Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tanda-Tanda Puasa Ramadan diterima oleh Allah, Simak!
ilustrasi puasa (pexels.com/Sami Abdullah)
  • Artikel membahas tanda-tanda diterimanya ibadah puasa Ramadan menurut pandangan ulama, menekankan bahwa penilaian akhir sepenuhnya berada di tangan Allah SWT.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan dua indikator utama: tekad meninggalkan maksiat setelah Ramadan dan kebiasaan melanjutkan puasa enam hari di bulan Syawal.
  • Ulama juga menganjurkan memperbanyak amal kebaikan selama Ramadan karena setiap amal saleh akan dilipatgandakan pahalanya dibandingkan bulan lainnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Umat Islam di seluruh dunia saat ini tengah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Di balik kewajiban menahan lapar, dahaga dan hal-hal maksiat, terdapat satu pertanyaan besar yang kerap muncul di benak setiap muslim. Apakah puasa yang dijalankan telah diterima oleh Allah SWT?

Pertanyaan ini muncul bukan tanpa alasan. Pasalnya, ibadah puasa memiliki keistimewaan dibandingkan ibadah lainnya mengingat puasa merupakan satu-satunya ibadah yang pahalanya sepenuhnya bergantung pada penilaian Allah SWT semata.

Di sisi lain, ibadah puasa yang tidak diterima kerap menjadi kondisi yang ditakuti oleh seorang hamba. Seluruh usaha yang dilakukan dari terbitnya fajar kedua hingga terbenamnya matahari berpotensi menjadi sia-sia dan bahkan puasa yang dijalankan bisa tidak bernilai sama sekali.

Nabi Muhammad SAW telah memberikan peringatan fenomena seseorang yang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan haus benar adanya. Hal ini tercermin dalam sabda beliau yang diriwayatkan Imam Ibnu Majah

“Begitu banyak seseorang yang sedang berpuasa hanya menyisakan lapar dan haus," (HR. Imam Ibnu Majah).

Mengutip dari laman resmi Nahdalatul Ulama (islam.nu.or.id) pada Minggu (22/2/2026), para ulama merumuskan tanda-tanda yang dapat mengindikasikan diterimanya ibadah puasa seseorang.

Meskipun segala hal yang berkaitan dengan puasa sepenuhnya berada dalam wewenang Allah SWT, terdapat beberapa indikator yang dapat diamati. Ibnu Rajab, salah satu ulama dari kalangan Hanabilah, dalam kitabnya Lathaiful Ma'arif menjelaskan setidaknya ada dua tanda yang mengindikasikan diterimanya ibadah puasa seseorang. Berikut ulasan lengkapnya.

1. Berkomitmen tidak mengulangi maksiat

ilustrasi puasa (pexels.com/RDNE Stock project)

Salah satu tanda yang mengindikasikan diterimanya puasa Ramadan adalah adanya kecondongan hati untuk tidak mengulangi maksiat di masa mendatang.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathaiful Ma'arif menjelaskan kondisi hati yang masih cenderung untuk mengulangi maksiat memiliki konsekuensi tersendiri. Seseorang yang secara lahiriah sedang melaksanakan peribadatan tetapi hatinya masih condong pada kemaksiatan, maka peribadatan yang demikian tidak dapat diterima.

Dalam konteks berpuasa di bulan Ramadan, seseorang dituntut untuk memiliki keteguhan hati dalam meninggalkan maksiat bahkan setelah bulan puasa berakhir.

“Siapa yang meminta ampunan secara lisan akan tetapi hatinya bertaut pada kemaksiatan, serta merencanakan untuk kembali melakukan maksiat setelah bulan puasa, maka puasanya ditolak dan pintu penerimaan tobat ditutup,” (Lathaiful Ma'arif, halaman 484).

Sementara, Tajuddin As-Subki mengutip pernyataan Abu Ali Al-Ashbahani, seorang ulama syafi'iyah, yang ketika ditanya mengenai tanda diterimanya ibadah puasa Ramadhan menjelaskan bahwa salah satu tandanya adalah ketika seseorang meninggal di bulan Syawal tanpa melakukan perbuatan buruk. Al-Ashbahani sendiri wafat pada bulan Syawal di hari Senin tahun lima ratus dua puluh lima hijriah, yang dapat dijadikan sebagai salah satu referensi mengenai indikator tersebut.

2. Memiliki kebiasaan untuk melanjutkan puasa

ilustrasi puasa (pexels.com/Thirdman)

Lebih lanjut, Ibnu Rajab menjelaskan tanda lain yang mengindikasikan diterimanya ibadah puasa seseorang selama bulan Ramadan adalah kebiasaan melanjutkan berpuasa di bulan Syawal, tepatnya pada hari kedua hingga hari ketujuh bulan tersebut.

Kebiasaan ini disebut tidak hanya memberikan keutamaan berupa pahala setara berpuasa selama satu tahun penuh, tetapi juga menjadi indikator bahwa puasa Ramadan seseorang diterima oleh Allah.

Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa Allah ketika menerima amal seorang hamba, Dia akan memberikan taufik kepada hamba tersebut untuk melakukan amal saleh setelahnya.

“Memiliki kebiasaan berpuasa setelah puasa bulan Ramadhan (puasa bulan Syawal) merupakan tanda dari diterimanya puasa Ramadhan. Sebab Allah menerima amal seseorang bergantung pada amal shalih sesudahnya,” (Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathaiful Ma'arif, [Riyadh, Dar Ibnu Khuzaimah: 2007], halaman 494).

Hal yang sama berlaku pada setiap amal, di mana seseorang dituntut untuk terus melakukan amal saleh secara berturut-turut. Keadaan ini berbeda ketika seseorang melakukan amal buruk setelah beramal saleh. Jika seseorang mulanya beramal saleh namun diakhiri dengan perbuatan buruk, maka amal saleh yang sebelumnya dilakukan berpotensi tertolak dengan sendirinya.

3. Perbanyak amal kebaikan di bulan Ramadan

ilustrasi puasa (pexels.com/RDNE Stock project)

Kedua tanda yang telah dipaparkan dapat menjadi acuan bagi umat Islam untuk mengevaluasi kualitas ibadah puasa yang telah dijalankan. Meskipun demikian, keputusan mutlak mengenai diterima atau tidaknya sebuah ibadah sepenuhnya berada dalam wewenang Allah SWT.

Kendati, para ulama tetap menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak amal kebaikan selama bulan Ramadan. Sebab bulan suci ini memiliki keistimewaan berupa pelipatgandaan pahala bagi setiap amal kebajikan yang dilakukan.

"Kesimpulannya, maka (hendaknya) seseorang memperbanyak amal kebaikan di bulan Ramadhan karena (pahala) amal kebaikan akan dilipatgandakan dibandingkan ganjaran amal kebaikan yang dilakukan di luar bulan Ramadhan," demikian keterangan Ibrahim Al-Bajuri dalam kitabnya Hasyiyah Al-Bajuri.

Editorial Team