Jakarta, IDN Times - Umat Islam di seluruh dunia saat ini tengah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Di balik kewajiban menahan lapar, dahaga dan hal-hal maksiat, terdapat satu pertanyaan besar yang kerap muncul di benak setiap muslim. Apakah puasa yang dijalankan telah diterima oleh Allah SWT?
Pertanyaan ini muncul bukan tanpa alasan. Pasalnya, ibadah puasa memiliki keistimewaan dibandingkan ibadah lainnya mengingat puasa merupakan satu-satunya ibadah yang pahalanya sepenuhnya bergantung pada penilaian Allah SWT semata.
Di sisi lain, ibadah puasa yang tidak diterima kerap menjadi kondisi yang ditakuti oleh seorang hamba. Seluruh usaha yang dilakukan dari terbitnya fajar kedua hingga terbenamnya matahari berpotensi menjadi sia-sia dan bahkan puasa yang dijalankan bisa tidak bernilai sama sekali.
Nabi Muhammad SAW telah memberikan peringatan fenomena seseorang yang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan haus benar adanya. Hal ini tercermin dalam sabda beliau yang diriwayatkan Imam Ibnu Majah
“Begitu banyak seseorang yang sedang berpuasa hanya menyisakan lapar dan haus," (HR. Imam Ibnu Majah).
Mengutip dari laman resmi Nahdalatul Ulama (islam.nu.or.id) pada Minggu (22/2/2026), para ulama merumuskan tanda-tanda yang dapat mengindikasikan diterimanya ibadah puasa seseorang.
Meskipun segala hal yang berkaitan dengan puasa sepenuhnya berada dalam wewenang Allah SWT, terdapat beberapa indikator yang dapat diamati. Ibnu Rajab, salah satu ulama dari kalangan Hanabilah, dalam kitabnya Lathaiful Ma'arif menjelaskan setidaknya ada dua tanda yang mengindikasikan diterimanya ibadah puasa seseorang. Berikut ulasan lengkapnya.
