Potret Gus Dur (Foto: Dok. Liputan 6)
Komitmen Gus Dur terhadap dialog juga terlihat dalam pendekatannya menghadapi konflik, termasuk saat berkunjung ke Papua.
Kala itu, ada kekhawatiran soal potensi ancaman keamanan dari masyarakat setempat. Akan tetapi, Gus Dur tetap memilih datang dan mengutamakan dialog.
“Waktu di Papua misalnya, ada saran untuk tidak usah ke sana karena ada pasukan-pasukan suku Papua yang sudah menyiapkan panah, tombak, dan seterusnya,” kata Wahyu.
Namun, Gus Dur tetap pada pendiriannya.
“Gus Dur bilang ‘Udah, saya terus ke Papua. Mereka adalah rakyat kita. Saya perintahkan jangan ada satu butir peluru pun yang ditembakkan’. Di Bandara saat itu kami deg-degan turun, jangan-jangan kena panah kita kan? Ya, pokoknya ternyata itu masyarakat suku adat yang nari-nari nyambut, selamat datang pada Gus Dur semuanya,” beber Wahyu.
Momen serupa juga dirasakan Wahyu ketika mengawal kunjungan Gus Dur ke Aceh. Ia menyebut, Gus Dur berpesan kepada aparat keamanan untuk tidak berlebihan dalam mengawal dirinya.
“Jangan terlalu berlebihan mengawal dan menjaga saya. Mereka kan saudara-saudara kita juga. Jangan sampai ada kekerasan, pokoknya biarkan mereka bicara sama saya,” tiru Wahyu.