Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Menteri PPPA: Ancaman Bom di SD Cederai Hak Anak Atas Rasa Aman
Tim Gegana Brimob dan Densus 88 Antiteror melakukan penyisiran di SD Srengseng Sawah 15, Jakarta Selatan, usai sekolah menerima ancaman bom melalui WhatsApp, Senin (13/7/2026). (IDN Times/Lia Hutasoit)
  • Menteri PPPA Arifah Fauzi mengecam ancaman bom di SDN Srengseng karena mencederai hak anak atas rasa aman, terutama saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah yang seharusnya menyenangkan.
  • Kemen PPPA menegaskan perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama dan mengapresiasi langkah cepat kepolisian serta pihak sekolah dalam menjaga keamanan lingkungan pendidikan.
  • Polisi menangkap pelaku berinisial MY yang mengaku melakukan ancaman bom hanya karena iseng, namun penyelidikan tetap berlanjut untuk mendalami motif dan latar belakangnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
13 Juli 2026

Polda Metro Jaya mengumumkan penangkapan pria berinisial MY (34) sebagai pelaku ancaman bom di SDN Srengseng Sawah 15, Jakarta Selatan. Dalam pemeriksaan awal, pelaku mengaku melakukan aksinya karena iseng.

15 Juli 2026

Menteri PPPA Arifah Fauzi mengecam ancaman bom di SDN Srengseng Sawah 15 yang terjadi saat masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS). Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut mencederai hak anak atas rasa aman dan mendukung langkah cepat aparat dalam menangani kasus ini.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Terjadi ancaman bom di SDN Srengseng Sawah 15, Jakarta Selatan, yang menyebabkan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dihentikan dan seluruh siswa dipulangkan untuk alasan keamanan.
  • Who?
    Pelaku berinisial MY (34) telah ditangkap oleh Polda Metro Jaya. Menteri PPPA Arifah Fauzi mengecam tindakan tersebut dan kepolisian bersama Densus 88 serta Gegana melakukan penanganan di lokasi.
  • Where?
    Peristiwa terjadi di SDN Srengseng Sawah 15, wilayah Jakarta Selatan, DKI Jakarta. Lokasi sekolah sempat disterilkan oleh aparat setelah menerima laporan ancaman bom.
  • When?
    Kejadian berlangsung pada masa MPLS dan dilaporkan kepada publik pada Rabu, 15 Juli 2026. Pemeriksaan terhadap pelaku dilakukan sejak Senin, 13 Juli 2026.
  • Why?
    Berdasarkan pemeriksaan awal kepolisian, pelaku mengaku mengirim ancaman bom hanya karena iseng. Namun penyelidikan lebih lanjut masih dilakukan untuk mendalami motif sebenarnya.
  • How?
    Ancaman dikirim melalui pesan WhatsApp kepada guru sekolah. Setelah laporan diterima, polisi bersama Densus 88 dan Gegana langsung mensterilkan area sekolah serta memastikan keselamatan seluruh warga sekolah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada orang kirim pesan ancam bom ke sekolah SD di Jakarta pas anak-anak baru mau mulai belajar. Anak-anak jadi takut dan pulang dulu. Polisi datang, cari bom, lalu tangkap orang yang kirim pesan itu. Katanya dia cuma iseng. Menteri Arifah bilang anak harus aman di sekolah dan semua orang harus jaga mereka.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Tanggapan cepat berbagai pihak terhadap ancaman bom di SDN Srengseng Sawah 15 menunjukkan komitmen kuat untuk melindungi hak anak atas rasa aman. Kementerian PPPA, kepolisian, dan pemerintah daerah bergerak sigap memastikan keselamatan warga sekolah, sementara pelaku berhasil ditangkap. Respons terkoordinasi ini mencerminkan kesadaran bersama bahwa perlindungan anak adalah tanggung jawab kolektif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengecam ancaman bom yang terjadi di SDN Srengseng Sawah 15, Jakarta. Menurut dia, aksi tersebut mencederai hak anak untuk mendapatkan rasa aman, terlebih terjadi saat masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) yang seharusnya menjadi momen menyenangkan bagi peserta didik baru.

Arifah mengatakan, ancaman bom di lingkungan sekolah tidak dapat ditoleransi karena berpotensi menimbulkan ketakutan dan trauma bagi anak-anak yang baru memulai perjalanan pendidikannya.

"Ancaman bom yang terjadi di lingkungan sekolah merupakan tindakan yang tidak dapat ditoleransi. Terlebih, peristiwa ini terjadi pada saat anak-anak, khususnya peserta didik baru, sedang menjalani masa pengenalan lingkungan sekolah. MPLS seharusnya menjadi pengalaman pertama yang membangun rasa aman, percaya diri, dan kebahagiaan anak saat memasuki dunia pendidikan, bukan justru menimbulkan rasa takut dan trauma," kata Arifah dikutip Rabu (15/7/2026).

1. Anak berhak mulai pendidikan dengan aman dan terlindungi

Menteri PPPA Arifah Fauzi mengunjungi korban dugaan kekerasan penyiraman air keras oleh anggota polisi. (Dok. KemenPPPA)

Dia menilai, setiap anak berhak memulai pendidikan dalam lingkungan yang aman dan terlindungi. Menurut dia, sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang bagi anak membangun karakter, mengembangkan potensi, dan menjalin hubungan sosial.

"Anak-anak yang memasuki sekolah untuk pertama kalinya sedang membangun kesan tentang rumah kedua mereka. Mereka berhak disambut dengan lingkungan yang hangat, ramah, dan melindungi. Tidak boleh ada tindakan apa pun yang merusak rasa aman tersebut, apalagi ancaman yang dapat menimbulkan trauma bagi anak," ujar dia.

2. Perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Kemen PPPA mengapresiasi langkah cepat kepolisian, pihak sekolah, pemerintah daerah, dan seluruh pihak yang melakukan pengamanan serta memastikan keselamatan warga sekolah. Kementerian juga mengapresiasi polisi yang telah menangkap terduga pelaku ancaman bom.

Arifah mengatakan, perlindungan terhadap anak merupakan tanggung jawab bersama. Dia mengajak seluruh elemen masyarakat memastikan sekolah tetap menjadi tempat yang aman sehingga anak dapat belajar dan berkembang tanpa rasa takut.

3. Pelaku sudah ditangkap, motifnya iseng

Ilustrasi tangan tersangka diborgol (IDN Times/Eko Agus Herianto)

Sebelumnya, SDN Srengseng Sawah 15 mendapat teror ancaman bom melalui pesan WhatsApp kepada guru, saat para murid tengah melakukan MPLS. Akibatnya, kegiatan MPLS dihentikan dan seluruh siswa dipulangkan. Aparat kepolisian bersama Densus 88, Gegana, dan sejumlah pihak kemudian mendatangi lokasi dan melakukan melakukan sterilisasi di lingkungan sekolah setelah menerima laporan ancaman tersebut.

Polda Metro Jaya mengungkap motif sementara pelaku ancaman bom di SDN Srengseng Sawah 15, Jakarta Selatan. Pria berinisial MY (34) yang telah ditangkap mengaku mengirim ancaman tersebut hanya karena iseng.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Iman Imannudin, mengatakan, keterangan itu diperoleh dari pemeriksaan awal terhadap pelaku.

"Sementara hasil dari permintaan keterangan yang bersangkutan, yang bersangkutan hanya sifatnya iseng saja," ujar Iman kepada jurnalis, Senin (13/7/2026).

Meski demikian, kepolisian belum menghentikan penyelidikan. Polda Metro Jaya masih berkoordinasi dengan Densus 88 Antiteror Polri untuk mendalami motif dan latar belakang pelaku secara menyeluruh.

Curated For You

Editorial Team

Related Article