Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Singgung Ilusi Algoritma, Menkomdigi Minta Warga Tak Mudah Terprovokasi
Blokade Demo Mahasiswa di Sudirman Dibuka, Polisi dan Massa Bersalaman (IDN Times/Irfan Fathurohman)

  • Menkomdigi Meutya Hafid mengingatkan publik soal bahaya ilusi algoritma di media sosial yang bisa memengaruhi persepsi dan mendorong penyebaran informasi tidak akurat saat aksi demo mahasiswa.
  • Meutya menegaskan pentingnya menyampaikan kritik secara tertib dan damai agar aspirasi masyarakat tersampaikan tanpa menimbulkan kekerasan atau kerusakan fasilitas umum.
  • Pemerintah menegaskan keterbukaannya terhadap aspirasi dan kritik masyarakat, namun mengimbau agar ruang digital tidak digunakan untuk provokasi, hoaks, atau manipulasi informasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
13 Juni 2026

Mahasiswa dan masyarakat menggelar demonstrasi di Bundaran HI, Jakarta Pusat, membawa lima tuntutan kepada pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka. Aksi ini menyoroti isu pemborosan APBN, harga kebutuhan pokok, dan kebijakan pemerintah lainnya.

13 Juni 2026

Menkomdigi Meutya Hafid meminta publik mewaspadai ilusi algoritma di media sosial setelah aksi tersebut. Ia mengimbau masyarakat tidak mudah terprovokasi dan memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Menteri Komunikasi dan Digital meminta masyarakat mewaspadai ilusi algoritma di media sosial serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi setelah aksi demonstrasi mahasiswa di Jakarta.
  • Who?
    Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyampaikan imbauan tersebut, menanggapi aksi demonstrasi yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia bersama sejumlah warga.
  • Where?
    Pernyataan disampaikan di Jakarta, sementara aksi demonstrasi berlangsung di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.
  • When?
    Pernyataan Meutya Hafid dikutip pada Sabtu, 13 Juni 2026, sehari setelah aksi demonstrasi yang digelar pada Jumat, 12 Juni 2026.
  • Why?
    Imbauan dikeluarkan untuk mencegah penyebaran hoaks, provokasi, dan manipulasi informasi digital yang dapat memicu kekerasan atau perpecahan di tengah masyarakat.
  • How?
    Meutya mengingatkan agar publik memeriksa informasi dari berbagai sumber, menjaga penyampaian kritik tetap damai, serta tidak membiarkan ruang digital digunakan untuk memperbesar provokasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada banyak orang demo di Bundaran HI, mereka mahasiswa dan warga. Bu Meutya, Menteri Komunikasi dan Digital, bilang jangan cepat percaya sama berita di media sosial karena bisa salah. Ia minta semua orang tetap tenang, tidak marah, dan tidak rusak barang. Katanya kalau mau kritik boleh, tapi harus damai dan sopan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pernyataan Menkomdigi Meutya Hafid menunjukkan upaya pemerintah menjaga keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan ketertiban publik. Dengan menekankan pentingnya verifikasi informasi serta penyampaian kritik secara damai, ia mendorong masyarakat untuk berpartisipasi aktif namun tetap bertanggung jawab dalam ruang demokrasi, sekaligus memperkuat budaya dialog yang sehat di era digital.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, meminta publik mewaspadai fenomena ilusi algoritma di media sosial menyusul aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa dan kalangan masyarakat di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Jumat (13/6/2026). Dia meminta masyarakat tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, termasuk ajakan yang mengarah pada kekerasan dan provokasi.

Meutya mengatakan, konten yang terus muncul di linimasa belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya karena dipengaruhi pola interaksi pengguna dan diperkuat algoritma platform.

"Jangan langsung menganggap linimasa sebagai gambaran lengkap keadaan. Ilusi algoritma bisa membuat kita merasa semua orang sedang marah, semua orang membenarkan kekerasan atau semua informasi yang kita lihat adalah fakta. Padahal, belum tentu demikian. Karena itu, periksa informasi dari berbagai sumber, pahami konteksnya, dan jangan mudah terprovokasi," kata dia, dikutip Sabtu (13/6/2026).

1. Sebut sampaikan pesan harus tertib

Mahasiswa masih demo Jumat malam, TNI siaga di lapis kedua pengamanan (IDN Times/Amir Faisol)

Meutya mengungkapkan, bahwa penyampaian kritik harus dilakukan secara tertib agar pesan yang dibawa masyarakat dapat diterima publik dengan baik. Dia juga mengingatkan agar demonstrasi tidak berujung pada tindakan yang merugikan masyarakat maupun fasilitas umum.

"Kritik boleh disampaikan dengan tegas, tetapi harus tetap damai. Jangan mudah terprovokasi sehingga memicu kekerasan, perusakan, pembakaran, penyerangan, atau tindakan lain yang membahayakan masyarakat," kata dia.

2. Bahas provokasi hingga hasutan

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid (IDN Times/Misrohatun)

Meutya juga membahas soal risiko penyebaran hoaks, disinformasi, manipulasi video, hingga potongan informasi tanpa konteks yang berpotensi memicu perpecahan di masyarakat.

"Ruang digital tidak boleh menjadi tempat untuk memperbesar provokasi. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam demokrasi, tetapi hoaks, hasutan kekerasan, dan manipulasi informasi tidak boleh diberi ruang. Mari kita jaga aspirasi tetap tersampaikan secara damai dan bertanggung jawab," kata dia.

3. Pemerintah terbuka terhadap aspirasi dan kritik

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid (IDN Times/Misrohatun)

Meutya juga memastikan pihaknya menghormati hak masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, tetapi segala aksi yang dilakukan harus tetap berlangsung damai dan tidak terprovokasi.

"Pemerintah terbuka terhadap aspirasi, kritik, dan masukan dari masyarakat. Menyampaikan pendapat adalah hak warga negara yang dijamin dalam demokrasi. Karena itu, ruang untuk menyampaikan aspirasi harus tetap kita jaga bersama," ujar dia.

Pada Jumat, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menggelar aksi demonstrasi di kawasan Bundaran HI dengan membawa sejumlah tuntutan kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Terdapat lima tuntutan yang akan disuarakan dalam aksi tersebut:

1. Setop pemborosan APBN

2. Turunkan harga kebutuhan pokok dan BBM

3. Hentikan program MBG dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih

4. Hentikan militerisme di ranah sipil

5. Menuntut Prabowo berhenti mengelak dan akui kesalahan pemerintah

Editorial Team

Related Article