Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Riset UI: 73,3 Persen Sekolah Temui Kendala Dapur MBG
Petugas menyiapkan makanan di SPPG. (IDN Times/Larasati Rey)
  • Riset Labsosio UI meneliti dampak program Makan Bergizi Gratis di lima daerah dengan melibatkan 1.267 responden dari 30 sekolah selama Oktober–Desember 2025.
  • Sekitar 73,3 persen sekolah menghadapi kendala dapur MBG, terutama keterlambatan pengiriman makanan dan masalah koordinasi distribusi antarjenjang pendidikan serta wilayah layanan yang luas.
  • Hanya 46 persen responden menilai distribusi makanan tepat waktu, sementara beban kerja tinggi di dapur menyebabkan kelelahan pekerja dan potensi kesalahan dalam proses produksi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Labsosio Pusat Kajian Sosiologi Universitas Indonesia melakukan riset terkait dampak pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap proses persekolahan di lima kabupaten/kota pada periode Oktober hingga Desember 2025.

Penelitian dengan metode campuran ini menyoroti sejumlah kendala operasional, mulai dari persoalan dapur, hambatan distribusi, keterlambatan pengiriman makanan, hingga beban kerja petugas yang cukup tinggi.

Riset ini mengumpulkan data dari total 1.267 responden yang tersebar di 30 sekolah di lima daerah berbeda, meskipun hasilnya tidak dimaksudkan untuk menggeneralisasi kondisi di tingkat nasional.

Rincian sampel tersebut meliputi enam sekolah di Kota Kupang, enam sekolah di Kota Depok, enam sekolah di Kabupaten Sukabumi, enam sekolah di Kabupaten Garut, dan enam sekolah di Pesisir Selatan.

Berikut hasil temuan Labsosio Pusat Kajian Sosiologi Universitas Indonesia!

1. Banyak kendala dengan dapur

SPPG Pondok Kelapa Jakarta Timur. (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Berdasarkan hasil survei, sebanyak 73,3 persen sekolah mengaku pernah menghadapi kendala dengan pihak dapur MBG. Permasalahan yang umumnya muncul adalah keterlambatan dalam pengiriman makanan ke pihak sekolah.

2. Distribusi dari dapur ke sekolah

SPPG menyiapkan paket makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (6/1/2025). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Proses penyaluran makanan dinilai sulit karena beragamnya jenis penerima manfaat yang memicu perbedaan jadwal distribusi, seperti antara sekolah dan Posyandu atau antara jenjang SD dan SMA.

Di beberapa daerah seperti Kupang (Nusa Tenggara Timur), Pesisir Selatan (Sumatra Barat), dan Garut (Jawa Barat), kehadiran SPPG baru memicu disrupsi koordinasi dengan pihak sekolah

Selain itu, ditemukan kasus pembagian makanan secara selektif berdasarkan afiliasi ormas keagamaan tertentu, serta kendala distribusi akibat cakupan wilayah layanan yang terlalu luas, dengan contoh kasus di Pesisir Selatan, Sumatra Barat.

3. Keterlambatan distribusi makanan ke sekolah

SPPG menyiapkan paket makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (6/1/2025). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Data riset menunjukkan hanya 46 persen responden yang menilai pengiriman makanan ke sekolah sudah tepat waktu. Masalah keterlambatan distribusi ini masih mewarnai pelaksanaan program di sekolah, yang kemudian berdampak pada kualitas makanan yang disediakan bagi para siswa.

4. Beban kerja dapur

Petugas menyiapkan makanan di SPPG. (IDN Times/Larasati Rey)

Terdapat empat persoalan utama terkait tingginya beban kerja di bagian dapur:

  • Kapasitas produksi yang masif memaksa jam masak terlalu dini

  • Kelelahan pekerja dapur memperbesar human error

  • Jam kerja ahli gizi yang terlalu panjang

  • Variasi kebijakan yayasan untuk insentif bagi pekerja

Editorial Team