Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pedagang Tanah Abang Teriak Cabut MBG, Harga Plastik Naik!
Seorang pedagang Tanah Abang membagikan makanan kepada jurnalis di depan Kantor BGN, Rabu (10/6/2026). (IDN Times/Dini Suciatiningrum)
  • Seorang pedagang Tanah Abang bernama Fanya memprotes kenaikan harga plastik dan menyerukan pencabutan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di depan Kantor Badan Gizi Nasional, Jakarta Pusat.
  • Koalisi masyarakat sipil MBG Watch melakukan aksi simbolik menyegel Gedung BGN sebagai bentuk kekecewaan terhadap pengelolaan program MBG yang dinilai tidak transparan dan kurang akuntabel.
  • Transparency International Indonesia mengungkapkan temuan risiko korupsi dalam program MBG telah diabaikan, hingga akhirnya mantan Kepala BGN Dadan Hindayana terseret kasus hukum terkait pengadaan barang dan jasa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
tahun lalu

MBG Watch melalui Transparency International Indonesia menyusun kajian risiko korupsi terkait program Makan Bergizi Gratis dan menyampaikan rekomendasi kepada Badan Gizi Nasional. Temuan tersebut disebut tidak mendapat tanggapan serius dari BGN.

10 Juni 2026

Pedagang bernama Fanya melakukan aksi di depan Kantor Badan Gizi Nasional, Jakarta Pusat, menolak program Makan Bergizi Gratis dan mengeluhkan kenaikan harga plastik. Pada hari yang sama, koalisi MBG Watch menggelar aksi simbolik menyegel gedung BGN sebagai bentuk kekecewaan terhadap pengelolaan program tersebut.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Sejumlah pedagang dan kelompok masyarakat sipil menggelar aksi di depan Kantor Badan Gizi Nasional menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta memprotes kenaikan harga plastik yang memberatkan pedagang kecil.
  • Who?
    Pedagang bernama Fanya dari Tanah Abang dan anggota koalisi MBG Watch, termasuk peneliti Transparency International Indonesia Agus Sarwono, terlibat langsung dalam aksi tersebut.
  • Where?
    Aksi berlangsung di depan Kantor Badan Gizi Nasional (BGN), kawasan Jakarta Pusat.
  • When?
    Kegiatan terjadi pada Rabu, 10 Juni 2026.
  • Why?
    Aksi dilakukan sebagai bentuk kekecewaan terhadap pengelolaan program MBG yang dinilai bermasalah serta dampak kenaikan harga kebutuhan usaha seperti plastik bagi pedagang kecil.
  • How?
    Fanya berorasi dari atas motornya sambil membagikan makanan kepada awak media, sementara MBG Watch menempelkan poster dan menyegel simbolis gedung BGN menggunakan garis polisi yang sudah terpasang sebelumnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Seorang pedagang namanya Fanya marah di depan kantor besar di Jakarta. Dia naik motor dan bawa makanan buat dibagi. Dia bilang harga plastik naik dan susah buat jualan. Banyak orang juga kecewa sama program Makan Bergizi Gratis karena katanya ada masalah dan orang pentingnya sudah ditangkap. Sekarang mereka protes di sana.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di tengah suasana protes yang tegang, aksi Fanya dan kelompok MBG Watch menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap transparansi dan keadilan dalam pengelolaan program publik. Kehadiran pedagang kecil yang berani bersuara serta peneliti yang menegaskan pentingnya kajian risiko korupsi mencerminkan semangat partisipasi warga untuk memastikan kebijakan dijalankan secara lebih bersih dan bertanggung jawab.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Suasana di depan Kantor Badan Gizi Nasional (BGN), Jakarta Pusat, mendadak ramai ketika seorang pedagang bernama Fanya menghentikan sepeda motor hitam yang dikendarainya di tepi jalan, Rabu (10/6/2026).

Di bagian bawah stang motornya terlihat sebuah tas besar berwarna abu-abu yang biasa digunakan untuk membawa dagangan. Dari dalam tas itu, Fanya mengeluarkan sejumlah makanan dan membagikannya kepada awak media yang berada di lokasi.

"Jualan gue di Tanah Abang. Nih, dikasih buat teman-teman! Kita gak pakai duit rakyat," ujar dia.

1. Harga plastik naik

Koalisi masyarakat sipil yang tergabung dalam MBG Watch segel Kantor BGN, Jakarta Pusat, Rabu (10/6/2026). (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Setelah itu, Fanya mulai menyuarakan keluhannya. Dengan nada tinggi, dia mengaku para pedagang kecil semakin tertekan karena harga berbagai kebutuhan terus meningkat, termasuk harga plastik yang digunakan untuk berjualan.

Di atas motornya, Fanya berulang kali meneriakkan penolakan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG)

"MBG! MBG! Cabut MBG! Cabut MBG!" teriaknya lantang di hadapan peserta aksi dan awak media.

2. Bentuk kekecewaan pada program MBG

Koalisi Masyarakat Sipil Geruduk Kantor BGN Rabu (10/6/2026). (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Pada saat yang sama, koalisi masyarakat sipil yang tergabung dalam MBG Watch melakukan aksi simbolik menyegel Gedung BGN. Aksi tersebut dilakukan dengan menempelkan sejumlah poster di atas garis polisi yang sudah terpasang sebelumnya di Kantor BGN.

Anggota MBG Watch yang juga peneliti Transparency International Indonesia (TII), Agus Sarwono, mengatakan, aksi yang digelar di depan BGN merupakan bentuk kekecewaan masyarakat sipil terhadap pengelolaan program MBG.

"Aksi hari ini sebenarnya sebagai bentuk kekecewaan kita. Kita sudah sejak tahun lalu mengingatkan Badan Gizi Nasional untuk hati-hati dalam menjalankan program," ujar dia.

3. Temuan potensi korupsi dibiarkan

Dosen Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera, Bivitri Susanti dalam aksi Koalisi MBG Watch di depan Kantor BGN, Jakarta Pusat, Rabu (10/6/2026). (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Menurut Agus, pihaknya telah mengingatkan BGN sejak tahun lalu melalui kajian risiko korupsi atau corruption risk assessment tentang pelaksanaan program tersebut. Namun, berbagai temuan dan rekomendasi yang disampaikan dinilai tidak mendapat perhatian serius.

"Kami punya kajian namanya corruption risk sssessment atau kajian risiko korupsi dalam pengelolaan program Makan Bergizi Gratis," kata Agus.

Dia mengaku tidak terkejut dengan kasus hukum yang menyeret mantan Kepala BGN Dadan Hindayana dan pihak-pihak lain yang terkait. Sebab, menurutnya, potensi persoalan dalam pengadaan barang dan jasa sudah teridentifikasi sejak awal.

"Tapi kemudian laporan kami sepertinya diabaikan begitu saja. Dan kami tidak kaget ketika Dadan dan kroni-kroninya kemudian ditangkap sama Kejaksaan. Karena sudah kami prediksi dari tahun lalu. Dalam konteks apa? Dalam konteks pengadaan barang dan jasa," ucap dia.

Editorial Team

Related Article