Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Miftachul Akhyar, Rais Aam PBNU Pernah Dapat Bintang Kehormatan dari Prabowo
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Presiden Terpilih Prabowo Subianto (Dok. Tim Media Prabowo)
  • Muktamar ke-35 NU menetapkan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU dan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam periode 2026-2031.
  • Penetapan kedua pemimpin PBNU dilakukan melalui musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi yang beranggotakan sembilan ulama.
  • Ahmad Muzani dan Gus Ipul membantah isu keterlibatan Istana dalam penetapan duet pimpinan PBNU.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2018

Miftachul Akhyar pertama kali dipercaya menjalankan tugas sebagai Rais Aam setelah KH Ma'ruf Amin mengundurkan diri.

2020

Miftachul Akhyar terpilih sebagai Ketua Umum MUI dan menjalankan posisi tersebut bersamaan dengan jabatan Rais Aam PBNU.

9 Maret 2022

Miftachul Akhyar menyatakan telah mengirimkan surat pengunduran diri dari jabatan Ketua Umum MUI.

2025 lalu

Miftachul Akhyar menerima Bintang Mahaputera Utama dari Presiden Prabowo Subianto bersama sejumlah tokoh nasional.

27-31 Agustus 2026

Muktamar ke-35 NU digelar di Jombang, Jawa Timur. Gus Kikin ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU dan Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Muktamar ke-35 NU menetapkan kepemimpinan baru PBNU untuk masa khidmah 2026-2031.
  • Who?
    KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menjadi Ketua Umum PBNU, sedangkan KH Miftachul Akhyar menjadi Rais Aam PBNU.
  • Where?
    Muktamar berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
  • When?
    Muktamar ke-35 NU digelar pada 27-31 Agustus 2026.
  • Why?
    Penetapan dilakukan untuk menentukan kepemimpinan PBNU masa khidmah 2026-2031.
  • How?
    Keduanya ditetapkan melalui musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi yang beranggotakan sembilan ulama.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Muktamar NU memilih dua kiai untuk memimpin PBNU sampai 2031. Gus Kikin menjadi Ketua Umum PBNU. KH Miftachul Akhyar menjadi Rais Aam PBNU lagi. Sembilan ulama memilih mereka lewat musyawarah AHWA. Ahmad Muzani dan Gus Ipul bilang tidak ada campur tangan Istana dalam proses muktamar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Musyawarah AHWA menghasilkan penetapan Ketua Umum dan Rais Aam PBNU untuk periode 2026-2031. Miftachul Akhyar kembali dipercaya sebagai Rais Aam, sementara Gus Kikin memimpin Tanfidziyah. Ahmad Muzani dan Gus Ipul juga menyampaikan bahwa muktamar berlangsung lancar, sukses, serta penuh kekeluargaan dan keakraban.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, menghasilkan kepemimpinan baru Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk masa khidmah 2026-2031.
Muktamar menetapkan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU dan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU untuk periode 2026-2031.

Keduanya ditetapkan melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), yakni forum yang beranggotakan sembilan ulama yang diberi mandat untuk menentukan kepemimpinan PBNU.

Pada intinya, Muktamar ke-35 NU menghasilkan perubahan di pucuk kepemimpinan Tanfidziyah, dari Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) kepada Gus Kikin, sementara posisi Rais Aam tetap dipercayakan kepada KH Miftachul Akhyar untuk periode keduanya.

1. Miftachul Akhyar pernah terima Bintang Kehormatan dari Prabowo

Rais 'Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar. (Dok/Porseni NU)

KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya menduduki posisi tertinggi sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk periode 2026-2031 dalam Muktamar ke-35 NU yang digelar di Jombang, Jawa Timur. Ia ditetapkan sebagai Rais Aam PBNU melalui musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

Setelah menggelar musyawarah dan mufakat, sembilan anggota AHWA menetapkan nama Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU periode 2026-2031. Keputusan tersebut kemudian dibacakan di hadapan peserta muktamar. Terpilihnya kembali Miftachul Akhyar memperpanjang kiprahnya dalam jajaran kepemimpinan tertinggi NU.

Sebab, ia pertama kali dipercaya menjalankan tugas sebagai Rais Aam pada 2018, ketika KH Ma'ruf Amin saat itu mengundurkan diri dari posisi tersebut karena maju pada Pilpres 2019.

Miftachul Akhyar diketahui lahir pada 30 Juni 1953. Ia merupakan putra KH Abdul Ghoni, pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah, Surabaya. Sejak kecil, Miftachul Akhyar tumbuh dalam lingkungan pesantren. Ia memulai pendidikan keagamaannya di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Setelah itu, ia melanjutkan pencarian keilmuan ke sejumlah pesantren, antara lain Pondok Pesantren (Ponpes) Rejoso atau Darul Ulum Jombang, Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, serta Pondok Pesantren Al-Islah Soditan, Lasem, Jawa Tengah.

Sementara itu, jejak organisasi Miftachul Akhyar di NU dimulai dari tingkat cabang. Ia pernah dipercaya sebagai Rais Syuriyah PCNU Surabaya pada 2000-2005. Kariernya kemudian berlanjut di tingkat PWNU Jawa Timur. Ia menjabat sebagai Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur pada 2007-2013 dan kembali dipercaya untuk periode 2013-2018.

Selain berkiprah di NU, Miftachul Akhyar juga pernah menduduki posisi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ia terpilih sebagai Ketua Umum MUI pada 2020. Saat itu, ia menjalankan dua posisi penting sekaligus, yakni sebagai Rais Aam PBNU dan Ketua Umum MUI. Namun, pada 9 Maret 2022, Miftachul Akhyar menyatakan telah mengirimkan surat pengunduran diri dari jabatan Ketua Umum MUI.

Pada 2025 lalu, Miftachul Akhyar menerima tanda kehormatan Bintang Mahaputera Utama dari Presiden Prabowo Subianto bersama sejumlah tokoh nasional lainnya.

2. Gerindra bantah ada cawe-cawe istana dalam duet pimpinan PBNU

Ketua Dewan Kehormatan Gerindra Ahmad Muzani di Gedung DPR. (IDN Times/Amir Faisol).

Ketua Dewan Kehormatan Partai Gerindra, Ahmad Muzani membantah keterlibatan Istana dalam Muktamar ke-35 PBNU di Jombang Jawa Timur, yang digelar di Jombang, Jawa Timur pada 27-31 Agustus 2026.

Pernyataan ini disampaikan Muzani menjawab isu paket pasangan calon pimpinan—yang berisi kombinasi calon Rais Aam dan calon Ketua PBNU dalam rangkaian Muktamar NU.

"Itu berseliweran, tapi saya tidak melihat adanya isu itu," kata Muzani di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (31/8/2026).

Lebih jauh, Muzani turut menyampaikan selamat atas terpilihnya Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU dan Abdul Hakim Mahfudz sebagai Ketua Umum PBNU pada periode 2026-20231. Ia pun mengapresiasi karena Muktamar ke-35 NU di Jombang berjalan lancar.

"Kami bersyukur Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang berlangsung di Jombang berlangsung sukses, penuh kekeluargaan, penuh keakraban, dan telah menghasilkan pemimpin baru Rais Aam Kiai Haji Miftachul Achyar dan Ketua Umum PBNU Kiai Haji Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin," kata Ketua MPR RI itu.

3. Gus Ipul ikut bantah cawe cawe istana

Ketua Panitia Muktamar ke-35 NU, Saifullah Yusuf alias Gus Ipul. IDN Times/Ardiansyah Fajar.

Ketua Panitia Pelaksana (OC) Muktamar ke-35 NU sekaligus Mantan Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Syaifullah Yusuf alias Gus, Ipul turut membantah ada cawe-cawe istana dalam Muktamar ke-35 NU pada 27-31 Agustus 2026.

Gus Ipul menyebut, duet KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU dan KH Abdul Hakim Mahfudz sebagai Ketua Umum PBNU sebagai paket yang disodorokan istana, merupakan isu yang tidak berdasar.

"Berita-berita yang selama ini kita lihat di medsos kadang-kadang itu jauh dari kenyataan, ya. Tidak ada intervensi, tidak ada hal-hal yang perlu dikhawatirkan dalam proses muktamar ini," kata Gus Ipul di Gedung DPR, Jakarta, Senin (31/8/2026).

Gus Ipul menegaskan, NU sudah menggelar muktamar 35 kali dalam situasi dan kondisi yang beragam. Namun, NU selalu punya cara untuk menyelesaikan semua masalah. Menurut di, NU juga selalu punya cara dalam menghadapi berbagai tantangan-tantangan yang ada.

"Banyak isu di luar sana ya. Banyak sekali, dulu tahu sendiri kan isunya kayak apa ini. Tapi ternyata kita lihat semua berjalan lancar, ya," kata dia.

Editorial Team

Related Article