usaha di berbagai sektor, antara lain perkebunan, pertambangan, kelapa sawit, dan batu bara. Fase ini menjadi jembatan sebelum dirinya masuk ke dunia politik secara lebih serius.
Pada usia sekitar 52 tahun, Prabowo mengikuti konvensi calon presiden Partai Golkar pada 2004. Namun, ia gagal memenangkan konvensi tersebut.
Ia kemudian meninggalkan Golkar dan mulai membangun kendaraan politiknya sendiri. Pada 2008, saat berusia sekitar 56 tahun, Prabowo menjadi salah satu tokoh utama pendirian Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Partai tersebut kemudian menjadi kendaraan utama Prabowo dalam perjalanan politik nasionalnya.
Prabowo mulai masuk gelanggang Pilpres secara langsung pada 2009. Saat berusia sekitar 57 tahun, ia maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Megawati Soekarnoputri. Pasangan Megawati-Prabowo kalah dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono.
Lima tahun kemudian, Prabowo untuk pertama kalinya maju sebagai calon presiden, berpasangan dengan Hatta Rajasa dalam Pilpres 2014. KPU menetapkan pasangan Prabowo-Hatta memperoleh 62.576.444 suara atau 46,85 persen, sementara Joko Widodo-Jusuf Kalla memperoleh 70.997.833 suara atau 53,15 persen.
Kekalahan itu tidak menghentikan langkah Prabowo. Pada usia sekitar 67 tahun, ia kembali maju dalam Pilpres 2019. Kali ini, Prabowo berpasangan dengan Sandiaga Uno.
Namun, hasilnya kembali menempatkan Prabowo sebagai pihak yang kalah. KPU menetapkan Joko Widodo-Ma'ruf Amin memperoleh 85.607.362 suara atau 55,5 persen, sedangkan Prabowo-Sandiaga memperoleh 68.650.239 suara atau 44,5 persen.
Menariknya, setelah Pilpres 2019, Prabowo justru bergabung ke pemerintahan rival politiknya. Pada Oktober 2019, Presiden Joko Widodo menunjuk Prabowo sebagai Menteri Pertahanan dalam Kabinet Indonesia Maju.
Posisi tersebut dijalani Prabowo hingga 2024. Selama menjadi Menteri Pertahanan, ia antara lain mendorong penguatan sumber daya manusia pertahanan, modernisasi alat utama sistem persenjataan atau alutsista, serta memperluas kerja sama pertahanan Indonesia dengan negara lain.
Kemudian pada 2022, Prabowo kembali mendapatkan mandat Partai Gerindra untuk maju sebagai calon presiden. Pada Pilpres 2024, ia berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka.
Untuk ketiga kalinya sebagai capres—dan keempat kalinya berada dalam kontestasi Pilpres setelah pengalaman sebagai cawapres pada 2009—Prabowo akhirnya berhasil memenangkan pemilihan.
KPU menetapkan Prabowo-Gibran memperoleh 96.214.691 suara atau 58,59 persen suara sah nasional. Pasangan tersebut memenuhi ketentuan perolehan minimal 20 persen suara di setiap provinsi dan unggul di seluruh 38 provinsi.
Pada 20 Oktober 2024, ketika berusia 73 tahun, Prabowo akhirnya dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia ke-8, didampingi Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden untuk periode 2024-2029. Pelantikan berlangsung dalam Sidang Paripurna MPR di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta.
Perjalanan Prabowo dengan demikian membentang lebih dari lima dekade: dari seorang anak yang berpindah-pindah sekolah di luar negeri, taruna Akmil, perwira dan komandan pasukan khusus, pengusaha, pendiri partai, kandidat wakil presiden, tiga kali kandidat presiden, Menteri Pertahanan, hingga akhirnya menjadi orang nomor satu di Indonesia.
Pada usia 75 tahun, Prabowo kini menjalani fase baru dalam perjalanan panjang tersebut sebagai Presiden RI, setelah lebih dari dua dekade berusaha mencapai posisi yang pada akhirnya berhasil diraihnya melalui Pilpres 2024.