Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

TEP UNDIP Olah Pangan Lokal Senggi untuk Cegah Stunting

2 min read
TEP UNDIP Olah Pangan Lokal Senggi untuk Cegah Stunting
Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Diponegoro (UNDIP) ajak masyarakat manfaatkan pangan lokal /( dok Kementras)
  • TEP UNDIP menjalankan program Sagu Sapa di Senggi, Keerom, Papua, untuk mengolah pangan lokal sebagai sajian bergizi guna mendukung pemenuhan gizi dan pencegahan stunting.

  • Sebanyak 21 kader kesehatan dan pelaku UMKM mengikuti praktik mengolah pisang, keladi, petatas, serta sagu menjadi bolu, brownies, dan cookies bernilai ekonomi.

  • Kader kesehatan didorong meneruskan edukasi gizi, sementara UMKM mengembangkan produk lokal yang layak dipasarkan agar manfaat program berkelanjutan bagi masyarakat Senggi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Diponegoro (UNDIP) mengajak masyarakat memanfaatkan kekayaan pangan di sekitar mereka sebagai bagian dari upaya pemenuhan gizi dan pencegahan stunting

Melalui program Sagu Sapa (Sajian Gizi Unggul, Lestarikan Pangan Lokal) masyarakat di Kawasan Transmigrasi Senggi, Kabupaten Keerom, Papua bisa mengolah pisang, keladi, petatas, hingga sagu menjadi sajian bergizi sekaligus bernilai ekonomi.

"Program tersebut menyasar kader kesehatan dan pelaku UMKM agar pangan lokal tidak hanya dikonsumsi secara konvensional, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih beragam, bergizi, dan memiliki potensi pasar," ucap Ketua Tim 4 Ekspedisi Patriot UNDIP, Diana Nur Afifah, Jumat (25/9/2026).

  1. 1. Praktik pengolahan pangan

    IMG-20260925-WA0022.jpg
    Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Diponegoro (UNDIP) ajak masyarakat manfaatkan pangan lokal /( dok Kementras).

    Diana mengatakan sebanyak 21 peserta dari unsur kader Posyandu, Posbindu, Malaria, serta pelaku UMKM mengikuti workshop dan praktik langsung pengolahan pangan lokal.

    Pisang, keladi, petatas, dan sagu diolah menjadi empat produk inovatif, yakni Sapa Boladi (bolu keladi), Sapa Bronana (brownies pisang), Sapa Kita (cookies petatas), serta Sapa Sagara (cookies sagu dan gula merah).

    "Para peserta dibagi dalam lima kelompok untuk mempraktikkan langsung proses pengolahannya,"ujarnya

  2. 2. Kader kesehatan menjadi penggerak edukasi gizi

    IMG-20260925-WA0023.jpg
    Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Diponegoro (UNDIP) ajak masyarakat manfaatkan pangan lokal /( dok Kementras)

    Dia mengatakan sagu Sapa dirancang agar manfaatnya tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Kader kesehatan diharapkan menjadi penggerak edukasi gizi di tengah masyarakat, sementara pelaku UMKM dapat mengembangkan olahan pangan lokal menjadi sumber pendapatan baru.

    “Para kader diharapkan dapat menjadi penggerak yang meneruskan pengetahuan dan keterampilan ini kepada keluarga dan masyarakat, sementara pelaku UMKM dapat mengambil peran dalam mengembangkan inovasi pangan lokal menjadi produk yang layak dipasarkan,” ujar Diana.

  3. 3. Tinggalkan solusi nyata bagi masyarakat

    Menteri Transmigrasi (Mentrans) Ifititah Sulaiman sebut pemerintahan Prabowo mau minta maaf ke warga Rempang. (IDN Times/Amir Faisol)
    Menteri Transmigrasi (Mentrans) Ifititah Sulaiman sebut pemerintahan Prabowo mau minta maaf ke warga Rempang. (IDN Times/Amir Faisol)

    Prinsip menghadirkan manfaat yang berkelanjutan pesan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara kepada peserta Tim Ekspedisi Patriot. Dalam arahannya, Iftitah meminta para peserta TEP tidak berhenti pada kegiatan penelitian, tetapi meninggalkan solusi yang dapat diteruskan masyarakat.

    “Jangan hanya meninggalkan laporan. Tinggalkan karya. Tinggalkan solusi. Dan yang paling penting, tinggalkan manfaat yang terus dirasakan masyarakat,” ucap Iftitah.

    Program Sagu Sapa menjadi salah satu bentuk penerapan semangat tersebut di Kawasan Transmigrasi Senggi. Dari bahan pangan yang tumbuh dan tersedia di sekitar masyarakat, TEP UNDIP mendorong lahirnya sajian bergizi bagi keluarga sekaligus produk bernilai tambah bagi pelaku usaha.

    Dengan keterampilan yang diteruskan oleh kader kesehatan dan dikembangkan oleh pelaku UMKM, pangan lokal diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari upaya pemenuhan gizi dan pencegahan stunting, tetapi juga menjadi sumber kemandirian pangan dan peluang ekonomi baru bagi masyarakat Senggi.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More