Dubes Rusia Buka Suara soal Minyak yang Masuk ke Indonesia

- Sergei Tolchenov mengonfirmasi pengiriman pertama minyak Rusia telah tiba di Indonesia.
- Volume dan nilai transaksi tidak diungkap karena kontrak dilakukan perusahaan Rusia dan Indonesia secara komersial serta rahasia.
- Perdagangan bilateral Indonesia-Rusia naik 16 persen pada Januari-Juni 2026, sementara kedua negara melanjutkan komunikasi kerja sama.
Jakarta, IDN Times – Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, mengonfirmasi pengiriman pertama minyak Rusia telah tiba di Indonesia. Namun, ia enggan mengungkap volume maupun nilai transaksi karena pasokan tersebut merupakan kerja sama komersial antara perusahaan Rusia dan Indonesia.
Tolchenov mengatakan transaksi minyak tersebut tidak dilakukan oleh pemerintah Rusia ataupun Kedutaan Besar Rusia di Jakarta. Menurutnya, kontrak pasokan minyak merupakan kesepakatan bisnis antarpelaku usaha yang bersifat komersial dan rahasia.
"Ini sepenuhnya bersifat komersial. Bukan kedutaan saya yang menjual minyak, bukan negara Rusia, bukan pemerintah Rusia, melainkan perusahaan-perusahaan Rusia, perusahaan minyak dan gas," ujar Tolchenov dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Dia menambahkan, informasi mengenai kontrak dan nilai perdagangan tidak berada dalam kewenangan kedutaan untuk disampaikan kepada publik. Meski demikian, Tolchenov membenarkan pengiriman pertama minyak Rusia ke Indonesia telah berlangsung.
1. Minyak Rusia sudah tiba di Indonesia

Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov. (IDN Times/Marcheilla Ariesta) Tolchenov merujuk pada pemberitaan media lokal yang mengutip Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengenai kedatangan pengiriman pertama minyak Rusia ke Indonesia.
"Saya telah membaca di media lokal bahwa Pak Bahlil Lahadalia mengatakan pengiriman pertama minyak Rusia telah tiba. Saya percaya dia mengatakan yang sebenarnya. Itu memang benar-benar terjadi," kata Tolchenov.
Namun, dia tidak menjelaskan kapan pengiriman tersebut tiba maupun perusahaan mana saja yang terlibat dalam transaksi. Tolchenov juga menolak memberikan angka konkret mengenai volume minyak yang telah masuk ke Indonesia.
Menurutnya, informasi tersebut merupakan bagian dari kontrak komersial yang bersifat rahasia. Karena itu, dia memilih untuk tidak mengungkap detail transaksi antara perusahaan Rusia dan Indonesia.
"Jadi, tolong jangan tanyakan kepada saya angka konkretnya. Tetapi yang paling penting bagi saya adalah ini berlangsung, dan saya berharap akan terus berlangsung," ujarnya.
Tolchenov menegaskan kerja sama perdagangan kedua negara tidak hanya mencakup minyak. Rusia juga terus memasok sejumlah komoditas lain ke Indonesia, termasuk pupuk dan gandum.
"Gandum datang, minyak datang, pupuk datang," kata dia.
2. Perdagangan RI-Rusia naik 16 persen

Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov dalam press briefing di kediamannya di Jakarta. (IDN Times/Marcheilla Ariesta) Tolchenov mengatakan peningkatan kerja sama komersial tersebut tercermin dalam pertumbuhan perdagangan bilateral Indonesia-Rusia. Dia menyebut data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan perdagangan kedua negara meningkat 16 persen pada periode Januari-Juni 2026.
"Menurut data BPS, setelah enam bulan pertama, dari Januari hingga Juni 2026, perdagangan bilateral tumbuh 16 persen. Di dalamnya terdapat banyak minyak dan pupuk. Artinya, kerja sama ini terus berkembang," ujar Tolchenov.
Meski demikian, dia kembali menegaskan tidak dapat memberikan rincian mengenai nilai ataupun volume perdagangan komoditas tertentu. Menurutnya, informasi mengenai kontrak bisnis berada di ranah perusahaan dan bukan pemerintah.
Tolchenov juga mengatakan hubungan dagang Indonesia-Rusia berlangsung dalam situasi yang cukup kompleks. Dia mengeklaim kerja sama perusahaan kedua negara mendapat perhatian ketat dari negara-negara Barat, termasuk terkait potensi penerapan sanksi sekunder.
"Sayangnya, seluruh aktivitas bilateral kami berada di bawah pemantauan sangat ketat dari negara-negara Barat. Mereka tidak hanya melakukannya karena rasa ingin tahu, tetapi masih berusaha menerapkan apa yang kami sebut sanksi sekunder terhadap perusahaan-perusahaan Indonesia yang berani bekerja sama dengan negara saya dan perusahaan-perusahaan Rusia," katanya.
Karena kondisi tersebut, Tolchenov mengatakan Rusia dan mitranya cenderung berhati-hati dalam mengungkap seluruh bentuk kerja sama maupun negosiasi komersial yang sedang berlangsung.
3. Berpotensi ada kontrak baru di Vladivostok

potret pemandangan Kota Vladivostok dari Eagle’s Nest Viewpoint (commons.wikimedia.org/travelling_eidolon) Tolchenov mengatakan komunikasi antara Indonesia dan Rusia akan terus dilanjutkan untuk memperluas kerja sama di berbagai sektor. Dia berharap pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok dapat kembali mendorong hubungan ekonomi kedua negara.
Putin sebelumnya mengungkapkan rencana untuk bertemu Prabowo di Vladivostok pada awal September 2026. Pertemuan tersebut diperkirakan berlangsung di sela Eastern Economic Forum (EEF), forum ekonomi tahunan Rusia yang digelar di Vladivostok.
Menurut Tolchenov, pertemuan kedua pemimpin dapat menjadi momentum untuk membahas langkah-langkah baru dalam meningkatkan kerja sama bilateral, termasuk di bidang perdagangan dan energi.
"Jika pertemuan di Vladivostok digelar, kedua pemimpin akan terus membahas bagaimana meningkatkan kerja sama kami di semua bidang ini," ujarnya.
Dia juga membuka kemungkinan adanya penandatanganan sejumlah kontrak baru dalam rangkaian EEF. Namun, Tolchenov meminta agar informasi tersebut menunggu pengumuman resmi.
"Saya telah mendengar, tetapi mohon cukup bersabar. Kemungkinan beberapa kontrak akan ditandatangani di Vladivostok dalam rangka Eastern Economic Forum," kata Tolchenov.
Dengan masuknya minyak Rusia serta meningkatnya perdagangan bilateral, Rusia berharap hubungan ekonomi dengan Indonesia tidak berhenti pada perdagangan komoditas. Kedua negara sebelumnya juga tengah menjajaki pengembangan kerja sama industri, investasi dan teknologi, termasuk melalui penguatan kemitraan antarpelaku usaha.
Tolchenov menegaskan kontak antara kedua negara akan terus berlangsung. Dia berharap momentum pertemuan Prabowo dan Putin di Vladivostok dapat menghasilkan kesepakatan baru untuk memperluas hubungan ekonomi Indonesia-Rusia.
Pada akhir Juni lalu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan kontrak impor minyak mentah dari Rusia telah dilakukan dan siap dikembangkan lebih lanjut.
"Saya coba cek secara teknis, ya. Tapi yang saya tahu adalah kontrak sudah dilakukan oleh Lemigas (Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi), BLU (Badan Layanan Umum) daripada Kementerian ESDM," kata Bahlil.
Terkait volume minyak mentah yang akan diimpor dari Rusia, dia mengatakan terdapat potensi pengembangan lebih jauh.
"Untuk volume dia itu bisa berkembang lebih banyak lagi. Tapi nanti kontraknya coba saya liat lagi. Kita kan sudah ada deal antara G2G (government-to-government) dengan Presiden Putin dan Presiden Prabowo. Dan saya sudah juga melakukan komunikasi dengan Menteri ESDM Rusia," kata dia.


















