Korban Tewas Gempa M 7,4 Kolombia Bertambah Jadi 265

- Gempa magnitudo 7,4 di Kolombia menewaskan 265 orang, melukai lebih dari 3.500 orang, dan hampir 500 orang masih hilang saat operasi pencarian memasuki fase akhir.
- Tim penyelamat memaksimalkan 72 jam pertama dengan sensor getaran, anjing pelacak, dan pembatasan relawan agar tanda kehidupan di bawah reruntuhan lebih mudah terdeteksi.
- Lebih dari 11 ribu rumah hancur, memaksa ribuan keluarga mengungsi; pemerintah menjanjikan dana darurat serta menetapkan status darurat ekonomi untuk pemulihan.
Jakarta, IDN Times – Upaya pencarian dan penyelamatan korban gempa dahsyat di Kolombia memasuki fase terakhir. Pada Rabu (12/8/2026), jumlah korban tewas akibat gempa telah mencapai 265 orang, sementara lebih dari 3.500 orang lainnya terluka.
Dilaporkan oleh Al Jazeera, gempa bermagnitudo 7,4 yang terjadi pada Senin lalu menjadi gempa terkuat yang mengguncang Kolombia sepanjang abad ini. Otoritas setempat mencatat hampir 500 orang masih hilang. Gempa juga menghancurkan lebih dari 9.550 rumah di berbagai wilayah terdampak.
Pejabat pemadam kebakaran dari Bogotá, Camilo Cano, mengatakan operasi pencarian kini berlangsung lebih terorganisir setelah polisi membatasi jumlah relawan di lokasi. Menurutnya, kondisi tersebut membantu mengurangi kebisingan dan getaran sehingga sensor dapat lebih mudah mendeteksi pergerakan di bawah reruntuhan.
1. Tim penyelamat berpacu dengan waktu mencari korban selamat

Operasi penyelamatan korban di reruntuhan gempa (U.S. Marines 24MEU by Cpl. Daniel Garcia, Public domain, via Wikimedia Commons) Tim penyelamat pada Rabu mendekati batas 72 jam sejak gempa terjadi. Periode tersebut dianggap sebagai waktu ketika peluang untuk menemukan korban yang masih hidup di bawah reruntuhan bangunan paling besar.
Di Pereira, tim penyelamat berfokus pada sebuah toko roti yang runtuh. Mereka meyakini seorang pedagang kaki lima bernama Pablo Loaiza masih hidup dan terjebak di bawah reruntuhan sejak gempa terjadi pada Senin, dilansir The Japan Times.
Petugas menggunakan peralatan pendeteksi getaran dan menemukan kemungkinan tanda-tanda kehidupan di bawah puing. Kerabat Loaiza mengatakan pria tersebut tampak merespons ketika penyelamat memintanya mengetuk dari bawah reruntuhan. Respons tersebut disambut dengan tepuk tangan keluarga Loaiza yang berkumpul di luar lokasi bangunan yang runtuh.
2. Warga Kolombia saling memberikan bantuan di lokasi bencana

ilustrasi bendera Kolombia (unsplash.com/Flavia Carpio) Masyarakat Kolombia turut bergerak membantu warga yang terdampak gempa dengan membawa air, makanan, dan berbagai kebutuhan ke wilayah terdampak. Antrean panjang juga terlihat di sejumlah pusat donor darah karena warga berupaya membantu para korban yang membutuhkan perawatan.
Di Cali, tim penyelamat bersiap menjalani malam ketiga operasi pencarian. Mereka menggunakan tangan kosong, derek, dan anjing pelacak untuk mencari korban di antara reruntuhan. Petugas terus bekerja dan berhenti bukan untuk beristirahat, melainkan untuk mendengarkan kemungkinan tanda-tanda kehidupan dari bawah puing.
Di kompleks Torres del Limonar di bagian selatan Cali, warga membentuk barisan estafet untuk memindahkan puing. Tentara, pegawai kantor wali kota, dan warga lainnya mengoper reruntuhan dari bagian atas tumpukan puing.
Relawan penyelamat, Johana Sanchez, mengatakan para petugas meminta semua orang di lokasi untuk diam setiap 30 menit guna mendeteksi keberadaan korban. Menurutnya, sejauh ini tiga orang berhasil dikeluarkan dalam kondisi hidup, sementara tiga lainnya ditemukan tewas, mengutip ABC News.
3. Warga menyisir reruntuhan untuk mencari sisa barang yang bisa diselamatkan

ilustrasi bendera Kolombia (unsplash.com/ David Restrepo) Di kawasan Providencia, Pereira, warga mulai mengambil perabotan dan berbagai barang rumah tangga dari bangunan yang rusak akibat gempa. Salah satunya adalah pengacara Ana Paulina Crosthwaite, yang apartemennya dinyatakan tidak aman untuk ditempati setelah gempa.
Di Roldanillo, warga bernama Yuliana Mendez juga menyisir reruntuhan toko produk kecantikan tempatnya bekerja. Toko tersebut menjadi salah satu dari banyak tempat usaha yang mengalami kerusakan akibat bencana.
Data resmi mencatat lebih dari 11 ribu rumah telah hancur akibat gempa. Ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal dan sebagian terpaksa menghabiskan beberapa malam berturut-turut di luar rumah. Sebagian warga memilih tidur di luar karena tempat tinggal mereka mengalami kerusakan. Sebagian lainnya khawatir terhadap kemungkinan gempa susulan.
Presiden Kolombia, Abelardo de La Espriella, berjanji membentuk dana darurat untuk membantu pembangunan kembali rumah sakit, sekolah, rumah, dan infrastruktur yang hancur akibat gempa. Dia juga menetapkan status darurat ekonomi untuk menangani kerusakan akibat bencana tersebut, meski belum menjelaskan secara rinci langkah apa yang akan diambil pemerintah.



















