Guru Nenah di kelas VII, Nurlaila (jilbab biru) berbincang dengan Nenah di SRMP 10 Bogor. (IDN Times/Dini Suciatiningrum)
Saat murid lain berlomba memahami rumus dan bacaan, sisi lain Nenah masih berjuang menaklukkan satu paragraf. Namun di Sekolah Rakyat, satu paragraf baginya merupakan perjuangan Nenah selama satu tahun.
Fitri menceritakan, Sekolah Rakyat 10 Bogor sebenarnya nyaris memulai tahun ajaran tanpa Nenah. Fitri mengatakan, pada 14 Juli 2025, hari pertama sekolah, kuota 100 murid yang ditargetkan belum terpenuhi. Dari seluruh calon siswa, hanya 97 yang melakukan daftar ulang. Pihak sekolah pun kembali mencari tiga murid tambahan untuk melengkapi kuota.
"Ketika 14 Juli itu hari pertama sekolah di SR, harusnya 100 murid kami, tapi yang daftar ulang cuma 97. Akhirnya dicari lah murid baru, dilengkapi. Nah, dia itu datang kurang lebih seminggu setelah 14 Juli. Seminggu diantar ada tiga orang, yang satu laki-laki, dua perempuan," ucap Fitri.
Fitri mengatakan, memang sekilas kedatangan Nenah tampak seperti upaya memenuhi satu kursi yang masih kosong. Namun tak ada yang menyangka, murid terakhir yang datang itu justru menjadi salah satu anak dengan kebutuhan pendampingan paling besar.
Saat itu, kondisi Nenah belum sepenuhnya terinformasikan kepada pihak sekolah. Ia datang dengan ijazah sekolah dasar seperti murid lainnya. Secara fisik pun, gadis berusia 13 tahun itu tampak seperti remaja seusianya.
"Yang satu orang ini (Nenah) disabilitas intelektual. Awalnya tidak terinfokan ke kami karena melihat pendamping PKH dan orang tuanya ke sini. Memang saya waktu itu nggak ketemu, karena pas lagi masih banyak tamu, pejabat-pejabat yang datang. Jadi yang menerima pegawai sentra sama wali asuh yang disini, sama guru," katanya.
Hari-hari pertama Nenah di SRMP 10 Bogor menjadi momen ketika para guru mulai menyadari bahwa gadis 13 tahun itu membutuhkan pendampingan yang jauh berbeda dari murid lain. Saat itu muncul tanda yang membuat guru terkejut.
"Hari kedua atau ketiga dia disini, ada sebuah case yang dia tuh pup sembarangan gitu ya. Kita tuh tegur gini, kenapa nggak di kloset pupnya, tapi itu pegang pupnya pakai tangan, dipegang, dibuang ke kloset gitu. Kita kan kaget, oh ada yang salah nih," ungkap Fitri.
Nenah belum memahami kebiasaan dasar yang bagi kebanyakan orang terasa otomatis, termasuk soal kebersihan diri dan penggunaan toilet. Dari situ, sekolah kemudian meminta asesmen psikolog. Hasilnya mengejutkan. Secara fisik, Nenah berusia 13 tahun. Namun usia mentalnya baru sekitar 4 tahun 4 bulan.
"Kami kemudian case conference apa yang harus kami lakukan gitu kan. Katanya harus dikasih pendampingan individu, belajarnya, iya dia belum bisa baca ya, terus akhirnya kami cobalah dampingi secara individu," katanya.