Menkes Minta Warga Adaptasi dengan Asap Karhutla, Stay di Rumah

Menkes Budi Gunadi Sadikin meminta warga mengurangi aktivitas luar ruangan dan tetap di rumah selama asap karhutla terjadi, kecuali ada kebutuhan mendesak.
Asap karhutla berisiko besar bagi kelompok rentan, terutama lansia, balita, dan ibu hamil, serta dapat mengganggu saluran pernapasan, mata, dan kulit.
Warga yang terpaksa keluar diminta memakai masker, dengan N95 bila tersedia, serta kacamata untuk mengurangi paparan asap pada pernapasan dan mata.
Jakarta, IDN Times - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat beradaptasi dengan kondisi asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan mengurangi aktivitas di luar rumah.
“Yang saya sampaikan selalu adalah bahwa nomor satu, kalau bisa stay di rumah. Kalau sudah kondisinya seperti itu, kita tahu alamnya sudah seperti ini, kita sebagai manusia harus segera beradaptasi dan usahakan stay di rumah. Jangan keluar kecuali benar-benar perlu,” kata Budi di Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta Pusat, Kamis (15/10/2026).
1. Asap karhutla berdampak pada kelompok rentan

Pemerintah Perkuat Penanganan Karhutla di Kalimantan. (Dok. Bakom RI) Budi mengatakan, asap karhutla akan berdampak khususnya kelompok rentan, meski Kementerian Kesehatan tidak bisa menghentikan asap namun dari sisi kesehatan mengimbau warga agar mengurangi paparan asap.
"Kita melihat bahwa bencana ini (karhutla) dampaknya cukup besar, terutama untuk kaum rentan. Kita melihatnya terutama orang tua, balita, dan juga ibu hamil. Kita di Kementerian Kesehatan, upaya kita memastikan agar orang-orang ini bisa tetap sehat atau kalau bisa jangan terlalu kena eksposur, dampak terlalu banyak. Karena Kementerian Kesehatan tidak bisa menghentikan asap," katanya
2. Paparan asap berdampak pada sejumlah bagian tubuh

Proses pemadaman api Karhutla di wilayah Ogan Ilir (Dok: Manggala Agni) Menurutnya, paparan asap dapat berdampak pada sejumlah bagian tubuh, mulai dari saluran pernapasan, mata, hingga kulit. Karena itu, masyarakat perlu melakukan perlindungan diri apabila terpaksa beraktivitas di luar rumah.
"Kalau kita harus keluar, yang harus dilindungi adalah asap itu jangan sampai masuk ke dalam paru. Jadi bisa lewat hidung atau mulut. Dan ada juga yang kedua, jangan sampai kena mata, karena beberapa juga bisa menyebabkan sakit mata dan kita sudah mulai lihat," katanya.
3. Gunakan masker jika ke luar ruangan rumah

Kabut asap semakin tebal akibat karhutla. (IDN Times/istimewa). Budi mengimbau masyarakat menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap saat berada di luar rumah. Jika tersedia, masyarakat disarankan menggunakan masker N95. Namun, jika tidak tersedia, masker lain yang dimiliki tetap dapat digunakan.
Selain melindungi saluran pernapasan, masyarakat juga diminta mengenakan kacamata untuk mengurangi paparan asap pada mata.
"Caranya bagaimana? Gunakan masker. Kalau ada yang masker N95, gunakannya N95. Kalau tidak ada, gunakan masker yang ada. Tapi selalu gunakan masker kalau terpaksa harus keluar rumah. Untuk melindungi mata, gunakan kacamata. Bisa kacamata hitam atau kacamata biasa, tapi gunakan juga kacamata," imbaunya





















