Acara Jambore Relawan Kebencanaan Tahun 2026 sekaligus memperingati Hari Bambu Dunia di Kampung Bamboo, Jalan Padasuka KM 04, Kampung Sukasari, Cimenyan, Kabupaten Bandung, Sabtu (12/9/2026). (Dok. Pemprov Jabar)
Untuk memahami situasi tersebut, relawan dapat menggunakan prinsip 5W+1H, yakni what, where, when, who, why, dan how atau apa yang terjadi, di mana, kapan, siapa yang terdampak, mengapa terjadi, serta bagaimana langkah membantu.
Adapun complexity atau kompleksitas harus dijawab dengan clarity, yakni kemampuan melihat persoalan secara jelas dan menentukan prioritas tindakan. Sedangkan ambiguity atau situasi yang tidak jelas harus dihadapi dengan agility atau kelincahan melalui komunikasi dan koordinasi yang baik agar seluruh unsur bergerak dalam arah yang sama.
"Jadi, volatility dijawab dengan vision. Uncertainty dijawab dengan understanding. Complexity dijawab dengan clarity. Dan ambiguity dijawab dengan agility," kata Herman.
Karena itu, Herman mendorong para relawan untuk bekerja berbasis data dan pendekatan ilmiah. Dengan bekal tersebut, relawan diharapkan mampu memberikan pertolongan secara efektif sekaligus memastikan keselamatan diri dan masyarakat yang dibantu.
"Jadilah relawan yang berbasis data dan berbasis ilmiah. Insyaallah, teman-teman relawan akan menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Jambore Relawan Kebencanaan Tahun 2026 Dede Koswara mengatakan, kegiatan yang berlangsung pada 11-13 September 2026 tersebut menjadi wadah silaturahmi, peningkatan kapasitas, berbagi pengalaman, sekaligus memperkuat sinergi antarelawan kebencanaan.
Jambore diikuti 453 peserta yang berasal dari kalangan pelajar SMA dan SMK serta organisasi dan komunitas kebencanaan dari berbagai wilayah di Jawa Barat. Selain itu, terdapat pula perwakilan peserta dari Palembang. Dengan pendamping dan unsur pendukung lainnya, total peserta dan pendamping dalam kegiatan tersebut mencapai sekitar 550 peserta.
Selama tiga hari, berbagai kegiatan dilaksanakan, mulai dari registrasi dan orientasi peserta, pembukaan, penguatan materi kerelawanan, pelatihan dan praktik, simulasi kegiatan lapangan, kegiatan kebencanaan, hingga edukasi dan konservasi. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan evaluasi dan penutupan.
"Melalui rangkaian kegiatan tersebut kami berharap peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru, tetapi juga membangun jejaring dan semangat kebersamaan dalam menjalankan tugas-tugas kemanusiaan," ujar Dede.