Suasana loket BPJS Kesehatan. (Dok. IDN Times/istimewa)
Dedi menyadari, keramahan tenaga medis memang menjadi salah satu suntikan moral yang berharga.
Namun, tak hanya itu, dirinya juga menegaskan bahwa kekuatan utamanya untuk bertahan sejauh ini bertumpu pada kokohnya perlindungan finansial dari Program JKN. Kepesertaan JKN aktif menambah semangat dirinya menjalani proses cuci darah
"Saya merasa sangat-sangat tertolong. Jika seluruh biaya pengobatan ini harus saya tanggung sendiri, entah dari mana uangnya. Biaya cuci darah rutin itu sangat besar, bisa meremukkan perekonomian keluarga kecil kami. Kalau tidak ditanggung BPJS Kesehatan, tidak sanggup saya. Sekali cuci darah sudah berapa, apalagi saya sudah menjalani cuci darah selama lima tahun," ujar Dedi.
Kisah Dedi Syahril adalah potret nyata bagaimana gotong royong dalam JKN menjelma menjadi napas kehidupan bagi jutaan jiwa. Ia pun berpesan agar masyarakat tidak abai menjaga kesehatan, rutin melakukan kontrol pasca-medis, dan segera memastikan diri terdaftar sebagai peserta aktif JKN.
"Program JKN benar-benar penolong nyata bagi saya, terima kasih BPJS Kesehatan dan tim medis yang telah menemani perjuangan saya, Semoga dedikasi mulia ini terus terjaga demi menyambung asa banyak orang di luar sana," katanya. (WEB)