Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Menakar Ambisi Memiliki Kapal Induk KRI Sriwijaya: Kebutuhan atau Gengsi?

10 min read
Menakar Ambisi Memiliki Kapal Induk KRI Sriwijaya: Kebutuhan atau Gengsi?
Kapal Giuseppe Garibaldi ketika tiba di Dermaga 107 Tanjung Priok, Jakarta Utara. (IDN Times/Santi Dewi)
  • Kapal induk hibah Italia ITS Giuseppe Garibaldi tiba di Jakarta pada September 2026, berganti nama menjadi KRI Sriwijaya-100, dan diproyeksikan digunakan TNI AL hingga 15–20 tahun.

  • KRI Sriwijaya-100 akan menjalani retrofit senilai sekitar Rp7,5 triliun untuk kebutuhan tropis, medis, dan OMSP; proses modifikasi serta pelatihan awak diperkirakan membuatnya siap operasi pada Oktober 2027.

  • Sejumlah pengamat menyoroti tingginya biaya bahan bakar dan operasional kapal, serta mempertanyakan relevansinya bagi Indonesia karena jet tempur TNI tidak dapat mendarat di geladaknya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Setelah dinanti hampir satu bulan berlayar, kapal dengan bobot nyaris 14 ribu ton itu akhirnya tiba di dermaga 107, Tanjung Priok, Jakarta Utara pada Jumat, 19 September 2026. Kala itu, Kapal ITS Giuseppe Garibaldi masih mengibarkan bendera Italia dan mengangkut 300 kru dari Negeri Pizza tersebut. Lima pesawat udara jenis Bonanza milik TNI Angkatan Laut (AL) terlihat mengawal kapal tersebut.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Muhammad Ali terlihat semringah, karena TNI AL akan memiliki kapal induk pertama di Indonesia. Meskipun kapal itu merupakan hibah dari Pemerintah Italia dan telah berusia 41 tahun. Angkatan Laut Italia pun sudah tak lagi menggunakan kapal tersebut sejak 2024.

Namun, Ali menyebut, kapal tersebut masih dalam kondisi baik untuk bisa dioperasikan dalam berbagai misi. "Anda bisa melihat sendiri kondisinya (kapal Garibaldi), masih sangat baik sekali. Mudah-mudahan nanti bisa bertahan digunakan oleh TNI AL 15 hingga 20 tahun mendatang," ungkap Ali di Tanjung Priok, beberapa waktu lalu.

Satu minggu setelah ketibaan kapal induk tersebut, dilakukan seremoni pergantian bendera dan penamaan kapal. Bendera Italia diturunkan dan kapal bersalin nama menjadi KRI Sriwijaya-100.

Seremoni dilakukan di atas geladak kapal yang juga diikuti Chief of Staff Italian Navy Laksamana Giuseppe Berutti Bergotto. Dari tampak luar, KRI Sriwijaya-100 terlihat lebih baru lantaran telah dilakukan pengecatan di bagian luar badan.

Ali menjelaskan pemilihan nama Sriwijaya untuk kapal induk pertama Indonesia ini bukan sekadar keputusan administratif. Ada filosofi khusus di balik penggunaan nama tersebut. Nama itu dipilih karena Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan maritim tertua dan besar dalam sejarah Nusantara.

"Jadi, tadi di dalam upacara sebenarnya dibacakan kenapa dinamakan KRI Sriwijaya. KRI Sriwijaya ini merujuk ke kerajaan maritim Indonesia yang tertua. Sriwijaya lebih tua dari Majapahit. Makanya dipilih itu," kata dia.

Menurut Ali, Sriwijaya memiliki rekam jejak sebagai kekuatan maritim yang membawa kejayaan Nusantara pada masa lalu. Karena itu, penggunaan nama tersebut diharapkan dapat menjadi simbol untuk menghidupkan kembali kejayaan maritim Indonesia.

  1. 1. Perjalanan menegangkan lewat rute di Timur Tengah

    Menakar Ambisi Memiliki Kapal Induk: Kebutuhan Pertahanan atau Gengsi?
    Profil Kolonel Laut (P) Fuad Hasan yang menjadi komandan KRI Sriwijaya-100. (IDN Times/Sukma Shakti)

    Sementara, pada seremoni pergantian bendera Kapal Garibaldi pada Kamis, 24 September 2026, komandan kapal baru dikukuhkan. Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengukuhkan Kolonel Fuad Hasan sebagai komandan KRI Sriwijaya-100. Pengukuhan Fuad sebagai komandan kapal tertuang dalam surat keputusan KSAL Nomor Kep 1988 IX/2026 tanggal 23 September 2026.

    "Selamat bertugas. Kibarkan sang Merah Putih dengan penuh kebanggaan, serta junjung tinggi kehormatan TNI dan Bangsa Indonesia," ungkap Agus ketika menyampaikan pidato di Dermaga 107, Tanjung Priok, Jakarta, Kamis, 24 September 2026.

    Ketika berbincang dengan media, Fuad mengaku sangat bangga lantaran dipercaya menjadi komandan kapal induk pertama di Tanah Air. Butuh waktu 25 hari mengarungi lautan dari Tarantano, Italia menuju ke Indonesia.

    "Saya merasa sangat bersyukur, saya bersama kru berjumlah sekitar 100 orang, kami merupakan gelombang pertama, bisa membawa kapal ini dengan aman dan selamat. Kami turut didampingi 300 kru dari Italia," ungkap Fuad di Tanjung Priok, pada Jumat, 18 September 2026.

    Fuad menjelaskan ketika mengarungi samudera selama nyaris satu bulan, misi tersebut masih melibatkan personel AL Italia. "Jadi, kami namakan joint crew. Itu sebabnya dibuat semacam emblem yang dipakai di seragam kami dan topi," tutur dia.

    Fuad bersama timnya menempuh rute Taranto, Italia lalu Terusan Suez, Laut Merah, Pelabuhan Jeddah di Arab Saudi, Kolombo di Sri Lanka, hingga melewati Selat Malaka. Sejak awal kapal tersebut tidak menempuh rute menuju ke Selat Sunda, salah satu penyebabnya karena adanya erupsi Gunung Anak Krakatau.

    Ia tak menampik momen mendebarkan terjadi ketika melewati perairan Timur Tengah. Ada tiga perairan yang keamanannya rentan yakni Laut Merah, Teluk Aden dan Selat Bab al-Mandab.

    Ketika Garibaldi melintas, dikawal kapal fregat berbendera Italia, ITS Carlo Bergamini. "Pada saat itu kapal Garibaldi dikawal ITS Carlo Bergamini. Di perairan tersebut ada operasi EUNAVFOR (European Union Naval Force) Aspides. Itu merupakan angkatan bersenjata gabungan dari Eropa. Aspides operation melaksanakan pengawalan kapal-kapal merchant ship yang dimiliki negara-negara Eropa ketika melintasi perairan di tiga laut itu."

  2. 2. Sebanyak 40 personel TNI AL perempuan ikut menjadi kru KRI Sriwijaya-100

    Menakar Ambisi Memiliki Kapal Induk: Kebutuhan Pertahanan atau Gengsi?
    Profil kapal induk KRI Sriwijaya-100 (part 1). (IDN Times/Sukma Shakti)
    KRI Sriwijaya-100, Kapal Garibaldi
    Profil kapal induk KRI Sriwijaya-100 (part 2). (IDN Times/Sukma Shakti)

    Fuad menjelaskan pelatihan perdana tidak langsung dimulai di Italia, melainkan di Koarmada II, Surabaya. Pelatihan di sana memakan waktu selama satu bulan sebelum misi ini dimulai.

    "Kami berangkat ke Taranto, Italia. Di sana, kami melakukan familiarisasi satu bulan lagi. Kami berlayar sekitar kurang lebih 25 hari," ujar Fuad.

    Usai diganti nama menjadi KRI Sriwijaya, Fuad bersama timnya siap mengemban misi apapun.

    "Misi apapun saya siap. Mission first, saftey first. Tugas apapun yang diberikan kepada kami, tujuan kami adalah menyukseskan misi. Tetapi keselamatan tetap merupakan faktor utama," tutur dia.

    Di saat Garibaldi belum tiba di Jakarta, sebanyak 300 personel TNI AL mengikuti pelatihan di Koarmada I, Jakarta. Materi pelatihan yang diberikan sama seperti yang diterima Fuad bersama timnya di Italia.

    "Ratusan personel TNI AL gelombang kedua ini akan bergabung setelah peresmian. Total kru kami mencapai 400 orang setelah peresmian, di dalamnya ada 40 orang prajurit TNI AL wanita," katanya.

  3. 3. Kemhan anggarkan Rp7,5 triliun untuk biaya modifikasi kapal induk Garibaldi

    Menakar Ambisi Memiliki Kapal Induk: Kebutuhan Pertahanan atau Gengsi?
    Kepala Biro Informasi Pertahanan, Brigjen TNI Rico Sirait ketika berada di Sulawesi Utara. (Dokumentasi Kementerian Pertahanan)

    Sementara, Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Sirait mengatakan kapal induk Garibaldi akan dimodifikasi lebih dulu agar sesuai kebutuhan TNI Angkatan Laut. Proses tersebut dinamakan retrofit.

    Ketika IDN Times tanyakan anggaran yang dikeluarkan untuk retrofit, Rico menyebut, dana yang dikeluarkan mencapai Rp7,5 triliun.

    "Mengenai anggaran retrofit dan pemeliharaan kapal, saat ini Kemhan masih melakukan penghitungan secara komprehensif yang mengacu pada lingkup kerja yang dibutuhkan. Biaya yang diperkirakan mencapai sekitar Rp7,5 triliun," ujar Rico melalui pesan pendek, Selasa, 22 September 2026.

    Jenderal bintang satu itu juga menjelaskan beberapa hal yang perlu dimodifikasi di Kapal Garibaldi, mulai dari fasilitas pendukung, peningkatan kapabilitas pelayanan medis, penyesuaian sistem pengkondisian udara (AC) untuk operasional wilayah tropis hingga pemenuhan sarana prasarana pendukung operasional serta perawatannya secara berkelanjutan.

    "Langkah modifikasi ini difokuskan agar kapal memiliki kesiapan teknis yang optimal, khususnya dalam mendukung Operasi Militer Selain Perang (OMSP) seperti penanggulangan bencana alam, bantuan kemanusiaan, hingga dukungan logistik dan pangkalan udara terapung untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla)," katanya.

    Sementara, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengatakan proses retrofit dilakukan oleh PT PAL yang menggandeng Fincantieri. Bahkan, TNI juga tidak menutup kemungkinan turut menggandeng Leonardo.

    "Juga ada dari perusahaan lain asal Italia untuk equipment-nya," kata Ali.

    Ketika ditanyakan apakah kapal tersebut bisa langsung dikerahkan untuk membantu operasi pemadaman karhutla, Ali menyebut kapal hibah itu dapat langsung diterjunkan.

    "Kita lihat situasi lah. Pokoknya apabila dibutuhkan, akan bisa digunakan untuk kepentingan tadi itu OMSP," imbuhnya.

  4. 4. Proses modifikasi kapal Garibaldi memakan waktu 6 bulan hingga 1 tahun

    Menakar Ambisi Memiliki Kapal Induk: Kebutuhan Pertahanan atau Gengsi?
    Alman Helvas Ali, konsultan Marapi Consulting and Advisory. (Dokumentasi Istimewa)

    Sementara, Presiden Prabowo Subianto pernah mengatakan kapal induk KRI Sriwijaya-100 akan dikerahkan untuk ikut menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Prabowo menyebut helikopter bisa dikerahkan lebih banyak untuk memadamkan api lantaran KRI Sriwijaya-100 sanggup menampung hingga 14 helikopter.

    Tetapi, dalam pandangan konsultan Marapi Consulting and Advisory, Alman Helvas Ali, misi itu berisiko dilakukan bagi kapal yang tidak dimodifikasi atau menjalani refurbish lebih dulu. Pemanfaatan kapal tidak akan bisa digunakan secara optimal hingga 20 tahun mendatang.

    "Kalau sekarang mau dipakai juga (untuk misa pemadaman karhutla). Tapi, mungkin satu lagi kapal itu rusak. Di situ letak peran penting refurbish," ujar Alman ketika dihubungi IDN Times melalui telepon pada Selasa, 29 September 2026.

    Ia mengatakan pemerintah sudah memiliki dana untuk proses modifikasi lantaran telah disetujui oleh Menteri Keuangan sebelumnya, Purbaya Yudhi Sadewa senilai 450 juta dolar AS atau sekitar Rp8 triliun. Pembiayaan modifikasi itu, kata Alman, menggunakan utang.

    Ia pun sepakat dalam proses modifikasi, PT PAL perlu melibatkan galangan kapal Fincantieri. Sebab, kapal induk Garibaldi buatan mereka, sehingga permasalahan terkait teknis diketahui dengan seksama oleh Fincantieri.

    Di saat yang bersamaan, kata Alman, TNI AL juga perlu untuk menyiapkan lebih banyak awak kapal. Sebab, KRI Sriwijaya akan diawaki oleh 400 prajurit TNI AL.

    "Awak kapalnya ini ada yang untuk mengurusi kapal dan kedua adalah awak udara yang mengurus operasi udara. Misalnya, bagaimana mereka bisa mendaratkan helikopter di geladak kapal, bagaimana mengatur posisi helikopter di geladak. Ini mau gak mau harus belajar bersama Italia. Mereka perlu dilatih lebih dulu dan paling tidak dibutuhkan waktu minimal satu tahun untuk bisa melatihnya," tutur dia.

    Artinya, KRI Sriwijaya-100 baru siap beroperasi dan mengemban misi pada Oktober 2027.

  5. 5. Pemerintah harus tingkatkan anggaran belanja BBM untuk TNI AL

    Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi dari Italia resmi berganti nama menjadi KRI Sriwijaya. (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
    Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi dari Italia resmi berganti nama menjadi KRI Sriwijaya. (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

    Alman juga menyarankan agar anggaran untuk belanja BBM Pertamax ditambah pada TNI Angkatan Laut (AL). Ia mengakui dalam operasionalnya, KRI Sriwijaya-100 membutuhkan BBM dalam jumlah besar.

    Berdasarkan keterangan dari mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, Soleman B. Ponto, mesin seperti yang digunakan KRI Sriwijaya-100, setidaknya membutuhkan 72 ribu liter BBM per jamnya. Informasi ini ia peroleh berdasarkan pengalamannya menjadi kepala kamar mesin untuk dua kapal perang. Idealnya, selama bersandar pun mesin KRI Sriwijaya-100 tak boleh mati.

    Dengan fakta itu, Alman mengatakan, agar operasional kapal perang lain tidak terpengaruh dengan keberadaan kapal induk, maka Kementerian Pertahanan harus menambah anggaran belanja untuk pembelian BBM.

    "Kekhawatiran bahwa keberadaan kapal induk akan memengaruhi operasional kapal perang lainnya itu logis. Itu sebabnya setiap ada penambahan aset harus diikuti dengan kenaikan biaya belanja BBM. Selama ini yang terjadi, jumlah aset terus bertambah tapi biaya BBM tidak mengalami kenaikan," kata Alman.

    Ia juga menyarankan agar pangkalan Teluk Ratai di Lampung juga punya gardu listrik di darat dari PLN. Tujuannya, selama kapal bersandar atau tidak berlayar, operasional kapal tidak terganggu karena ada aliran listrik dari gardu tersebut. Usai tiba di Indonesia, KRI Sriwijaya-100 bakal ditempatkan di pangkalan Teluk Ratai, Lampung.

    "Dengan menggunakan aliran listrik dari PLN selama bersandar di darat, maka bisa lebih menghembat biaya," tutur dia.

  6. 6. Biaya operasional kapal hibah dari Italia dinilai terlalu mahal

    Menakar Ambisi Memiliki Kapal Induk: Kebutuhan Pertahanan atau Gengsi?
    Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) periode 2011-2013, Soleman B. Ponto ketika berbincang di program 'Ngobrol Seru' by IDN Times. (Tangkapan layar YouTube IDN Times)

    Sementara, mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, Soleman B. Ponto, mengkritisi kebijakan pemerintah yang bersedia menerima hibah kapal induk Garibaldi. Menurutnya meskipun diterima secara gratis, namun biaya operasional dan modifikasinya sangat mahal.

    Pandangan tersebut, ia peroleh berdasarkan pengalamannya menjadi kepala kapal kamar mesin untuk dua kapal perang yakni KRI Badik dan KRI Keris. Ponto memperkirakan per jam kebutuhan BBM untuk KRI Sriwijaya-100 mencapai 72 ribu liter. Ia pun mewanti-wanti dengan penggunaan mesin dari kapal buatan Eropa, maka BBM yang harus dipakai memiliki kualitas terbaik. Artinya, KRI Srwijaya-100 harus dipasok Pertamax.

    Bila dikalikan dengan harga BBM Pertamax saat ini, maka operasional satu hari kapal induk itu bisa menelan biaya miliaran rupiah. Sementara, mesin kapal induk tidak boleh dibiarkan dalam keadaan mati, termasuk saat bersandar di dermaga.

    "Dalam sebulan, operasional kapal induk saja sudah bisa dapat kapal baru," ujar Ponto ketika dihubungi IDN Times melalui telepon, Senin, 28 September 2026.

    "Lebih baik kapal itu dibesi tuakan, lalu uangnya untuk buat kapal fregat baru," katanya.

    Ponto juga menilai kapal induk tidak sesuai digunakan untuk negara kepulauan seperti Indonesia. Kapal induk lebih sesuai berlayar di laut lepas.

    "Tidak perlu negara kepulauan ada kapal induk. Cukup pesawat-pesawat ditaruh saja di pulau-pulau itu. Negara lain punya kapal induk, karena pesawat itu tidak bisa terbang jauh. Itu sebabnya Amerika Serikat (AS) punya itu (kapal induk). Supaya pesawatnya bisa dibawa terbang ke mana-mana," katanya.

    Sementara, jet tempur yang milik Indonesia tidak bisa mendarat di kapal induk KRI Sriwijaya-100. Hanya jet tempur yang memiliki teknologi mampu mendarat secara vertikal yang mampu mendarat di KRI Sriwijaya-100. Selain itu, alutsista lain yang dapat mendarat di sana adalah helikopter.

    "Jadi, untuk apa punya kapal induk ini? Dari dulu kan doktrin kita (TNI AL) yang dijadikan kapal induk ya pulau-pulau itu. Sekarang, kapal induk itu kan untuk bawa pesawat. Lho, kita punya pulau segitu banyak, sudah ditaruh saja pesawatnya di Papua, Ambon, Makassar, Pekanbaru atau Jakarta," katanya.

    Ketika ditanya mengapa pemerintah bersedia menerima kapal induk yang dihibahkan dari Italia itu, Ponto tegas menyebut lantaran dikira gratis.

    "Karena dikira (kapal induk ini) gratis, diberikan hibah gratis. Padahal, membakar uang lebih banyak," imbuhnya.

Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More