Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Panama Diguncang Gempa M7,7 Ahli Ingatkan Ancaman Sesar Senyap di RI

3 min read
Panama Diguncang Gempa M7,7 Ahli Ingatkan Ancaman Sesar Senyap di RI
Ilustrasi Gempa Bumi. (IDN Times/Anjani Asra)
  • Gempa M7,7 mengguncang Panama pada 9 Oktober 2026, melukai puluhan orang dan merusak bangunan. Peringatan tsunami untuk 11 negara sempat dikeluarkan, tetapi kemudian dipastikan tidak terjadi tsunami.
  • IABI menilai gempa dipicu rekahan pada sesar geser di kawasan tektonik kompleks. Laporan kerusakan masih minim karena komunikasi di wilayah guncangan kuat dapat terganggu, sementara pendataan pedesaan berlangsung.
  • Daryono mengingatkan sesar yang tampak tenang tetap berpotensi memicu gempa besar. Indonesia perlu memperhatikan pemetaan sesar, pemantauan deformasi, kekuatan bangunan, serta kesiapsiagaan masyarakat sebelum gempa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Gempa bumi hebat berkekuatan magnitudo 7,7 menggoyang Panama pada Jumat sore, 9 Oktober 2026. Akibat gempa tersebut, puluhan orang dilaporkan terluka dan sejumlah bangunan mengalami kerusakan.

Stasiun berita BBC pada Sabtu (10/10/2026) melaporkan semula peringatan ancaman tsunami dikeluarkan terhadap 11 negara yang lokasinya berdekatan dengan Panama. Namun, Sistem Peringatan Tsunami Amerika Serikat (AS) memastikan gempa hebat itu tidak menyebabkan tsunami.

Menurut analisa anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, gempa di Panama berkaitan dengan aktivitas deformasi kerak bumi di kawasan tektonik kompleks Panama. Analisis mekanisme fokus menunjukkan dominasi mekanisme sesar geser (strike-slip fault) yaitu pergerakan dua blok aturan yang saling bergeser secara mendatar akibat akumulasi tegangan tektonik.

"Mekanisme tersebut menunjukkan bahwa sumber gempa bukan sekedar getaran biasa melainkan proses rupture (rekahan) atau pecahnya batuan di sepanjang bidang sesar yang melepaskan energi elastik dalam jumlah sangat besar," ungkap Daryono di dalam keterangan pada Sabtu (10/10/2026).

  1. 1. IABI wanti-wanti tidak ada laporan kerusakan bukan berarti tak terjadi kerusakan

    ilustrasi gempa bumi
    ilustrasi gempa bumi (unsplash.com/Anastasia R.)

    Lebih lanjut, kata Daryono, hingga saat ini laporan dampak dari kerusakan masih minim. Meski begitu, katanya, bukan berarti tidak ada kerusakan yang disebabkan oleh gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7. Wilayah yang mengalami guncangan paling kuat justru dapat mengalami gangguan komunikasi sehingga informasi mengenai dampak bencana terlambat diterima.

    "Jadi, pendataan masih berlangsung, terutama di kawasan pedesaan yang berdekatan dengan sumber gempa," kata Daryono.

    Ia menambahkan potensi kerusakan menjadi perhatian yang serius karena sebagian bangunan di wilayah terdampak belum dirancang dengan standar ketahanan gempa yang memadai. Selain itu, belum pernah pula mengalami pengujian alami oleh guncangan gempa besar.

  2. 2. Gempa magnitudo 7,7 diprediksi jadi gempa terbesar yang dialami oleh Panama

    Direktur Gempa dan Tsunami BMKG Daryono (YouTube/BMKG)
    Direktur Gempa dan Tsunami BMKG Daryono (YouTube/BMKG)

    Dalam catatan IABI, gempa yang terjadi pada Jumat kemarin diperkirakan menjadi salah satu gempa darat terbesar bahkan mungkin yang paling besar di dalam sejarah pencatatan kegempaan di Panama. Di sana pernah mengalami gempa besar yakni pada tahun 1882 di Laut Karibia. Ketika itu gempa memicu tsunami besar.

    Kemudian pada tahun 1974 terjadi gempa berkekuatan magnitudo 7,3 di perbatasan Kolumbia-Panama. Ia juga menyoroti adanya kaitan dengan fenomena sesar senyap (quite fault) yakni sesar aktif yang relatif jarang menghasilkan gempa kecil. Tetapi, tetap berpotensi mengalami ruptur besar akibat akumulasi tegangan tektonik.

    "Fenomena ini mengingatkan bahwa aktivitas kegempaan yang rendah tidak selalu mencerminkan rendahnya potensi bahaya gempa," kata Daryono.

    Lantaran hal itu, Daryono mewanti-wanti Gempa Panama memberikan pelajaran penting bagi negara-negara yang memiliki banyak sesar aktif, termasuk Indonesia. Pemerintah dan otoritas setempat tidak boleh hanya mewaspadai sesar yang menghasilkan gempa kecil.

    "Sesar yang selama ini tampak tenang juga perlu mendapat perhatian melalui pemetaan sesar aktif, pemantauan deformasi kerak bumi menggunakan GNSS (Global Navigation Satelite System) serta penelitian palaeoseismologi," tutur dia.

    "Sesar yang tenang belum tentu aman. Tidak adanya gempa kecil bukan jaminan tidak akan terjadi gempa besar," imbuhnya.

  3. 3. Potensi tingkat guncangan dalam gempa juga harus jadi perhatian

    Gempa bumi yang merusak bangunan
    Ilustrasi gempa bumi (Pinterest/Pudding)

    Daryono juga mengingatkan yang harus menjadi perhatian otoritas setempat bukan hanya seberapa sering suatu sesar menghasilkan gempa, tetapi juga seberapa besar potensi magnitudo, tingkat guncangan yang mungkin ditimbulkan dan kerentanan bangunan dan masyarakat di sekitarnya.

    "Gempa besar tidak selalu didahului oleh gempa-gempa kecil yang dapat dikenali sebagai peringatan. Karena itu kesiapsiagaan harus dibangun sebelum gempa terjadi. Bukan justru setelah bumi mulai berguncang," kata Daryono.

    Sementara, Presiden Panama José Raúl Mulino mengatakan semua jajaran di pemerintahannya langsung turun tangan untuk mengatasi dampak gempa bumi hebat itu. Ia pun mewanti-wanti masyarakat agar peristiwa gempa tidak dimanfaatkan untuk menciptakan kerusuhan.

    "Apa yang saat ini terjadi jangan dimanfaatkan untuk mengakibatkan kerusuhan," kata Mulino seperti dikutip dari stasiun berita BBC.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More