Jakarta, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau pada 2026 di Indonesia berpotensi lebih panjang dan kering, akibat pengaruh fenomena El Nino.
Menurut Pakar Iklim, Dr. Indra Gustari, kondisi ENSO (El Niño-Southern Oscillation) saat ini masih berada pada fase netral, dan diprediksi akan bertahan hingga pertengahan tahun. Akan tetapi, pada paruh kedua 2026 terdapat potensi transisi El Nino mengarah ke intensitas lemah hingga moderat.
“Dengan peluang yang tinggi di angka 50 persen sampai 80 persen untuk semester dua 2026,” jelas Indra, dikutip dari Instagram @infobmkg, Rabu, (27/5/2026).
Selain itu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhesena Sopaheluwakan, menjelaskan kecenderungan terjadinya El Nino tahun ini cukup signifikan, dan perlu diantisipasi sejak dini.
“BMKG sudah memprediksi akan terjadi El Nino di kemarau tahun ini. Kecenderungan untuk terjadinya El Nino tahun ini cukup signifikan,” ujar Sena di kanal YouTube Info BMKG, dikutip Rabu.
Meski sering dianggap sebagai satu fenomena yang sama, El Nino sebenarnya memiliki tipe dan tingkat intensitas berbeda, yang dapat memengaruhi musim kemarau di Indonesia. Lalu, apa saja perbedaanya?
