Selain Elektabilitas, SMRC Sebut Dukungan Partai ke Prabowo Juga Turun

Survei SMRC mencatat Dedi Mulyadi berada di posisi teratas dengan elektabilitas 35,5 persen, mengungguli Anies Baswedan dan Prabowo Subianto.
Dalam simulasi dua nama, dukungan terhadap Dedi mencapai 69,3 persen, sedangkan Prabowo memperoleh 18,8 persen.
Survei juga mencatat dukungan pemilih partai terhadap Prabowo melemah, termasuk di kalangan pemilih Gerindra, Golkar, PAN, dan PKB.
Jakarta, IDN Times - Hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menemukan elektabilitas Presiden Prabowo Subianto mengalami penurunan drastis dalam setahun terakhir. Dalam simulasi semi terbuka, elektabilitas Prabowo kini hanya 9,8 persen, jauh di bawah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang mencapai 35,5 persen.
Selain itu, dalam survei bertajuk “Elektabilitas Presiden” yang dilakukan pada 1-10 Oktober 2026 itu juga dukungan dari partai politik menurun. Kondisi tersebut terjadi bahkan pada partai-partai yang elite politiknya telah menyatakan dukungan kepada Prabowo.
1. Dukungan partai politik kepada Prabowo juga menurun

Survei SMRC terhadap elektabilitas Prabowo Subianto setelah dua tahun pemerintahannya. (Dok. SMRC) Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, mengatakan di kalangan pemilih Partai Gerindra, misalnya, hanya 20 persen yang memilih Prabowo dalam simulasi semi terbuka. Sementara, sebanyak 74 persen memilih calon lain.
Dukungan terhadap Prabowo di kalangan pemilih Partai Golkar hanya 17 persen, PAN 8 persen, dan PKB 4 persen. Sementara, pada pemilih Partai NasDem sebesar 11 persen, Partai Demokrat 6 persen, PDIP 6 persen, dan PKS 2 persen.
Deni menyebut penurunan elektabilitas Prabowo berkaitan dengan penilaian publik terhadap kinerjanya sebagai presiden.
“Penurunan ini sangat berhubungan dengan kepuasan atas kinerja presiden, dengan kondisi makro ekonomi-politik dan penegakan hukum yang dinilai publik buruk, dengan kinerja pemerintah mengatasi masalah-masalah mendesak, serta dengan penilaian negatif atas program MBG dan KDMP,” kata Deni melalui kanal YouTube SMRC TV, Sabtu (17/10/2026).
2. Elektabilitas Dedi Mulyadi berbalik ungguli Prabowo

Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto didampingi Tokoh Jawa Barat Dedi Mulyadi di Koramil 0912/Lembang, Bandung, Jawa Barat (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa) Sedangakan hasil survei elektabilitas, Deni menjelaskan, posisi Prabowo dan Dedi Mulyadi berbalik dalam setahun terakhir. Pada November 2025, Prabowo masih unggul dengan elektabilitas 34,9 persen, sedangkan Dedi Mulyadi berada di angka 19,7 persen.
Elektabilitas Prabowo kemudian masih berada di angka 33,3 persen pada Februari-Maret 2026. Namun, angka tersebut turun menjadi 14,5 persen pada Juli 2026 dan kembali merosot menjadi 9,8 persen pada Oktober 2026.
Sebaliknya, elektabilitas Dedi Mulyadi terus meningkat hingga mencapai 35,5 persen pada Oktober 2026.
Pola serupa terlihat dalam simulasi dua nama antara Dedi Mulyadi dan Prabowo. Jika Pilpres hanya diikuti kedua nama tersebut, Dedi memperoleh dukungan 69,3 persen, sedangkan Prabowo hanya 18,8 persen. Sebanyak 12 persen responden belum menentukan pilihan.
Pada Februari-Maret 2026, Prabowo masih unggul dengan dukungan 50,5 persen, sementara Dedi Mulyadi 42,6 persen. Kondisi berbalik pada Juli 2026 ketika Dedi memperoleh 59 persen dan Prabowo 28,3 persen.
Pada Oktober 2026, elektabilitas Dedi kembali meningkat menjadi 69,3 persen. Sementara dukungan terhadap Prabowo merosot menjadi 18,8 persen.
“Dalam tujuh bulan, dukungan pada Prabowo dalam simulasi dua nama turun hampir 32 poin, sementara Dedi Mulyadi naik hampir 27 poin,” jelas Deni.
3. Tanpa Dedi, Gibran dan AHY ungguli Prabowo

Survei SMRC terhadap elektabilitas Prabowo Subianto setelah dua tahun pemerintahannya. (Dok. SMRC) SMRC juga menguji kekuatan Prabowo jika Dedi Mulyadi tidak maju dalam Pilpres. Simulasi dilakukan dengan tiga nama, yakni Prabowo Subianto, Gibran Rakabuming Raka, dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Menurut Deni, simulasi tersebut dibuat karena Dedi merupakan kader Gerindra seperti Prabowo. Selain itu, Gibran dinilai relevan karena elektabilitasnya dalam simulasi semi terbuka tidak jauh dari Prabowo serta posisinya sebagai wakil presiden dan memiliki hubungan kuat dengan PSI.
Sementara AHY memiliki partai politik yang dinilainya memungkinkan untuk mencalonkan diri. Karena itu, simulasi tiga nama tersebut dianggap cukup realistis untuk mengukur kekuatan Prabowo jika Dedi tidak ikut bersaing.
Hasilnya, Gibran memperoleh elektabilitas 29,7 persen, disusul AHY 28,2 persen, dan Prabowo 22,7 persen. Sementara responden yang belum menentukan pilihan mencapai 19,4 persen.
“Elektabilitas Prabowo tidak berubah menjadi sangat kuat ketika Dedi Mulyadi tidak ikut bersaing. Suara Dedi ternyata lebih banyak ditarik Gibran dan AHY dibanding Prabowo. Dukungan kepada Prabowo sebagai petahana sangat lemah. Jika pemilihan presiden diadakan sekarang, dia bisa dikalahkan oleh calon-calon lain dan yang maju ke putaran kedua kemungkinan adalah AHY dan Gibran,” jelas Deni.
4. Metode survei SMRC

Survei SMRC terhadap elektabilitas Prabowo Subianto setelah dua tahun pemerintahannya. (Dok. SMRC) Survei nasional ini diupdate terakhir pada 1-10 Oktober 2026, untuk melihat seberapa besar efek dari penurunan elektabilitas Presiden Prabowo Subianto sebagai petahana bila ia kembali menjadi calon presiden, dan kalau pemilihan presiden dilakukan saat survei.
Survei ini merupakan lanjutan setelah SMRC merilis evaluasi publik atas kepuasan kinerja Presiden Prabowo, atas kondisi ekonomi-politik, masalah mendesak, dan program khusus presiden, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Dilaporkan bahwa evaluasi publik nasional tersebut semuanya negatif, atau menunjukan perubahan negatif dalam tahun kedua pemerintahan Prabowo.
Populasi survei ini adalah seluruh warga negara Indonesia yang punya hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang sudah berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan.
Populasi dibagi menjadi dua kelompok (subpopulasi), yaitu, pertama warga negara Indonesia yang punya hak pilih atau berusia 17 tahun atau lebih atau sudah menikah, dan memiliki handphone (HP). Kedua, warga negara Indonesia yang punya hak pilih atau berusia 17 tahun atau lebih atau sudah menikah dan tidak memiliki HP.
Di masing-masing subpopulasi, sampel dipilih secara random, yakni pertama pada subpopulasi pemilik HP, sampel 1.013 orang dipilih secara acak dengan metode double sampling dan responden diwawancara lewat telepon.
Kedua, pada subpopulasi yang tidak punya HP, sampel 200 orang dipilih secara acak dengan metode stratified multistage random sampling dan responden diwawancara secara tatap muka. Ketiga, total sampel yang diwawancara 1.213 responden.
Sementara, margin of error atau tingkat kesalahan survei ini diperkirakan +/-2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, asumsi simple random sampling.


















