Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Perang Mereda, AS dan Iran Sepakat Setop Saling Serang

Perang Mereda, AS dan Iran Sepakat Setop Saling Serang
ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art)
Intinya Sih
  • AS dan Iran sepakat menghentikan aksi saling serang yang kembali meletus sejak 11 Juli, dengan keputusan AS pada 24 Juli diikuti Iran pada 26 Juli.
  • Iran menyatakan akan menahan serangan selama AS tidak memulai serangan, tetapi akan membalas jika Washington kembali menyerang sesuai prinsip “serangan dibalas serangan”.
  • Presiden Donald Trump memilih diplomasi karena persediaan senjata dan anggaran AS menipis, sementara Qatar serta Pakistan mendorong kedua pihak kembali berunding.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat (AS) dan Iran sepakat untuk menghentikan aksi saling serang. Keputusan ini praktis mengakhiri bentrokan kedua negara yang kembali meletus pada 11 Juli lalu. Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mike Waltz, juga telah mengonfirmasi keputusan ini. 

Awalnya, keputusan ini dilakukan oleh AS pada Jumat (24/7/2026) pekan lalu usai Presiden Donald Trump dinasihati bawahannya untuk berhenti menyerang Iran. Sebab, persediaan senjata milik militer AS kini kian menipis. Tidak lama kemudian, keputusan ini diikuti oleh Iran pada Minggu (26/7/2026).

1. Iran akan membalas jika AS kembali menyerang

Bendera Iran sedang berkibar.
potret bendera Iran (pixabay.com/Chickenonline)

Seorang pejabat senior Iran anonim mengatakan, meski sudah sepakat menahan serangan, negaranya akan tetap membalas jika AS kembali menyerang. Sebab, Iran kini menganut prinsip “Serangan dibalas serangan”. Artinya, Iran akan menyerang ketika AS menyerang. Namun, Teheran akan menahan serangan jika Washington melakukan hal serupa. 

Menurut pejabat tersebut, prinsip itu sudah disampaikan ke AS. Oleh karena itu, Negeri Paman Sam sudah mengetahui bahwa Iran tidak akan melakukan serangan apa pun jika mereka tidak memulainya. 

“Pesan itu sudah disampaikan kepada Amerika Serikat,” jelas pejabat tersebut, seperti dilansir The Strait Times.

2. Trump memilih jalur diplomasi untuk menyudahi konflik dengan Iran

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang menyampaikan pidato tentang perekonomian di Rockland Community College di Suffern, New York, pada 22 Mei 2026.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang menyampaikan pidato tentang perekonomian di Rockland Community College di Suffern, New York, pada 22 Mei 2026. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Waltz menambahkan, Trump kini lebih memilih jalur diplomasi melalui negosiasi untuk menyudahi konflik dengan Iran. Sebab, Trump menilai cara ini lebih efektif ketimbang melanjutkan agresi militer. Terlebih, pasukan AS kini juga sudah mulai kehabisan persediaan amunisi dan senjata sehingga akan berisiko jika serangan ke Iran dilanjutkan.

“Dia (Donald Trump) memberi ruang bagi pembicaraan. Dia memberi sedikit kelonggaran,” kata Waltz tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. 

Senada dengan Waltz, Direktur Bidang Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, juga mengatakan bahwa Trump kini lebih memilih jalur diplomasi ketimbang perang. Sebab, anggaran AS sudah banyak terkuras hanya untuk mendanai perang dengan Iran. Ini tentu bukan hal yang bagus mengingat kondisi ekonomi AS kini sedang tidak baik.

3. Mediator berupaya keras untuk mencegah eskalasi konflik AS dan Iran

Esmaeil Baghaei sedang berpidato.
potret Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei (commons.wikimedia.org/Foad Ashtari)

Agar bentrokan tidak kembali meletus, mediator perdamaian AS dan Iran, Qatar dan Pakistan, kini sedang berupaya untuk mencegah eskalasi konflik kedua negara. Caranya adalah dengan mendesak Washington dan Teheran untuk kembali ke meja perundingan. Sebab, perundingan damai kedua negara sudah lama tertunda.

“Para mediator sedang bekerja dan berupaya mencegah ketegangan agar tidak meningkat,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, dalam konferensi pers pada Minggu dilansir The Guardian.

Perundingan damai antara AS dan Iran sebetulnya sudah dijadwalkan akan berlangsung setelah upacara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei rampung pada 9 Juli. Namun, rencana tersebut gagal terlaksana karena kedua negara kembali berperang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More