Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengenal Kampung Warna-Warni Katulampa, Inovasi Warga yang Mendatangkan Cuan
Warna Warni tembok bangunan di kpung warna warni Katulampa Bogor. IDN Times/Linna Susanti
  • Kampung Warna-Warni di Katulampa, Bogor, dibangun dan dikelola mandiri oleh warga RT 04/RW 09 sejak 2017, dengan rumah bercat cerah serta wisata sungai.
  • Wahana Ngalun menjadi daya tarik utama: pengunjung menyusuri anak Sungai Ciliwung menggunakan ban bekas sewaan Rp5.000 per jam, dan pernah mengantarkan kampung meraih Juara 3 tingkat Jawa Barat.
  • Penataan mural dan warna rumah dibiayai patungan warga tanpa anggaran pemerintah; kekompakan pengelolaan kampung juga menarik 150 mahasiswa penerima beasiswa luar negeri untuk studi liputan pada 2020.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Warga Katulampa di Bogor membuat Kampung Warna-Warni sejak 2017. Rumah-rumah mereka dicat cerah dengan uang patungan warga. Mereka juga punya wisata susur sungai pakai ban bekas. Banyak orang datang saat akhir pekan. Kampung ini pernah menang juara tiga di Jawa Barat. Sekarang warga masih mengurusnya bersama-sama.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kampung Warna-Warni Katulampa memperlihatkan bagaimana inisiatif sederhana warga dapat membentuk ruang yang hidup dan berkarakter. Lewat patungan, mural, serta Wahana Ngalun berbahan ban bekas, warga menciptakan pengalaman terjangkau yang menarik pengunjung sekaligus menumbuhkan kebanggaan bersama. Kekompakan pengelolaan mereka juga menjadikan kampung ini bahan pembelajaran bagi mahasiswa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bogor, IDN Times – Di tepi aliran anak sungai Ciliwung Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, terdapat sebuah permukiman unik yang biasa disebut Kampung Warna-Warni.

Tokoh lokal sekaligus koordinator kegiatan warga setempat, Nur Hadi Al Atas mengatakan, tempat ini dikenal lewat deretan rumah berhias cat warna-warni dan objek wisata sungai yang dikelola secara swadaya oleh warga RT 04/RW 09 sejak tahun 2017.

​"Kampung Warna-Warni ini berdiri sejak tahun 2017, dipelopori oleh warga sendiri. Jadi murni dari warga dan untuk warga," ujar Nur Hadi, Senin (17/8/2026).

1. Kampung Wisata yang Pelopori 'Wahana Ngalun'

Aktivitas berwisata di anak sungai Ciliwung katulampa Bogor. IDN Times/Linna Susnati

Salah satu magnet utama di kampung ini adalah tempat wisata susur sungai atau 'Wahana Ngalun'. Berbeda dengan wisata arung jeram yang menggunakan perahu karet, warga memanfaatkan ban bekas berbayar sewa Rp5.000 per jam.

Inovasi ini rutin menyedot pengunjung dari berbagai daerah seperti Depok, Bekasi, Tangerang, hingga Jakarta pada akhir pekan, bahkan sempat membawa kampung ini meraih juara 3 lomba tingkat Provinsi Jawa Barat.

​"Kalau di tempat lain orang mungkin susur sungai pakai perahu karet, kita di sini memanfaatkan ban bekas. Dulu di tahun 2017 itu sempat booming sekali," kenang Nur Hadi.

​2. Dibangun murni dari swadaya warga tanpa bantuan pemerintah

Gerbang utama menuju kampung warna warni katulampa Bogor. IDN Times/Linna Susanti

Daya tarik visual berupa mural dan cat warna-warni di setiap rumah lahir murni dari patungan masyarakat sekitar. Nur Hadi mengungkapkan, penataan kawasan ini dilakukan secara mandiri tanpa bergantung pada bantuan anggaran dari pemerintah daerah.

​"Semua biaya murni swadaya warga. Dulu Wali Kota sebelumnya (Bima Arya) sempat datang dan meriset langsung. Beliau sampai bingung melihat hasilnya. Tapi kita tidak berharap banyak ke pemerintah. Lebih baik kita mandiri, enaknya kita bisa berdiri sendiri dan punya kebanggaan tersendiri," tegasnya.

​3. Jadi lokasi studi liputan 150 mahasiswa berprestasi nasional

Jembatan menuju kampung warna warni katulampa Bogor. IDN Times/Linna Susanti

Kemandirian dan kekompakan warga RT 04/RW 09 Katulampa dalam mengelola lingkungannya pernah menarik perhatian nasional. Pada tahun 2020, sekitar 150 mahasiswa penerima beasiswa luar negeri dari berbagai wilayah Indonesia diterjunkan khusus selama sepekan untuk meliput dan membuat program di kampung ini.

​Nur Hadi menyebut, kepemimpinan yang ringkas di tingkat RT dan RW menjadi kunci bergeraknya warga.

"Kalau mau mengadakan kegiatan atau membangun sesuatu, cukup kumpul empat atau lima orang saja, langsung jadi. Tidak usah menunggu birokrasi yang panjang," pungkasnya.

Editorial Team

Related Article