"Itu materi kami dari senjata ringan. Kami juga diajarkan cara melawan musuh, sembunyi-sembunyi, merayap. Termasuk cara melawan musuh. Jadi masuk ke dalam gorong-gorong itu bagian dari strategi bersembunyi. Itu di depan paving block," tutur dia.
Kemhan Sebut Viral Video Calon Manajer Kopdes Merayap di Got Hoaks

- Kementerian Pertahanan menegaskan dua video viral tentang calon manajer Kopdes yang merayap di got dan memegang senjata adalah hoaks, karena peserta sebenarnya berasal dari program Komcad ASN.
- Latihan dasar untuk calon manajer Kopdes kini difokuskan pada bela negara dan manajerial, tanpa materi taktis militer seperti menembak, demi menyesuaikan dengan kebutuhan peran sipil mereka.
- Kemhan bersama Kemenkes membentuk tim investigasi internal untuk menyelidiki kematian lima calon manajer Kopdes saat latsar, termasuk kasus penularan penyakit yang menyebabkan infeksi paru-paru.
Jakarta, IDN Times - Kementerian Pertahanan melabeli dua video viral di media sosial, dan menggambarkan latihan dasar militer yang diikuti calon manajer Koperasi Desa Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih adalah hoaks atau informasi palsu. Video pertama yang diklaim hoaks menggambarkan peserta sedang merayap di dalam got. Video kedua yang menayangkan peserta tengah memegang senjata laras panjang seraya berjalan mengawasi musuh juga disebut hoaks.
Kedua video tersebut sempat dikritik warganet, karena warga sipil diajarkan materi militer. Kedua, lantaran materi yang diajarkan tidak sesuai dengan pekerjaan mereka nanti sebagai manajer.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan, Brigjen TNI Rico Sirait, mengatakan kedua video tersebut tidak menggambarkan latsar militer untuk calon manajer Kopdes atau Kampung Nelayan. Peserta di kedua video itu merupakan ASN yang mengikuti komponen cadangan (Komcad).
"Hoaks itu," ungkap Rico kepada IDN Times lewat pesan pendek, Jumat (3/7/2026).
1. Latihan dasar bagi calon manajer kopdes sudah diubah

Rico menjelaskan video tersebut diambil pada Oktober 2025, yang semula dilakukan di Pusat Pendidikan Zeni, Bogor. Selanjutnya latsar militer dipindahkan ke Lawang Gintung. Kedua tempat itu berada di kawasan militer yang sama dan terhubung di Bogor.
Jenderal bintang satu itu menggarisbawahi, peserta yang terekam dalam video tersebut bukan calon manajer Kopdes atau Kampung Nelayan Merah Putih. Rico mengatakan konteks video tersebut merupakan kegiatan Komcad bagi ASN yang memakan waktu 45 hari.
"Peserta di dalam dokumentasi tersebut adalah peserta Komcad ASN dari lingkungan Kemhan. Jadi bukan kegiatan pembekalan SPPI (Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia) calon pengelola Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih atau Kampung Nelayan Merah Putih. Untuk SPPI saat ini pendekatannya sudah disesuaikan menjadi latihan pembekalan bela negara dan manajerial. Jadi, bukan komcad lagi," tutur dia.
Perubahan format latsar militer itu dilakukan usai lima calon manajer Kopdes dan Kampung Nelayan Merah Putih meninggal dunia usai menjalani latsar militer.
IDN Times sempat menanyakan salah satu peserta SPPI di Pusat Pendidikan Kesehatan TNI AD, Kramat Jati, Tiara Novelia, soal materi latsar militer sebelum dilakukan penyesuaian. Ia mengakui sempat mendapat pengenalan senjata ringan. Bahkan, ia pernah diberi kesempatan memegang pistol jenis Glock 19.
"Senjata ringan yang dikenalkan itu Glock 19," kata Tiara kepada IDN Times pada Selasa, 30 Juni 2026.
Tiara juga mengklarifikasi mengenai aktivitas yang viral di media sosial, di mana peserta harus merayap di dalam gorong-gorong. Aktivitas itu semula merupakan bagian dari pengenalan senjata ringan.
2. Materi militer taktis tak lagi diajarkan di latihan dasar calon manajer Kopdes dan Kampung Nelayan

Sebelumnya, Rico menyebut sejak dilakukan penyesuaian, para peserta calon manajer Kopdes tak lagi diajarkan kemampuan menembak. Implementasi kebijakan itu dilakukan sejak Sabtu, 28 Juni 2026.
"Kegiatan saat ini tidak lagi ditekankan sebagai latsarmil, tetapi diarahkan menjadi latihan pembekalan bela negara dan manajerial. Dari sisi aktivitas, materi yang bersifat teknis dan taktis militer dikurangi, termasuk kegiatan menembak dan kegiatan lain yang tak relevan langsung dengan kebutuhan calon manajer koperasi," kata dia, Senin, 29 Juni 2026.
Rico menjelaskan latihan menembak merupakan salah satu aktivitas yang diajarkan sejak program Komcad bagi ASN dan pengelola SPPG atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Bagi peserta yang lulus program ini, mereka masuk barisan Komcad. Sedangkan, calon manajer Kopdes Merah Putih kini tidak dilatih menjadi Komcad.
"Penyesuaian ini dilakukan untuk memperjelas bahwa tujuan kegiatan bukan membentuk peserta menjadi prajurit atau Komcad. Melainkan membangun karakter, disiplin, kepemimpinan, kerja sama, wawasan kebangsaan serta kesiapan manajerial sebagai calon pengelola Kopdes Merah Putih dan Koperasi Kampung Nelayan Merah Putih," tutur dia.
3. Kemhan bentuk tim investigasi telusuri penyebab kematian lima calon manajer Kopdes

Sementara, Wakil Menteri Pertahanan, Donny Ermawan Taufanto, menyebut Kemhan telah membentuk tim investigasi untuk mengusut kematian lima calon manajer Kopdes saat mengikuti latsarmil. Tim investigasi terdiri dari Kemhan dan Kementerian Kesehatan.
"Kami sudah bentuk dan nanti akan kami tindak lanjuti untuk melihat atau mencari data-data tambahan mengapa kok ini bisa terjadi," kata Donny di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Rabu, 1 Juli 2026.
Namun, ia menggarisbawahi, investigasi yang dilakukan bersifat internal. Belum ada rencana membawa insiden meninggalnya lima calom manajer Kopdes ke jalur hukum.
"Kami belum mengarah ke sana karena kami masih investigasi internal dulu," tutur dia.
Donny juga menyebut peserta yang meninggal di Satdik Halim akibat adanya penularan penyakit. Novia Ramadani Sihotang semula disebut meninggal karena mengidap Tuberkulosis (TBC), tetapi belakangan Kementerian Kesehatan menyebut Novia meninggal akibat terkena infeksi paru-paru yang disebabkan virus.
"Yang kejadian di Halim terkait paru-paru, ini juga karena ada penularan di sana. Ini kami lakukan tindakan pencegahan bersama dengan Kementerian Kesehatan," katanya.




















