Jakarta, IDN Times - Presiden Prabowo Subianto mengunjungi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk meninjau langsung penanganan gempa Magnitudo (M)7,7 pada 15 Agustus 2026. Sebelum melihat kondisi di lapangan, Prabowo terlebih dahulu menggelar rapat bersama jajaran terkait untuk mendapatkan laporan terbaru mengenai situasi bencana.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, menyampaikan perkembangan penanganan gempa kepada Prabowo. Suharyanto melaporkan dampak gempa terhadap sejumlah daerah.
"Jadi gempa ini untuk episentrumnya atau titiknya ada di sebelah utara tempat kita ini Bapak Presiden, di Nagekeo. Kemudian yang terdampak itu ada tujuh kabupaten Bapak Presiden, jadi dari mulai Labuan Bajo itu Manggarai Barat, kemudian Manggarai, Manggarai Timur, Kabupaten Nagekeo di sini Bapak Presiden, kemudian Ngada, Ende, dan Sikka Bapak Presiden," ujar Suharyanto.
Suharyanto mengatakan Flores timur tidak terdampak langsung gempa. Namun, wilayah tersebut sebelumnya menghadapi bencana erupsi Gunung Lewotobi
Dalam rapat tersebut, Suharyanto juga menyampaikan perkembangan aktivitas gempa. Hingga laporan terakhir yang disampaikan, tercatat ribuan gempa terjadi sejak bencana pertama pada 15 Agustus 2026.
"Kemudian kami laporkan data per siang ini, ini yang kemarin Bapak Presiden hari ini sebetulnya Bapak Kepala BMKG sudah punya data lagi, ini kemarin saja datanya untuk gempanya 7.259 kali Bapak Presiden, kemarin sampai jam 5 sore itu masih terjadi gempanya 7.259 kali," kata dia.
Suharyanto menjelaskan, jumlah tersebut merupakan akumulasi sejak gempa utama terjadi yang terjadi pada 15 Agustus 2026, dengan magnitudo (M)7,7.
"Dalam kurun waktu dari mulai tanggal 15 sampai hari kemarin Bapak Presiden. Total Bapak Presiden. Tapi yang tidak ada lagi yang gempanya di atas 7,7. Ada gempa yang 6,2, ini dari Kepala BMKG nanti mungkin akan menjelaskan secara rinci. Hanya gempa susulannya itu 142 kemarin, sekarang sudah 143 kali Bapak Presiden, yang dirasakan oleh masyarakat, yang terasa. Dari mulai tanggal 15 sampai sekarang, kalau hari ini hanya tinggal satu kali kemarin Bapak Presiden," ucap dia.
Suharyanto menyebut, aktivitas gempa susulan membuat banyak warga memilih mengungsi. Kondisi tersebut juga dipengaruhi kekhawatiran masyarakat serta informasi yang beredar di media sosial mengenai potensi gempa lebih besar dan tsunami.
"Tetapi ini mengakibatkan masyarakat itu banyak yang mengungsi karena ketakutan. Jadi sebetulnya jumlah pengungsian yang banyak ini bukan karena terdampak gempa secara langsung, tetapi karena gempa susulannya banyak mereka ketakutan, dan juga ada beberapa isu dari media sosial yang menyatakan bahwa akan ada gempa susulan yang lebih besar bahkan ada tsunami, ini yang kami terus perangi, gotong royong semua unsur untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat," kata dia.
Dalam laporan mengenai dampak bencana, Suharyanto menyampaikan terdapat 105 orang meninggal dunia. Selain itu, sebanyak 1.678 orang mengalami luka-luka dan 179.037 orang mengungsi.
"Kemudian untuk dampak Bapak Presiden kami laporkan, untuk yang meninggal dunia ada 105 jiwa Bapak Presiden, luka-luka 1.678, mengungsi 179.037 orang. Rumah rusak data sementaranya 81.436 orang, dan fasilitas umum yang lain sekolah, masjid, kemudian juga ada kantor pemerintah," ucap dia.
