Jakarta, IDN Times - Menteri Bayangan mendesak pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengakui dampak buruk dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. Itu sebabnya mereka mendesak agar pemerintah menetapkan karhutla di sejumlah wilayah di Tanah Air sebagai bencana nasional. Dengan begitu bisa lebih banyak sumber daya yang dikerahkan untuk memadamkan api.
"Untuk area Kota Palangka Raya dari segi kualitas indeks udara sudah masuk kategori berbahaya. Begitu juga di Pontianak, Palembang dan OKI (Ogan Komering Ilir). Episentrumnya sekarang ada di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Sumsel yang mulai naik," ungkap Menteri Perlindungan Lingkungan dan Perubahan Iklim di Kabinet Bayangan, Iqbal Damanik ketika menggelar rapat virtual soal karhutla yang dikutip pada Rabu (28/10/2026).
Bahkan, ia mendapat laporan, akibat mengirup asap karhutla, seorang perempuan di Kalimantan mengalami keguguran. Iqbal mengutip pendapat dokter yang pernah menyebut asap karhutla meningkatkan risiko perempuan hamil mengalami keguguran.
Belum lagi data dari Kementerian Kesehatan per 21 Oktober 2026 lalu menunjukkan 75.172 anak usia 0 hingga 5 tahun mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Sesungguhnya, kata Iqbal, risiko keguguran itu sudah bisa diprediksi lantaran sudah ada ahli kesehatan yang menyatakan demikian sebelum karhutla terjadi.
Ia pun berharap pemerintahan Prabowo berhenti menyangkal dengan menyebar narasi sebagian besar kualitas udara di Indonesia lebih baik.
"Ya, iya karena kan kebakarannya hanya terjadi di beberapa provinsi saja. Tapi, jangan dipandang seperti itu. Kan harusnya cara memandangnya ada korban di empat provinsi. Bahkan, Kementerian Kesehatan sudah mengatakan dampak asap karhutla berpengaruh ke jutaan orang," tutur dia.
"Jadi, seharusnya pemerintah berempati dan mengakui (peristiwa karhutla yang berlarut-larut)," imbuhnya.
