Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Menteri LH Jumhur Hidayat Harap Ada Moratorium Penebangan Hutan

Menteri LH Jumhur Hidayat Harap Ada Moratorium Penebangan Hutan
Menteri LH Jumhur Hidayat bersma Rektor Universitas Harkat Negeri Sudirman Said dan Sekda Tegal Agus Dwi Sulistyantono (dok.Humas Kementerian LH)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Menteri LH Jumhur Hidayat menyerukan moratorium penebangan hutan untuk menekan deforestasi dan menjaga keseimbangan lingkungan di tengah upaya pengembangan energi terbarukan.
  • Jumhur menjelaskan bahwa bioenergi tidak hanya berasal dari sawit, tetapi juga bisa dari jagung dan tebu, dengan perhitungan dampak emisi dibandingkan bahan bakar fosil.
  • Rektor UHN Sudirman Said menegaskan pentingnya pemulihan ekologi serta keseimbangan antara ilmu pengetahuan, kesejahteraan ekonomi, dan kelestarian lingkungan sebagai fondasi kemajuan bangsa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Jumhur Hidayat mengatakan, dirinya berharap ada moratorium penebangan hutan atau moratorium deforestasi. Hal itu ia sampaikan dalam kuliah umum kepada akademisi dan civil society organizations (CSO) di Universitas Harkat Negeri, Kampus Mataram, Kota Tegal, Jumat (3/7/2026).

"Saya berharap tidak buru-buru menebang hutan. Mudah-mudahan ada moratorium penebangan hutan atau moratorium deforestasi," ujarnya.

1. Bukan cuma sawit yang bisa jadi bio energi

Menteri LH Jumhur Hidayat bersma Rektor Universitas Harkat Negeri Sudirman Said
Menteri LH Jumhur Hidayat bersma Rektor Universitas Harkat Negeri Sudirman Said (dok.Humas Kementerian LH)

Pernyataan Menteri Jumhur menanggapi pertanyaan dari seorang peserta diskusi soal penebangan hutan untuk diganti dengan tanaman sawit dengan tujuan menciptakan bio energi seperti bio etanol.

Jumhur menjelaskan, bukan hanya tanaman sawit yang bisa dijadikan bio energi seperti bio etanol tapi juga bisa dari tanaman jagung dan bisa juga dari tebu.

"Intinya nanti akan ada hitungannya, deltanya berapa. Misalnya menebang hutan, hijaunya hilang, tapi kemudian menanam hutan yang lain yang juga bisa menyerap emisi tapi juga sekaligus bisa menghasilkan bahan bakar yang rendah emisi karena sebelumnya kita memakai BBM berbahan bakar fosil," kata Jumhur Hidayat.

2. Penggunaan sumber bahan bakar akan dibandingkan

Menteri LH Jumhur Hidayat bersma Rektor Universitas Harkat Negeri Sudirman Said
Menteri LH Jumhur Hidayat bersma Rektor Universitas Harkat Negeri Sudirman Said dan Sekda Tegal Agus Dwi Sulistyantono (dok.Humas Kementerian LH)

Jumhur menjelaskan, nantinya akan bisa dihitung perbandingan di antara penggunaan jenis-jenis sumber bahan bakar. Misalnya, sebelumnya masyarakat memakai bahan bakar batu bara, lalu memakai minyak bumi, dan sekarang pakai bio etanol, nanti akan kelihatan secara nett ditemukan berapa deltanya.

"Ingat ada kemungkinan dalam level tertentu energi fosil juga bisa habis, memangnya energi fosil tidak bisa habis? Bisa saja habiskan. Minyak bisa habis, batu bara habis, semua habis. Jadi yang tidak habis kalau kita bertanam kemudian menghasilkan sawit atau jagung atau tanaman lain yang bisa diprosesn untuk dijadikan energi," kata Jumhur.

Bersamaan itu, juga dilakukan upaya mengembangkan teknologi untuk mendapatkan energi dari sumber lain. Misal solar panel energi matahari, dari angin, dari panas bumi dan sumber lain. Semua upaya ini akan terus menjadi dinamika dari upaya manusia bisa survive atau bertahan hidup.

3. Sudirman Said sebut Kementerian LH sedang memulihkan kembali ekologi

Menteri LH Jumhur Hidayat bersma Rektor Universitas Harkat Negeri Sudirman Said
Menteri LH Jumhur Hidayat bersma Rektor Universitas Harkat Negeri Sudirman Said (dok.Humas Kementerian LH)

Sementara itu, Rektor Universitas Harkat Negeri (UHN) Sudirman Said mengatakan, hari-hari ini dunia sedang menghadapi persoalan lingkungan yang datang secara bersamaan. Yakni climate change (perubahan iklim), meningkatnya jumlah penduduk yang luar biasa dan juga kerusakan ekologi di mana-mana.

"Kami meyakini tantangan yang dihadapi Pak Jumhur tidak mudah karena itu sebagai bagian dari komunitas akademisi, kami ingin membantu memberikan support apapun yang bisa kita lakukan," kata Sudirman Said.

Menurut Sudirman Said, negara yang maju, bangsa yang maju harus mampu menjaga keseimbangan antara tiga hal. Pertama epistemologi, kedua ekonomi-prosperity (kesejahteraan) dan ketiga ekologi. Kalau salah satunya timpang, salah satunya lemah maka dipastikan ada masalah.

"Sekarang Pak Jumhur Hidayat dan tim sedang berjuang membuat ekologi jadi recovery, bangkit kembali, pulih kembali. Kita bisa dengarkan pandangan beliau bagaimana menjaga dan merawat bumi sebagai tempat hidup kita bersama," kata Sudirman Said.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Dwifantya Aquina
EditorDwifantya Aquina

Related Articles

See More