BMKG: Siklon Tropis Bavi Menguat, Ini Dampaknya untuk Indonesia

- Siklon Tropis Bavi berkembang dari Bibit Siklon 95W dengan intensitas kategori 4 dan bergerak ke arah barat-barat laut di Laut Filipina utara Papua.
- BMKG memperkirakan dampak tidak langsung berupa hujan sedang hingga lebat di Kalimantan Utara serta angin kencang di Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Papua Barat Daya.
- Siklon ini juga memicu gelombang laut tinggi antara 1,25 hingga 4 meter di beberapa perairan seperti Laut Maluku, Kepulauan Talaud, dan Samudra Pasifik utara Papua.
Jakarta, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan, Bibit Siklon Tropis 95W telah berkembang menjadi Siklon Tropis Bavi dengan intensitas kategori 4.
Meski pusat siklon berada di luar wilayah Indonesia, fenomena ini diperkirakan memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca dan perairan di sejumlah wilayah Tanah Air.
Table of Content
1. Siklon Tropis Bavi berada di Laut Filipina utara Papua

Dalam informasi terbaru yang dirilis Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta pada Rabu (8/7/2026) pukul 07.00 WIB, BMKG menyebut Siklon Tropis Bavi berada di Laut Filipina utara Papua, dan diperkirakan bergerak ke arah barat laut.
“Kecepatan angin maksimum dalam 24 jam ke depan diprakirakan persisten dan intensitasnya berada pada kategori empat dengan pergerakan ke arah barat-barat laut,” tulis BMKG.
2. Kalimantan Utara berpotensi hujan deras

BMKG mengungkapkan, Siklon Tropis Bavi memicu sejumlah dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca dan perairan di wilayah Indonesia.
Wilayah Kalimantan Utara dalam 24 jam ke depan hingga Kamis, 9 Juli 2026 pukul 07.00 WIB, berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga deras.
Selain itu, sejumlah wilayah juga berpotensi mengalami angin kencang, yakni Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Papua Barat Daya.
3. Gelombang laut tinggi hingga 4 meter

Tak hanya berdampak pada cuaca daratan, BMKG juga melaporkan adanya potensi peningkatan tinggi gelombang di sejumlah perairan Indonesia.
Gelombang setinggi 1,25–2,5 meter (moderate sea) berpotensi terjadi di Laut Maluku, Perairan Kepulauan Sangihe, hingga Kepulauan Talaud, dan Samudra Pasifik utara Papua.
Sementara, gelombang tinggi mencapai 2,5–4 meter (rough sea) berpotensi terjadi di Samudra Pasifik utara Maluku, Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya, dan Samudra Pasifik utara Papua Barat.




















