Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Menteri Jumhur Hadiri Pre-COP31 Fiji, Dorong Aksi Iklim Global Lebih Konkret
Pre-Conference of the Parties (Pre-COP31) Leader’s Event di Nadi, Fiji, Selasa (6/10/2026). (Dok. Kementerian Lingkungan Hidup)
  • Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menghadiri Pre-COP31 di Fiji sebagai bagian dari persiapan menuju COP31 di Antalya, Turki.

  • Forum tersebut mengadopsi Deklarasi Taku Pakasoa untuk mendukung negara berkembang dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

  • Indonesia menegaskan arah kebijakan menuju net-zero emissions pada 2060 atau lebih cepat dengan menekankan keadilan dan implementasi nyata.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
5–9 Oktober 2026

Rangkaian Pre-COP31 berlangsung di Fiji dan Tuvalu. Forum tersebut dihadiri perwakilan dari lebih dari 50 negara.

6/10/2026

Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menghadiri Pre-COP31 Leader’s Event di Nadi, Fiji.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • Apa?
    Menteri Jumhur Hidayat mendorong aksi iklim global yang lebih konkret dalam forum Pre-COP31.
  • Siapa?
    Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, perwakilan lebih dari 50 negara, serta pimpinan organisasi internasional.
  • Di mana?
    Pre-COP31 Leader’s Event berlangsung di Nadi, Fiji, dalam rangkaian kegiatan di Fiji dan Tuvalu.
  • Kapan?
    Jumhur menghadiri acara tersebut pada Selasa, 6 Oktober 2026. Rangkaian forum berlangsung pada 5–9 Oktober 2026.
  • Mengapa?
    Forum tersebut menjadi bagian dari persiapan menuju COP31 dan membahas penerjemahan target iklim global menjadi aksi nyata.
  • Bagaimana?
    Indonesia memaparkan arah kebijakan melalui NDC menuju net-zero emissions pada 2060 atau lebih cepat serta menekankan transisi yang adil.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menteri Jumhur datang ke pertemuan iklim di Fiji. Banyak orang dari lebih dari 50 negara ikut berkumpul. Mereka membuat Deklarasi Taku Pakasoa untuk membantu negara kepulauan dan negara berkembang menghadapi perubahan iklim. Indonesia juga menjelaskan rencana mengurangi emisi dan mencapai net-zero emissions pada 2060 atau lebih cepat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Forum Pre-COP31 menghasilkan Deklarasi Taku Pakasoa sebagai bentuk dukungan bagi negara kepulauan kecil dan negara berkembang. Indonesia juga menyampaikan arah kebijakan yang menghubungkan aksi iklim dengan pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan, perlindungan kelompok rentan, serta ketahanan energi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menghadiri Pre-Conference of the Parties (Pre-COP31) Leader’s Event di Nadi, Fiji, Selasa (6/10/2026). Pertemuan tingkat tinggi ini diselenggarakan sebagai bagian dari persiapan menuju Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP31) di Antalya, Turki.

Rangkaian Pre-COP31 yang berlangsung di Fiji dan Tuvalu pada 5–9 Oktober 2026 tersebut dihadiri perwakilan dari lebih dari 50 negara, termasuk para kepala negara/pemerintahan, menteri, pejabat tinggi, serta pimpinan organisasi internasional.

Jumhur dalam kesempatan itu mendorong agar aksi iklim global lebih konkret. Ia juga menegaskan pentingnya menjembatani target global menjadi aksi nyata yang berlandaskan keadilan.

“Tantangan dunia saat ini bukan lagi sekadar meningkatkan ambisi, melainkan memastikan bahwa ambisi tersebut benar-benar diwujudkan melalui implementasi yang konkret," kata Jumhur dalam forum tersebut.

1. Hasil utama forum: diadopsinya Deklarasi Taku Pakasoa

Pre-Conference of the Parties (Pre-COP31) Leader’s Event di Nadi, Fiji, Selasa (6/10/2026). (Dok. Kementerian Lingkungan Hidup)

Jumhur menjelaskan, hasil utama dari forum pemimpin dunia ini adalah diadopsinya Deklarasi Taku Pakasoa.

Deklarasi tersebut menjadi bentuk dukungan nyata masyarakat global bagi Negara- Negara Berkembang Pulau Kecil (Small Island Developing States/SIDS) dan Negara- Negara Sedang Berkembang (Least Developing Countries/LDC) dalam meningkatkan mitigasi, mengatasi dampak perubahan iklim, serta memperkuat ketahanan terhadap risiko kerugian dan kerusakan.

“Tuvalu, sebagai salah satu SIDS di kawasan Pasifik, terus menyuarakan urgensi global menghadapi ancaman kenaikan permukaan laut yang mengancam eksistensi negara-negara kepulauan kecil,” ujarnya.

2. Arah kebijakan Indonesia

Pre-Conference of the Parties (Pre-COP31) Leader’s Event di Nadi, Fiji, Selasa (6/10/2026). (Dok. Kementerian Lingkungan Hidup)

Indonesia memaparkan arah kebijakan melalui kontribusi yang ditetapkan secara nasional (Nationally Determined Contribution/NDC) menuju net- zero emissions pada 2060 atau lebih cepat. Pemerintah menegaskan bahwa transisi iklim harus berjalan selaras dengan pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan, serta perlindungan kelompok rentan.

"Kami mempercepat aksi iklim di seluruh sektor ekonomi melalui FOLU Net Sink 2030, mengurangi emisi dari limbah dan metana, serta melakukan transformasi industri, baik melalui dekarbonisasi industri yang sudah ada maupun pengembangan industri rendah karbon sejak tahap perancangannya. Transisi energi kita harus berlangsung secara adil,

teratur, dan berpusat pada masyarakat, sembari memperkuat ketahanan energi, keterjangkauan, serta melindungi kelompok masyarakat yang rentan," tutur Menteri Jumhur.

3. Persetujuan Paris jadi acuan

Pre-Conference of the Parties (Pre-COP31) Leader’s Event di Nadi, Fiji, Selasa (6/10/2026). (Dok. Kementerian Lingkungan Hidup)

Menutup rangkaian forum tersebut, Indonesia kembali menggarisbawahi bahwa kunci keberhasilan iklim global saat ini terletak pada eksekusi di lapangan.

“Persetujuan Paris menjadi kompas kita. Namun, ketika ruang untuk menjaga kenaikan suhu 1,5 derajat Celsius semakin menyempit, tugas kita adalah menjembatani komitmen global menjadi hasil nyata, dengan berpedoman pada keadilan serta prinsip tanggung jawab bersama namun berbeda sesuai kemampuan masing-masing negara (common but differentiated responsibilities)," kata Jumhur.

Curated For You

Editorial Team

Related Article