Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Saat Panglima TNI Perintahkan OPM Harus Ditumpas
Panglima TNI, Jenderal Agus Subiyanto ketika menghadiri festival band TNI tahun 2026. (Dokumentasi Puspen TNI)
  • Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menyebut OPM sebagai kelompok separatis yang harus ditindak, serta meminta penanganan Papua melibatkan semua pihak, bukan hanya TNI.

  • Satgas TNI Habema terlibat kontak tembak dengan kelompok Daniel Aibon Kogoya di Intan Jaya setelah upaya persuasif dibalas tembakan; empat anggota OPM tewas.

  • TNI menyita senjata, amunisi, dan sejumlah barang dari lokasi kejadian. Kogabwilhan III menyatakan aparat gabungan akan terus mengejar pelaku kejahatan kemanusiaan sesuai hukum dan HAM.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Jumat, 25 September 2026

Satgas TNI Habema terlibat kontak tembak dengan OPM di sekitar Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Empat anggota OPM dari kelompok Daniel Aibon Kogoya tewas.

Sabtu, 26 September 2026

Panglima Kogabwilhan III Letjen TNI Lucky Avianto menyatakan TNI telah lebih dulu melakukan upaya persuasif sebelum kontak tembak. Ia mengatakan anggota OPM merespons dengan ratusan peluru tajam.

Minggu, 27 September 2026

Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menegaskan OPM adalah kelompok separatis yang harus ditumpas. Ia menyerukan keterlibatan semua pihak dalam penanganan masalah di Papua.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menyatakan OPM sebagai kelompok separatis yang harus ditindak. Sebelumnya, kontak tembak TNI dengan kelompok OPM di Intan Jaya menewaskan empat anggota OPM.
  • Who?
    Jenderal Agus Subiyanto, Satgas TNI Habema, Kogabwilhan III yang dipimpin Letjen TNI Lucky Avianto, anggota OPM kelompok Daniel Aibon Kogoya, serta kepolisian terlibat dalam penanganan keamanan Papua.
  • Where?
    Pernyataan Agus disampaikan di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan. Kontak tembak terjadi di sekitar Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah.
  • When?
    Agus menyampaikan pernyataan pada Minggu, 27 September 2026. Kontak tembak Satgas TNI Habema dengan OPM berlangsung pada Jumat, 25 September 2026.
  • Why?
    Agus menyatakan tidak boleh ada kelompok separatis di Indonesia. TNI menyebut kelompok OPM terdeteksi hendak memasuki permukiman warga untuk menebar teror dan merespons pendekatan persuasif dengan tembakan.
  • How?
    TNI mendeteksi pergerakan kelompok melalui drone, melakukan pendekatan persuasif, lalu terjadi kontak tembak. TNI menyita senjata dan sejumlah barang, sementara anggota OPM lain melarikan diri ke hutan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
TNI dan OPM saling tembak di Intan Jaya, Papua. Empat anggota OPM meninggal, lalu anggota lain lari ke hutan. TNI bilang semua prajuritnya selamat. TNI juga mengambil senjata dan barang lain di tempat itu. Panglima TNI Agus Subiyanto bilang OPM kelompok separatis. Sekarang TNI dan polisi akan terus mencari anggota OPM.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Penanganan Papua dalam artikel ini menampilkan upaya yang tidak semata bertumpu pada operasi keamanan. Selain pendekatan persuasif sebelum kontak tembak, TNI menyebut kegiatan teritorial seperti membantu gereja dan pengeboran air bersih, sementara tindakan di lapangan diklaim berpedoman pada aturan pelibatan, hukum, HAM, serta keselamatan warga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menegaskan Organisasi Papua Merdeka (OPM) merupakan kelompok separatis sehingga harus ditindak. Ia menggarisbawahi tak boleh ada kelompok separatis di Tanah Air.

Pernyataan itu disampaikan Agus untuk merespons pertanyaan soal adanya protes dari anggota OPM yang menuding TNI membombardir organisasi tersebut menggunakan pesawat Super Tucano. Alutsista itu disebut OPM digunakan dalam operasi militer di Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan.

"OPM kan separatis ya maka harus ditumpas. Tak boleh ada separatis di negara kita," ungkap Agus di area Pancoran, Jakarta Selatan pada Minggu, 27 September 2026.

Ia menambahkan masalah di Bumi Cendrawasih, khususnya terkait penanganan OPM, bukan menjadi tanggung jawab TNI semata. Jenderal bintang empat itu mendorong agar semua pihak ikut terlibat dalam penanganan di Papua agar masalah di sana bisa dituntaskan. Ia menilai bila hanya TNI yang terlibat mengurus Papua akan dipersepsikan tentara melakukan militerisime.

"Kalau konotasinya hanya TNI nanti (dianggap melakukan) kekerasan. Padahal, TNI di sana itu melakukan operasi teritorial secara masif, mengurus gereja, hingga melakukan pengeboran untuk mendapatkan air bersih," kata mantan KSAD itu.

1. TNI berhasil tewaskan empat anggota OPM

Anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang tewas usai terlibat baku tembak dengan pasukan timsus Yonif 315 Garuda dan tim Taipur Koops TNI Habema pada 25 September 2026. (Dokumentasi Kogabwilhan III TNI)

Sebelumnya, satgas TNI Habema terlibat kontak tembak dengan OPM pada Jumat, 25 September 2026 di sekitar Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Kontak tembak itu menewaskan empat anggota OPM yang merupakan bagian dari kelompok Daniel Aibon Kogoya.

Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III, Letnan Jenderal TNI Lucky Avianto menjelaskan, keberadaan dan gerakan kelompok separatis itu berhasil terdeteksi lewat pantauan pesawat nirawak atau drone. Mereka akan masuk ke dalam permukiman warga untuk menebar teror.

Lucky menyebut, TNI tak langsung mengambil tindakan represif. Mereka sudah berupaya untuk mendekati anggota OPM sebelum kontak tembak terjadi.

"Kami telah terlebih dahulu melakukan berbagai upaya persuasif, mengetuk hati mereka agar mau meletakan senjata demi kedamaian di Tanah Papua," ungkap Lucky di dalam keterangan yang dikutip pada Sabtu, 26 September 2026.

Anggota OPM merespons upaya TNI dengan ratusan peluru tajam. Kontak tembak pun, kata Jenderal bintang tiga itu, tak dapat dihindari.

2. TNI berhasil menyita delapan pucuk senjata

Anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang tewas usai terlibat baku tembak dengan pasukan timsus Yonif 315 Garuda dan tim Taipur Koops TNI Habema pada 25 September 2026. (Dokumentasi Kogabwilhan III TNI)

Lebih lanjut, kata Lucky, dalam kontak tembak itu, TNI menewaskan empat anggota OPM. Sedangkan sisa anggota OPM lainnya melarikan diri ke hutan Papua. Empat jasad anggota OPM ditinggalkan begitu saja oleh anggota lainnya.

"Sementara, seluruh prajurit TNI selamat dan tak ada yang terluka," kata Lucky.

Ia menambahkan, dari lokasi kontak senjata, TNI menemukan dan menyita beberapa barang milik OPM, antara lain satu senapan serbu SS 2 V4 dan puluhan peluru tajam.

"Selain itu, satu senapan modifikasi merk Shap Inova, lima busur panah, enam parang panjang, 3 bilah pisau, satu buku tabungan Bank Papua atas nama H-H, enam unit gawai hingga satu lembar bendera bintang kejora," tutur dia.

3. TNI memperingatkan akan terus mengejar anggota OPM

Sopir travel asal Toraja, Aris Sanda yang tewas dibunuh oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Kabupaten Jayawijaya, Papua. (Dokumentasi Puspen TNI)

Di bagian akhir keterangannya, Lucky wanti-wanti semua anggota OPM bahwa tim gabungan dari kepolisian dan tentara bakal terus mengejar dan menangkap seluruh pelaku kejahatan kemanusiaan di Tanah Papua. TNI dan polisi akan memburu mereka baik dalam keadaan hidup maupun mati.

"Kogabwilhan III akan mengambil tindakan tegas berdasarkan undang-undang dan peraturan yang berlaku, di mana Rules of Engagement (ROE) senantiasa dikedepankan untuk memastikan seluruh tindakan prajurit tetap profesional dan menjunjung tinggi hukum serta HAM," kata Lucky.

Ia memastikan, satgas TNI tidak akan ragu mengambil tindakan tegas dan terukur ketika berhadapan dengan situasi tertentu, khususnya dalam keadaan mendesak.

"Prinsip salus populi suprema lex esto (keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi) senantiasa menjadi pedoman satgas TNI, terutama dalam menghadapi kekejaman OPM," imbuhnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article