Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Menteri Jumhur Kritik Negara Besar Abai Pulihkan Lingkungan di BRICS
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat (kelima dari kiri) ketika menghadiri forum Menteri Lingkungan BRICS di India. (Dokumentasi Kementerian Lingkungan Hidup)
  • Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat mengkritik negara maju berkekuatan ekonomi besar yang mundur dari tanggung jawab kolektif menangani polusi dan perubahan iklim, meski menyumbang emisi global besar.
  • Indonesia dinilai sangat rentan terhadap perubahan iklim karena lebih dari 60 persen penduduk tinggal di pesisir, menghadapi kenaikan muka laut, cuaca ekstrem, dan bencana iklim.
  • Dalam forum BRICS di New Delhi, Indonesia memperkenalkan Subak, Sasi Lompa, dan awig-awig serta rencana adaptasi nasional 2026-2030 untuk memperkuat ketahanan iklim.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menteri Jumhur bilang negara besar harus ikut menjaga bumi dari polusi dan cuaca yang berubah. Ia bicara di pertemuan BRICS di India. Indonesia punya banyak pulau dan banyak orang tinggal dekat laut, jadi bisa kena air laut naik dan cuaca buruk. Sekarang Indonesia punya rencana menjaga alam sampai 2030.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat mengaku prihatin ada negara maju dengan kekuatan ekonomi besar justru memilih mundur dari tanggung jawab kolektif untuk mengatasi polusi dan perubahan iklim. Sementara, di saat yang sama bobot ekonomi negara besar itu terus menyumbang sebagian besar emisi di tingkat global. Pernyataan itu disampaikan Jumhur dalam forum negara BRICS yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, Iran, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Mesir, Afrika Selatan, Etiophia dan Indonesia.

"Cara kita mengelola sumber daya alam, membentuk lanskap, mencegah degradasi lingkungan dan membangun ketahanan pada akhirnya akan membentuk keberlanjutan pembangungan kita," ungkap Jumhur ketika berbicara di forum BRICS, India pada Selasa (18/8/2026).

Indonesia, kata mantan aktivis buruh itu, menggaris bawahi pentingnya melindungi keanekaragaman hayati, baik di darat maupun laut. Sebab, keanekaragaman itu merupakan fondasi bagi ekosistem yang sehat, ketahanan iklim dan pertumbuhan berkelanjutan jangka panjang.

1. Jumhur sebut Indonesia rentan terdampak perubahan iklim

Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat memaparkan soal pembangunan PSEL di Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan, Makassar, Rabu (5/8/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

Lebih lanjut, Jumhur mengatakan Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Ada lebih dari 17 ribu pulau yang membentang dari barat hingga ke timur. Selain itu, lebih dari 60 persen penduduknya tinggal di daerah pesisir pantai.

"Maka, sudah jelas Indonesia berada pada garis depan yang terdampak dari perubahan iklim," ungkap Jumhur.

Menurutnya, saat ini masyarakat Indonesia sudah mulai menghadapi ancaman kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, dan bencana terkait iklim. Ancaman itu, kata Jumhur dapat merusak kemajuan pembangunan, menganggu mata pencaharian dan mendorong masyarakat rentan kembali ke kemisikinan.

"Oleh karena itu, bagi Indonesia, perubahan iklim adalah pilar utama pembangunan berkelanjutan dan pengaman bagi kemakmuran nasional kita," tutur dia.

2. Jumhur pamerkan tiga model tradisional pengelolaan SDA

ilustrasi Subak, Bali (commons.wikimedia.org/Globe-trotter)

Di forum BRICS, Jumhur juga mengenalkan tiga model tradisional yang sukses dalam pengelolaan sumber daya alam (SDA). Ketiganya yakni sistem irigasi Subak di Bali yang mengintegrasikan pengelolaan air, kerja sama masyarakat dan praktik spiritual.

"Kedua, ada Sasi Lompa di Maluku. Ini merupakan sistem tradisional untuk pengelolaan perikanan berkelanjutan," katanya.

Kemudian, ketiga adalah awig-awig yang merupakan sistem hukum yang digerakan oleh masyarakat di Bali.

"Praktik-praktik ini menunjukkan bahwa hidup selaras dengan alam bukan hanya warisan budaya tetapi juga alat yang ampuh untuk adaptasi dan ketahanan iklim. Khususnya dengan memperkuat pendekatan berbasis masyarakat untuk mengelola air, ekosistem dan sumber daya alam menghadapi iklim," tutur dia.

3. Menteri Lingkungan BRICS digelar dua hari di India

Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat (kelima dari kiri) ketika menghadiri forum Menteri Lingkungan BRICS di India. (Dokumentasi Kementerian Lingkungan Hidup)

Di dalam keterangannya, Jumhur mengatakan pertemuan Menteri Lingkungan BRICS dilakukan di New Delhi, India selama dua hari.

Di forum itu, Jumhur juga menyebut bahwa Indonesia telah memberlakukan rencana adaptasi nasional 2026 hingga 2030 sebagai peta jalan menuju Indonesi yang tangguh terhadap iklim.

"Rencana adaptasi nasional itu dilakukan sebagai dukungan visi Indonesia Emas 20245," kata Jumhur.

Curated For You

Editorial Team

Related Article