Survei KPK: 50 Persen Mahasiswa di 94 Persen Kampus Masih Menyontek

Survei KPK mencatat 50 persen responden mahasiswa masih menyontek saat ujian di 94 persen satuan pendidikan.
SPI Pendidikan nasional 2026 meraih skor 73,30 dan masuk kategori adaptif, meningkat dari 69,5 pada survei 2024.
Survei melibatkan 42.810 responden dari jenjang SD hingga perguruan tinggi dengan metode pengumpulan data online, CAWI, dan CAPI.
Take a Deeper Reads

Jakarta, IDN Times - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merilis hasil Survei Penilaian Integritas bidang pendidikan. Salah satunya mengungkap bahwa 50 persen responden mahasiswa masih menyontek pada saat ujian.
"Di perguruan tinggi terjadi di 50 persen responden dan 94 persen satuan pendidikan," ujar Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK, Dian Novianthy, dalam paparannya pada Peluncuran Indeks Integritas Pendidikan Tahun 2026 di Gedung Juang KPK, Jakarta Selatan, Selasa (6/10/2026).
1. Sebanyak 26 persen siswa masih nyontek saat ujian

Peluncuran SPI Pendidikan di KPK (IDN Times/Aryodamar) Sementara itu, 26 persen siswa di tingkat SD-SMA masih menyontek ketika ujian. Hal itu terjadi di 51 sekolah yang disurvei.
"Di level Dasmen di 26 persen peserta didik masih menyontek pada saat ujian, dan ini terjadi di 51 persen satuan pendidikan level Dasmen," ujarnya.
2. Skor SPI Pendidikan nasional 2026 sebesar 73,30

Peluncuran SPI Pendidikan di KPK (dok.Humas KPK) Secara nasional, hasil SPI Pendidikan 2026 di Indonesia mendapat skor 73,30 yang termasuk dalam kategori adaptif. Angka tersebut mendapat peningkatan dari survei terakhir pada 2024.
“Kita bersyukur ya skornya sudah cukup tinggi, posisinya adalah adaptif 73 poin sekian dibandingkan dua tahun sebelumnya 69,5 ya,” ujar Ketua KPK Setyo Budiyanto.
Setyo mengatakan, apabila penilaian SPI dirinci, masih banyak daerah dengan SPI Pendidikan bernilai rendah. Ia berharap ada perbaikan dari daerah tersebut.
“Saya berharap semua pihak tidak alergi manakala kemudian ada daerah yang tertentu yang kemudian dianggap masih kurang. Kesempatan untuk kita perbaiki,” ujarnya.
Menurut Setyo, pencegahan korupsi harus dimulai dari ruang kelas supaya gak ada lagi korupsi. Ia meyakini pembangunan karakter generasi muda harus menjadi perhatian.
“Kalau ini sudah kita lakukan, mudah-mudahan ini bisa memperkuat budaya dan menjaga serta mewariskan kepada generasi-generasi berikutnya,” ujar dia.
3. Ada 42.810 responden dari siswa SD sampai kuliah

ilustrasi survei (IDN Times/Aditya Pratama) Adapun SPI Pendidikan 2026 ini melibatkan 42.810 responden terdiri dari peserta didik, murid dan mahasiswa.
Adapun untuk tingkat SD melibatkan kelas 4 dan 5 atau mereka yang dianggap sudah mampu membaca dan bisa menyimak pertanyaan.
Kemudian SMP dan sederajat melibatkan kelas 7 dan 8, sementara SMA kelas 10 dan 11, mahasiswa semester 3 sampai 8. Selain itu, melibatkan orang tua khusus untuk jenjang dasar dan menengah.
Kemudian tenaga pendidik, yaitu dari instansi pendidikan yang terpilih. Lalu, responden lain adalah kepala sekolah dan pimpinan perguruan tinggi.
Metode pengumpulan data menggunakan tiga cara yaitu, online dengan pengisian melalui link kuesioner yang dikirimkan melalui whatsapp blast dan email blast.
Kedua, CAWI (Computer Assisted Web Interviewing) Pengisian data berbasis website bagi satdik yang memiliki keterbatasan seperti tidak memiliki ponsel, privasi data, atau sekolah asrama.
Ketiga, CAPI (Computer Assisted Personal Interviewing) Pengisian data secara mandiri berbasis aplikasi yang difasilitasi oleh tim survei secara langsung di lapangan bagi satdik yang memiliki keterbatasan akses intern.
Selain itu, sebanyak 42.810 satuan pendidikan terlibat sebagai responden yang terdiri dari 41.720 Sekolah Dasar Menengah dan 1.090 perguruan tinggi.
















