Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Viral Parodi Kopdes di Medsos, Menkop: Kami Anggap Itu Masukan
Menteri Koperasi RI, Ferry Juliantono dalam acara Semangat Awal Tahun 2026 (SAT 2026). (IDN Times/Herka Yanis)

Jakarta, IDN Times - Menteri Koperasi Ferry Juliantono merespons banyaknya konten parodi mengenai Koperasi Desa Merah Putih/Kampung Nelayan Merah Putih yang berseliweran di media sosial. Konten-konten itu menggambarkan cara kerja calon manajer Kopdes ketika nanti mengelola koperasi.

Selain itu, konten tersebut turut menyindir soal keberadaan titik K0ppopdes yang jauh dari pemukiman warga. Contohnya berada di tengah sawah atau stone garden, Kabupaten Bandung Barat.

Ferry menilai konten parodi tersebut memiliki tujuan baik. Publik diyakini ingin mengingatkan pemerintah mengenai keberadaan Kopdes.

"Biasa kan di era media sosial, mereka sebenarnya memiliki maksud baik. Mereka mengingatkan kita bahwa perlu ada yang dievaluasi. Masukan-masukan itu tentu kami akan jadikan sebagai pertimbangan-pertimbangan untuk melihat," ungkap Ferry di Istana Kepresidenan, Selasa, 7 Juli 2026.

Namun, menurutnya tidak semua bangunan kopdes yang sudah berdiri jauh dari pemukiman warga. Ia menyebut kopdes yang lokasinya terpencil hanya beberapa saja.

"Tapi, karena diviralkan (seolah banyak). Ini sedang kami carikan solusinya," tutur menteri yang juga politikus Partai Gerindra itu.

1. YLBHI mencatat pembangunan fisik Kopdes dilakukan tanpa konsultasi dengan warga

Gerai Kopdes Merah Putih di Pakansari Bogor. (IDNTimes/ Linna Susanti)

Sementara, berdasarkan data dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan, sudah ada 37.300 Kopdes yang telah memenuhi persyaratan legalitas. Pemerintah pun terus mengebut pembangunannya agar mencapai target nasional.

Namun, langkah itu dikritik Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Sebab, mereka menilai banyak terdapat kejanggalan pembangunan fisik gerai dan gudang koperasi. Di sejumlah tempat, pembangunan disebut dilakukan tanpa pertimbangan kebutuhan warga dan kelayakan ekonomi yang memadai.

"Ada bangunan yang dilaporkan berada jauh dari pusat aktivitas warga, sulit dijangkau, bahkan berhadap-hadapan dengan bangunan serupa. Pola ini menunjukkan bahwa orientasi program lebih dekat kepada pencapaian angka, seremoni dan proyek konstruksi ketimbang penguatan kelembagaan koperasi," ungkap Ketua Umum YLBHI, Muhammad Isnur dalam keterangan, dikutip Rabu (8/7/2026).

Selain itu, pembangunan fisik Kopdes juga bergeser menjadi persoalan pertanahan, ruang hidup, dan fasilitas publik warga. Di sejumlah daerah, rencana maupun pembangunan gerai Kopdes memicu penolakan, karena menggunakan lahan yang selama ini menjadi ruang bersama.

"Contohnya koperasi dibangun di atas lapangan desa, sarana olahraga, area sekolah, hingga tanah yang diklaim warg. Ini menunjukkan program koperasi merupakan proyek fisik yang dapat mendorong pengambilalihan ruang warga tanpa persetujuan yang sungguh-sungguh," tutur dia.

2. YLBHI desak Prabowo evaluasi total program Kopdes Merah Putih

Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Muhammad Isnur (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Dengan sejumlah kejanggalan tersebut, YLBHI mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk mengevaluasi total program Kopdes Merah Putih. Selain itu, pendekatan komando dalam pembentukan koperasi harus dihentikan.

"Pemerintah juga harus menghentikan seluruh bentuk pelibatan TNI dalam urusan koperasi, ekonomi desa, rekrutment, pelatihan, pendampingan, pengamanan dan operasional program KDMP/KKMP," kata Isnur.

YLBHI juga mendesak Komnas HAM, Ombudsman RI, DPR RI dan lembaga pengawas terkait untuk melakukan investigasi independen, atas meninggalnya peserta pelatihan calon manajer koperasi.

3. Puluhan ribu calon manajer Kopdes mulai bertugas mulai awal Agustus 2026

Peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) ketika berbaris untuk makan siang di Pusdikkes Puskes AD, Kramat Jati, Jakarta Timur. (IDN Times/Santi Dewi)

Meski mendapat kritik luas dari publik, tetapi pemerintah tetap bergeming. Program itu tetap dijalankan. Bahkan, Kementerian Koperasi menargetkan 30 ribu manajer Kopdes mulai bertugas pada Agustus 2026. Mereka yang bertugas telah lulus pelatihan bela negara yang diselenggarakan Kementerian Pertahanan dan pelatihan manajerial.

Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengatakan seluruh peserta ditargetkan menuntaskan pelatihan pada awal Agustus. Setelah itu, mereka akan langsung ditempatkan di Kopdes Merah Putih di area yang pembangunan gudang, gerai, dan fasilitas pendukungnya telah rampung.

"Jadi, insyaallah nanti awal-awal Agustus itu mereka sudah selesai mengikuti pelatihan dan langsung kami tempatkan di seluruh Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih yang juga bersamaan dengan pembangunan fisik gudang gerai dan alat kelengkapan yang sudah selesai dibangun," ungkap Ferry dalam konferensi pers di Kementerian Koperasi, Jakarta, Kamis, 2 Juli 2026.

Menurut Ferry, penempatan manajer akan disesuaikan dengan daerah asal masing-masing peserta. Pemerintah menargetkan proses penempatan dimulai pada pekan pertama Agustus.

"Nanti disesuaikan dengan asal daerahnya mereka masing-masing. mulai ditempatkan awal tanggal minggu pertama bulan Agustus," tutur dia.

Ferry menambahkan, kebutuhan manajer pada tahap awal masih sebanyak 30 ribu orang. Jumlah tersebut akan terus bertambah seiring pembangunan Kopdes di berbagai daerah.

Curated For You

Editorial Team

Related Article