Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Saat Orang-Orang Lingkar Istana Salip Para Bintang Akmil di Seskoad
Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Maruli Simanjuntak ketika menutup pendidikan reguler LXVII Seskoad tahun 2026. (Dokumentasi TNI AD)
  • Letkol Teddy Indra Wijaya dan Letkol Donny Sopyan, dua perwira dekat Presiden Prabowo, meraih penghargaan tertinggi di pendidikan reguler ke-67 Seskoad dan menarik perhatian publik serta kalangan militer.
  • Akademisi Selamat Ginting menilai munculnya elite baru di tubuh TNI yang tumbuh bersama kepemimpinan Prabowo, dengan akses strategis ke pusat pengambilan keputusan nasional dan isu pertahanan negara.
  • Fenomena ini dianggap mencerminkan kompetisi kompleks di lingkungan TNI, bukan sekadar soal reputasi masa taruna, dengan sejumlah perwira lain juga menerima penghargaan atas prestasi akademik dan profesional mereka.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pendidikan reguler ke-67 Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) memang sudah ditutup pada Rabu, 3 Juni 2026. Namun, keberadaan prajurit TNI AD yang merupakan lingkar dekat Presiden Prabowo Subianto di pendidikan tersebut menjadi sorotan luas publik serta kalangan militer.

Letnan Kolonel (Inf) Teddy Indra Wijaya dan Letnan Kolonel (Inf) Donny Sopyan meraih penghargaan di penghujung masa tugas di Seskoad. Teddy yang menjabat sebagai Sekretaris Kabinet didapuk sebagai perwira siswa dengan tugas penulisan kertas karya perorangan terbaik. Sedangkan, Denny yang menjadi bagian dari grup pasukan pengamanan presiden meraih peringkat I prestasi belajar terbaik pasis TNI.

Akademisi dari Universitas Nasional, Selamat Ginting, memberi catatan peraih Adhi Makayasa Akmil 2011, Mayor (Czi) Henric Pardamean Hutagalung, justru berada di peringkat kedua untuk kategori prestasi belajar terbaik. Padahal, Teddy dan Denny juga merupakan lulusan Akmil 2011.

"Di ruang publik, fenomena ini dapat dibaca sederhana yakni orang-orang Presiden mengalahkan para peraih Adhi Makayasa. Namun, apakah sesederhana itu? Jawabannya, belum tentu," ujar Selamat kepada IDN Times melalui pesan pendek, Selasa (9/6/2026).

Di sisi lain, Selamat melihat pembentukan opini mengenai Teddy seolah-olah superman. Sebab, ia bisa tetap berprestasi di Seskoad tanpa perlu mengambil cuti tugas.

"Teddy bagaikan superman, tetap bertugas sebagai Seskab tanpa cuti pendidikan kemudian di saat bersamaan mengikuti pendidikan reguler Seskoad. Selain itu, ia juga mengambil pendidikan doktoral di Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (ITB)," tutur dia.

Dalam pandangan Selamat, tak heran bila publik bertanya-tanya bagaimana cara Teddy bisa membagi waktu dan tetap berprestasi di Seskoad.

1. Publik mempertanyakan penghargaan di Seskoad apa betul prestasi akademik

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Maruli Simanjuntak ketika menutup pendidikan reguler LXVII Seskoad tahun 2026. (Dokumentasi TNI AD)

Lebih lanjut, Selamat mengatakan di dalam tradisi militer modern, Adhi Makayasa merupakan simbol keunggulan akademik, kepemimpinan mental dan jasmani saat lulus dari akademi. Tetapi, penghargaan tersebut diberikan pada titik awal karier. Bukan jaminan seseorang akan selalu menjadi yang terbaik sepanjang perjalanan dinas.

"Teddy dan Denny bukan peraih Adhi Makayasa pada 2011. Tetapi, mereka justru menunjukkan sistem pendidikan di Seskoad masih memberikan ruang bagi kompetisi terbuka," katanya.

Namun, bila publik mengaitkan prestasi itu dengan posisi keduanya sebagai bagian orang dekat presiden, maka persepsi tersebut tak bisa dihindari. Apalagi kedua figur itu yang diasosiasikan dekat dengan pusat kekuasaan mendapat kenaikan pangkat lebih cepat dari teman seangkatannya.

"Kemudian, memperoleh prestasi tertinggi saat mengikuti pendidikan Seskoad dengan tetap memegang jabatan lingkaran presiden. Tentu, sebagian kalangan akan bertanya apakah ini murni prestasi akademik atau ada faktor kedekatan dengan kekuasaan?" tutur dia.

Maka tantangan terbesar bukan membuktikan keduanya pintar. Melainkan memastikan seluruh proses penilaian berlangsung transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

2. Mulai muncul elite baru di dunia militer

Personel Komandan Paspampres, Letkol Inf Denny Sopyan ketika berfoto dengan Komandan Paspampres, Mayjen TNI Edwin Sumantha. (www.instagram.com/@densop_216)

Selamat juga menilai yang kini terjadi dapat dibaca sebagai regenerasi elite militer. Di dalam sejarah Indonesia, kata Selamat, selalu muncul kelompok perwira yang tumbuh bersama seorang presiden.

"Pada masa Soeharto dikenal jaringan perwira yang memiliki kedekatan dengan presiden. Pada era Susilo Bambang Yudhoyono muncul pula kelompok perwira yang berkembang bersama pemerintahan SBY. Bahkan, di era Jokowi muncul istilah Geng Solo, perwira-perwira yang pernah berdinas di Solo sejak Jokowi menjadi Wali Kota Solo dan kelak kariernya bagai meteor," ungkapnya.

Kini pada era Prabowo, mulai terlihat kemunculan generasi baru perwira yang memiliki akses langsung ke pusat pengambilan keputusan nasional. Akses tersebut memberikan keuntungan besar.

"Mereka memperoleh pengalaman strategis yang tidak selalu didapatkan oleh perwira lapangan biasa. Mereka berinteraksi dengan isu geopolitik, diplomasi pertahanan, keamanan nasional, dan proses pembuatan kebijakan negara," tutur dia.

Pengalaman seperti itu, kata Selamat, secara alamiah meningkatkan kapasitas intelektual dan strategis seorang perwira ketika mengikuti pendidikan seperti Seskoad.

Ia menggarisbawahi Teddy pun kini menjadi bagian dari president's man kepemimpinan Prabowo. Meski dulu, ia adalah asisten ajudan Jokowi.

3. Daftar perwira yang meraih penghargaan usai melewati Seskoad ke-67

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Maruli Simanjuntak ketika menutup pendidikan reguler LXVII Seskoad tahun 2026. (Dokumentasi TNI AD)

Di penghujung analisanya, Selamat mengatakan fenomena ini tak harus dibaca sebagai kekalahan para peraih Adhi Makayasa. Hal ini juga bisa dibaca sebagai bukti kompetisi di dalam tubuh TNI berlangsung jauh lebih kompleks daripada sekedar reputasi masa taruna.

Berikut daftar perwira yang turut meraih penghargaan saat pendidikan reguler ke-67 Seskoad selain Teddy dan Denny Sopyan:

  1. Mayor Inf Egy Satria Binthara: peringkat II penulis taskap terbaik (memperoleh medali dan piagam).

  2. Mayor (Czi) Henric Pardamean Hutagalung: peringkat kedua prestasi belajar terbaik

  3. Kolonel Inf Josep Tanada Sidabutar: dosen terbaik.

  4. Brigjen TNI Waris Aris Nugroho: pabing taskap terbaik berdasarkan hasil penilaian yang dilakukan oleh para peserta didik dan dewan penguji.

Editorial Team

Related Article