Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Polri Minta Klarifikasi Eks Wakapolri Oegroseno Terkait Kasus Korupsi Lahan
Mantan Wakapolri Komjen Pol (Purn) Oegroseno (IDN Times/Irfan Fathurohman)
  • Kortas Tipidkor Polri memanggil eks Wakapolri Komjen (Purn) Oegroseno untuk klarifikasi terkait dugaan korupsi pengadaan lahan Sepolwan setelah sebelumnya berhalangan hadir pada jadwal awal.
  • Irjen Totok Suharyanto menegaskan penyelidikan dilakukan sesuai koridor hukum dan bukan bentuk kriminalisasi terhadap Oegroseno yang dikenal sering mengkritik institusi Polri.
  • Oegroseno mempertanyakan dasar hukum serta hasil audit atas penyelidikan kasus yang menyoroti kebijakan lebih dari 15 tahun lalu, termasuk dugaan korupsi hibah lahan di Jakarta Selatan dan Lembang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Polisi mau tanya lagi ke Pak Oegroseno, dia dulu polisi juga. Mereka mau tahu soal tanah di sekolah polisi wanita. Katanya ada orang lapor mungkin ada uang yang dipakai tidak benar. Tapi Pak Oegroseno bilang dia cuma dituduh saja. Sekarang polisi masih periksa pelan-pelan biar tahu benar atau tidak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortas Tipikor) Polri kembali melayangkan undangan klarifikasi terhadap mantan Wakapolri Komjen (Purn) Oegroseno terkait kasus pengadaan lahan Sepolwan.

Undangan klarifikasi terhadap Oegroseno sebelumnya dijadwalkan pada 16 Juli 2026. Namun, Oegroseno berhalangan hadir.

"Bukan pemanggilan, melainkan undangan klarifikasi untuk memperoleh keterangan yang diagendakan hari Kamis tanggal 23 Juli 2026," ujar Kepala Kortas Tipidkor Polri, Irjen Totok Suharyanto, saat dihubungi Kamis (23/7/2026).

Totok menjelaskan, kasus ini berawal dari adanya pengaduan masyarakat terkait dugaan tindak pidana dalam proses pengadaan lahan Sepolwan. Totok memastikan proses penyelidikan berjalan sesuai dengan koridor hukum yang berlaku.

"Jadi, penyelidikan ini dimaksud untuk menentukan peristiwa ini merupakan tindak pidana korupsi atau bukan," tuturnya.

Totok mengatakan, proses undangan klarifikasi kepada seseorang juga telah diatur dalam Pasal 16 ayat 1 huruf c & j KUHAP untuk memperoleh keterangan sebagai bagian dari cara penyelidikan.

Totok juga membantah bahwa kasus pengadaan lahan Sepolwan ini merupakan tindakan kriminalisasi terhadap Oegroseno yang belakangan dinilai rajin mengkritisi Polri.

“Tidak ada kriminalisasi sama sekali. Kortastipidkor Polri menjamin proses penyelidikan berjalan sesuai dengan koridor hukum,” kata dia.

Sebelumnya, Oegroseno mengaku dikriminalisasi lewat surat undangan klarifikasi Kortas Tipidkor Polri terkait dugaan korupsi hibah lahan Sepolwan di Jalan Ciputat Raya, Jakarta Selatan, dan pengadaan lahan di Lembang, Jawa Barat.

Ia menyebut, berdasarkan surat yang diterima, penyelidikan perkara ini dimulai pada 2 Juli 2026 dan permohonan hadir untuk klarifikasi dilayangkan pada16 Juli 2026.

Oegroseno juga mengaku heran jika kebijakan yang dilakukan lebih dari 15 tahun lalu kini justru diselidiki sebagai dugaan korupsi. Ia lantas mempertanyakan apakah penyelidikan itu telah didukung hasil audit BPK, BPKP, atau Irwasum Polri.

"Sekarang ada indikasi dituduh dugaan korupsi 15 tahun yang lalu. Silakan dilakukan penyelidikan, tapi pelajari dulu hukum acara pidana. Pidananya apa? Perbuatan pidananya apa? Sebutkan dulu kerugian negaranya," ujarnya.

Editorial Team

Related Article