Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Fathimah Ungkap Disuruh Minta Izin ke Pemilik Wilayah Saat Mau ke Bundaran HI

3 min read
Fathimah Ungkap Disuruh Minta Izin ke Pemilik Wilayah Saat Mau ke Bundaran HI
Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI), Fatimah Azzahra dalam aksi demonstrasi pada Rabu (28/10/2026). (IDN Times/Cantika Lutfiah)
  • Wakil Ketua BEM UI Fatimah Azzahra mengaku dihadang orang berbaju putih dan anggota TNI saat menuju Bundaran HI pada aksi 28 Oktober 2026.

  • Fatimah mempertanyakan klaim bahwa peserta harus meminta izin kepada TNI untuk memasuki Bundaran HI, yang menurutnya merupakan ruang sipil dan simbol perjuangan hak masyarakat.

  • Dalam orasinya, Fatimah menekankan masyarakat perlu bersatu dan turun menyuarakan aspirasi demi memperjuangkan hak serta masa depan generasi muda.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI), Fathimah Azzahra mengaku diadang sejumlah orang berbaju putih dan anggota TNI saat hendak menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, dalam aksi demonstrasi pada Rabu (28/10/2026). Ia mengungkapkan, orang-orang tersebut mengatakan dirinya harus meminta izin kepada pemilik wilayah untuk bisa masuk ke kawasan itu.

Fathimah menyampaikan pengalaman tersebut saat berorasi di tengah aksi yang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Ia mempertanyakan pihak yang disebut sebagai pemilik wilayah Bundaran HI.

“Ketika saya diadang, mereka mengatakan bahwa saya kalau mau ke sini harus izin sama yang punya wilayah, katanya,” ujar Fatimah.

  1. 1. Pertanyakan siapa pemilik wilayah Bundaran HI

    Suasana aksi demo 28 Oktober di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Rabu (28/10/2026).
    Suasana aksi demo 28 Oktober di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Rabu (28/10/2026). (IDN Times/Cantika Lutfiah)

    Fathimah mengaku bingung dengan pernyataan yang diterimanya. Ia mengatakan, orang yang mengadangnya menyebut TNI sebagai pihak yang harus dimintai izin untuk memasuki kawasan Bundaran HI.

    Fathimah pun mempertanyakan sejak kapan Bundaran HI menjadi wilayah milik TNI. Menurut dia, TNI dan Polri seharusnya bertugas menjaga hak masyarakat, bukan mengambil alih ruang sipil.

    “Tentu saya langsung bingung, teman-teman. Sejak kapan Bundaran HI milik TNI? Apakah sejak Presiden kita dari militer?” kata dia.

    Menurutnya, tindakan tersebut semakin membuktkan bahwa apa yang selalu masyarakat tuntut, dapat dilanggar kapan pun, termasuk pada saat masyarakat sedang menyuarakan aspirasinya.

    “Tidak perlu menunggu kita selesai, tidak perlu menunggu kita pulang. Pada saat kita baru sampai pun mereka sudah terang-terangan menunjukkan bahwa mereka tidak ingin mengindahkan apa yang menjadi tuntutan kita,” tegas Fathimah.

  2. 2. Bundaran HI sebagai simbol perjuangan masyarakat

    Suasana aksi demo 28 Oktober di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Rabu (28/10/2026). (IDN Times/Cantika Lutfiah)
    Suasana aksi demo 28 Oktober di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Rabu (28/10/2026). (IDN Times/Cantika Lutfiah)

    Fathimah mengatakan bahwa dirinya menyadari Bundaran HI merupakan simbol perjuangan masyarakat untuk mendapatkan hak-haknya.

    “Bahwa Bundaran HI menjadi simbol, akankah masyarakat mampu mengambil apa yang menjadi haknya setelah itu dicuri?” ujarnya.

    Dia juga menegaskan bahwa dengan berhasilnya masyarakat mencapai Bundaran HI untuk menyampaikan aspirasinya, tentu menjadi bentuk pencapaian yang awalnya terasa mustahil karena banyaknya persoalan di ruang sipil.

    “TNI dan Polri adalah perangkat yang seharusnya menjaga hal-hal yang milik kita, bukan mengambil alih. Dan di sini kita membuktikan bahwa apa yang milik kita pada akhirnya cepat atau lambat, sebesar paksaan mereka untuk menahannya, kita akan tetap bisa mengambilnya, teman-teman,” tegas Fatimah.

  3. 3. Aspirasi tidak akan didengar jika tidak turun menyuarakan

    demo 28 oktober
    Suasana aksi demo 28 Oktober di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Rabu (28/10/2026). (IDN Times/Cantika Lutfiah)

    Fathimah menyampaikan bahwa aksi hari ini menjadi peringatan bagi masyarakat Indonesia, bahwa aspirasi apapun tidak akan didengar apalagi diterima jika masyarakat tidak turun bersama-sama menyuarakan.

    “Hari ini harus menjadi peringatan, bahwa kita tidak akan pernah mendapatkan apa yang kita inginkan kalau kita tidak turun bersama-sama. Bahwa kita tidak akan pernah mendapatkan hak-hak kita kalau kita tidak bersatu. Tinggal setelah ini, apapun yang kita inginkan, kita harus bersatu untuk mendapatkannya, teman-teman,” katanya.

  4. 4. Masa depan generasi muda harus diperjuangkan

    Suasana aksi demo 28 Oktober di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Rabu (28/10/2026). (IDN Times/Cantika Lutfiah)
    Suasana aksi demo 28 Oktober di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Rabu (28/10/2026). (IDN Times/Cantika Lutfiah)

    Dalam orasinya, dia juga mengingatkan pentingnpya semangat persatuan dalam memperjuangkan masa depan generasi muda. Ia menilai, nilai-nilai Sumpah Pemuda perlu diwujudkan melalui tindakan, bukan sekadar diperingati setiap tahun.

    Ia mengaku sebagai pemuda selalu mengingat janji yang diutarakan pada diri sendiri. Janji untuk tidak menyerah memperjuangkan hal-hal yang menjadi hak masyarakat dan apa yang akan menjadi masa depan masyarakat yang dapat dipertanggungjawabkan.

    “Hak orang tua adalah melihat masa depan anaknya terang beneran tanpa hambatan. Dan hak kita sebagai generasi muda adalah memiliki masa depan yang dapat dipertanggungjawabkan. Memiliki masa depan yang dapat kita hidupi, bukan masa depan yang harus menanggung kesalahan dari rezim hari ini,” tegas dia.

    Menurut dia, masyarakat tidak sama dengan pemerintah, yang hari ini berjanji, kemudian hari esok mengingkarinya.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More