Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rangkaian Gempa di Indonesia Sebulan Terakhir, Terbesar M6,5
Update gempa bumi susulan gempa Flores M7.7 hingga tanggal 15 September 2026 pukul 05.00 WIB. (Foto/BMKG Indonesia)
  • Dalam periode 24 Agustus-22 September 2026, BMKG mencatat gempa terbesar M6,5 di timur Kepulauan Seribu, berkedalaman 368 kilometer dan terasa hingga Jawa serta Sumatra.

  • Laut Banda dan Maluku Utara mengalami gempa hingga M6,2 yang terkait penyesaran dasar laut, subduksi Laut Banda, serta deformasi dalam Lempeng Laut Maluku.

  • Selatan Jawa dan NTT turut diguncang gempa terkait subduksi serta Flores Back-Arc Thrust; NTT masih mengalami susulan gempa M7,7 Flores dengan 8.486 kejadian tercatat per 27 Agustus.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
15 Agustus 2026

Gempa besar M7,7 terjadi di Flores. Aktivitas gempa di Nusa Tenggara Timur kemudian menjadi bagian dari rangkaian gempa susulannya.

24 Agustus

Gempa M6,2 mengguncang Laut Banda pada pukul 21.10 WIB. BMKG menyebut gempa dangkal ini dipicu penyesaran dasar laut dan tidak berpotensi tsunami.

periode 24 Agustus hingga 21 September 2026

BMKG mencatat enam gempa di Nusa Tenggara Timur, terutama di Manggarai, Labuan Bajo, dan Nagekeo. Gempa-gempa tersebut berkekuatan M5,0 hingga M5,5 dan berkaitan dengan Flores Back-Arc Thrust.

27 Agustus

BMKG mencatat 8.486 gempa susulan setelah gempa M7,7 Flores. Magnitudo terbesar gempa susulan mencapai M6,2.

4 September

Gempa M5,4 terjadi di selatan Cilacap, Jawa Tengah.

8 September

Gempa M5,1 terjadi di Nusa Tenggara Timur. BMKG menyebutnya sebagai gempa dangkal akibat aktivitas Flores Back-Arc Thrust.

11 September

Gempa M6,2 terjadi di Laut Banda, sekitar 162 kilometer timur laut Maluku Barat Daya. BMKG mengklasifikasikannya sebagai gempa menengah akibat subduksi Laut Banda.

12 September 2026

Gempa M6,5 mengguncang Pantai Timur Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Gempa berkedalaman 368 kilometer ini dirasakan hingga sejumlah wilayah di Jawa dan Sumatra.

14 September

Gempa M5,9 terjadi di timur laut Pulau Doi, Maluku Utara, akibat deformasi dalam Lempeng Laut Maluku. Pada hari yang sama, gempa M5,2 terjadi di selatan Jawa Timur dan gempa M5,6 mengguncang selatan Bayah, Banten.

18 September

Gempa M5,2 terjadi di selatan Bayah dan Samudra Hindia selatan Jawa. BMKG mengaitkannya dengan subduksi Lempeng Indo-Australia; parameter terbaru mencatat M5,1 dengan kedalaman 33 kilometer.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Sejumlah wilayah Indonesia mengalami rangkaian gempa bermagnitudo hingga M6,5, termasuk di Laut Banda, Maluku Utara, Kepulauan Seribu, selatan Jawa, dan Nusa Tenggara Timur.
  • Who?
    BMKG mencatat dan menjelaskan aktivitas gempa yang terjadi; warga di sejumlah wilayah Jawa dan Sumatra merasakan guncangan gempa M6,5 pada 12 September.
  • Where?
    Gempa tercatat di Laut Banda dekat Maluku Barat Daya, timur laut Pulau Doi, Kepulauan Seribu, selatan Jawa, serta Manggarai, Labuan Bajo, dan Nagekeo di NTT.
  • When?
    Rangkaian aktivitas berlangsung sejak 24 Agustus hingga 22 September 2026. Gempa susulan di NTT tercatat dalam periode 24 Agustus sampai 21 September 2026.
  • Why?
    Gempa berkaitan dengan aktivitas subduksi, penyesaran dasar laut, deformasi di dalam Lempeng Laut Maluku, serta aktivitas Flores Back-Arc Thrust di NTT.
  • How?
    Gempa terjadi pada kedalaman dangkal hingga menengah, sementara gempa M6,5 di Kepulauan Seribu berkedalaman 368 kilometer. BMKG memperbarui sebagian parameter magnitudo dan kedalaman gempa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Dalam sebulan, banyak tempat di Indonesia berguncang karena gempa. BMKG mencatat gempa paling besar M6,5 dekat Kepulauan Seribu. Laut Banda, Maluku Utara, Jawa, dan NTT juga gempa. Di NTT masih ada gempa susulan setelah gempa besar di Flores. Beberapa gempa berasal dari gerakan lempeng di bumi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Rangkaian gempa ini juga menunjukkan peran penting pemantauan BMKG yang secara rinci mencatat lokasi, kedalaman, mekanisme, serta pembaruan parameter setiap kejadian. Informasi bahwa gempa Laut Banda tidak berpotensi tsunami dan identifikasi sumber aktivitas di berbagai wilayah memberi gambaran yang lebih jelas mengenai karakter gempa yang terjadi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Sejumlah wilayah Indonesia diguncang gempa bumi dengan magnitudo besar dalam sebulan terakhir, terhitung sejak 24 Agustus hingga 22 September 2026.

Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa dengan magnitudo terbesar dalam periode tersebut mencapai M6,5. Gempa ini terjadi di beberapa wilayah seperti Maluku Barat Daya, Maluku Utara, Kepulauan Seribu, hingga beberapa kawasan Jawa.

Penyebab adanya rangkaian gempa tersebut sebagian berkaitan dengan aktivitas subduksi, sementara gempa lainnya dipicu aktivitas sesar atau deformasi di dalam lempeng.

1. Laut Banda dan Maluku Utara diguncang gempa hingga M6,2

Gempa di Laut Banda terasa pada beberapa kabupaten di NTT. (Dok Istimewa)

Pada 24 Agustus 2026, gempa M6,2 mengguncang Laut Banda pada pukul 21.10 WIB. Titik gempa berada di laut, dengan kedalaman 39 kilometer dan berada pada jarak 166 km barat laut Maluku Barat Daya.

BMKG menyebut gempa tersebut merupakan gempa dangkal akibat penyesaran dasar Laut Banda, dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust fault. BMKG juga mencatat gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami.

Selanjutnya, pada 11 September, gempa M6,2 kembali terjadi di Laut Banda. Kali ini, pusat gempa berada sekitar 162 kilometer timur laut Maluku Barat Daya dengan kedalaman 148 kilometer. BMKG mengklasifikasikan sebagai gempa menengah akibat aktivitas subduksi Laut Banda.

Sementara pada 14 September, gempa M5,9 terjadi di wilayah timur laut Pulau Doi, Maluku Utara, dengan kedalaman 147 kilometer. BMKG menyebut gempa tersebut merupakan gempa menengah akibat deformasi dalam Lempeng Laut Maluku.

2. Gempa M6,5 di Kepulauan Seribu dengan kedalaman mencapai 368 kilometer

Pusat gempa 5,9 M yang berpusat di kepulauan seribu ikut dirasakan warga di Banyumas jelang subuh, Sabtu (12/9/2026).(IDN Times/Tangkapan layar BMKG)

Pada 12 September 2026, gempa M6,5 mengguncang wilayah Pantai Timur Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Gempa tersebut berada di kedalaman 368 kilometer dan dirasakan hingga sejumlah wilayah di Jawa dan Sumatra. BMKG mencatat guncangan mencapai IV MMI di Pandeglang, Lebak, Serang, Sukabumi, Cianjur, dan Tanggamus.

3. Selatan Jawa diguncang beberapa gempa, berkaitan dengan zona subduksi

Peta titik pusat gempa Cilacap (google.com/rri.co.id)

Aktivitas gempa juga terjadi beberapa kali di kawasan selatan Jawa selama periode tersebut. Pada 4 September, gempa M5,4 terjadi di selatan Cilacap, Jawa Tengah. Kemudian pada 14 September, gempa M5,2 terjadi di selatan Jawa Timur. Gempa lainnya terjadi di selatan Bayah, Banten, dengan magnitudo M5,6 pada 14 September dan M5,2 pada 18 September.

Untuk gempa M5,6 di selatan Bayah, BMKG menyebut gempa tersebut merupakan gempa dangkal akibat aktivitas subduksi lempeng, dengan mekanisme oblique thrust fault. Setelah pemutakhiran, magnitudonya menjadi M5,5 dengan kedalaman 31 kilometer.

Pada 18 September, gempa M5,2 juga terjadi di Samudra Hindia selatan Jawa. BMKG menyebut gempa tersebut berasal dari aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia dengan mekanisme oblique thrust fault. Parameter terbarunya mencatat magnitudo M5,1 dan kedalaman 33 kilometer.

4. NTT masih diguncang gempa susulan

Peta intensitas guncangan gempa di wilayah Flores. (BMKG)

Wilayah Nusa Tenggara Timur, juga menjadi salah satu kawasan dengan aktivitas gempa yang cukup menonjol selama periode ini. Pada periode 24 Agustus hingga 21 September 2026, BMKG mencatat ada 6 gempa yang terjadi di Nusa Tenggara Timur. Sebagian besar gempa berkekuatan M5,0 hingga M5,5, di wilayah Manggarai, Labuan Bajo, dan Nagekeo.

Gempa-gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas Flores Back-Arc Thrust. BMKG menyebut gempa M5,1 pada 8 September sebagai gempa dangkal akibat aktivitas Flores Back-Arc Thrust.

Aktivitas tersebut juga merupakan bagian dari rangkaian gempa susulan setelah gempa besar M7,7 di Flores pada 15 Agustus 2026. Pada 27 Agustus, BMKG mencatat sudah terjadi 8.486 aktivitas gempa susulan dengan magnitudo terbesar M6,2.

Curated For You

Editorial Team

Related Article