Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Wamendagri: Selesaikan Persoalan Jakarta Perlu Pendekatan Aglomerasi
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto saat menghadiri acara Launching Portal Satu Data Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di Aula Fernandez, Kantor Gubernur NTT, Kupang, Selasa (14/10/2025). (Dok. Kemendagri)
  • Bima Arya menegaskan penyelesaian masalah Jakarta seperti banjir dan kemacetan harus dilakukan lewat pendekatan aglomerasi dengan kerja sama lintas wilayah yang terintegrasi.
  • Pemerintah mendorong penguatan Dewan Kawasan Aglomerasi agar koordinasi antardaerah lebih efektif dalam mengelola layanan publik regional seperti transportasi, sampah, dan air minum.
  • Wamendagri mengapresiasi kolaborasi Jakarta melalui event internasional yang dinilai memperkuat identitas kota global menjelang perayaan usia lima abadnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pak Bima bilang Jakarta itu besar sekali dan banyak orang tinggal di sana. Tapi ada masalah seperti banjir, macet, dan sampah. Katanya semua kota di sekitar Jakarta harus kerja bareng supaya bisa beresin masalah itu. Sekarang pemerintah mau bikin dewan khusus yang ngatur hal-hal itu biar rapi dan jalan lebih baik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pernyataan Wamendagri Bima Arya menunjukkan arah positif bagi masa depan Jakarta melalui pendekatan aglomerasi yang menekankan kolaborasi lintas wilayah. Upaya penguatan Dewan Kawasan Aglomerasi mencerminkan komitmen pemerintah untuk menciptakan tata kelola perkotaan yang lebih terpadu, sementara apresiasi terhadap kegiatan internasional menegaskan potensi Jakarta sebagai kota global yang inklusif dan dinamis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya Sugiarto, menyebut bahwa untuk menyelesaikan berbagai persoalan Jakarta di masa depan tidak bisa dipisahkan dari aglomerasi. 

Menurutnya, dalam mengatasi persoalan perkotaan seperti banjir, kemacetan, hingga pengelolaan sampah dibutuhkan kerja sama lintas wilayah yang terintegrasi dan dukungan dari kewenangan bersama. 

"Semakin besar kawasan metropolitan, maka semakin besar kebutuhan untuk kewenangan otoritas yang jelas, sehingga masa depan Jakarta tidak bisa dipisahkan dari konteks aglomerasi," ujar Bima dalam Acara Urban Talks Jakarta Future Festival di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (5/6/2026), dikutip dari rilis pers Puspen Kemendagri.


1. Persoalan Jakarta perlu ditangani lewat pendekatan aglomerasi

Ilustrasi kemacetan Jakarta (IDN Times/Dwifantya Aquina)

Bima menyebut, Jakarta telah berkembang menjadi salah satu kawasan megapolitan terbesar di dunia. Jika digabungkan dengan wilayah penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, jumlah penduduk kawasan aglomerasi Jakarta mencapai 41,9 juta jiwa berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). 

Jumlah tersebut disebut melampaui populasi kawasan metropolitan Tokyo maupun Dhaka. Selain itu, kawasan Jakarta dan sekitarnya juga menyumbang 16,71 persen terhadap perekonomian nasional. 

Meski memiliki peran strategis, Bima menilai, penyelesaian berbagai persoalan perkotaan masih terkendala fragmentasi kewenangan antarwilayah yang menyebabkan perbedaan prioritas pembangunan, agenda politik, hingga penganggaran. 


2. Pemerintah dorong penguatan Dewan Kawasan Aglomerasi

ilustrasi Jakarta, Indonesia (pexels.com/neilstha firman)

Dalam mengatasi tantangan dan kendala tersebut, Bima menyebut, pemerintah tengah mendorong penguatan peran Dewan Kawasan Aglomerasi yang berfungsi sebagai wadah koordinasi antardaerah. 

Melalui mekanisme, layanan publik yang bersifat regional diharapkan dapat dikelola secara lebih efektif dan terpadu. Ia juga menjelaskan bahwa dalam dewan tersebut akan ada badan-badan yang mengurusi isu-isu secara spesifik seperti sampah, transportasi, dan yang lainnya.

"Dewan Aglomerasi ini nanti bisa fokus pada isu-isu spesifik, ada badan yang ngurusi soal sampah, ada badan yang ngurusi soal transportasi, soal air minum, dan lain-lain," ungkap dia. 


3. Apresiasi terhadap kolaborasi yang berkembang di Jakarta

ilustrasi Jakarta, Indonesia (pexels.com/Noel Snpr)

Tak hanya itu, ia juga mengapresiasi kolaborasi yang telah berkembang di Jakarta, termasuk melalui penyelenggaraan kegiatan olahraga dan pariwisata berskala internasional. 

Bima menilai upaya membangun identitas kota yang inklusif melalui kegiatan yang berskala internasional tersebut dapat menjadi modal penting untuk memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global menjelang usianya yang ke-5 abad. 

"Dua event ini menggambarkan Jakarta on the right track untuk menjadi kota modern dalam menjemput usia ke-5 abad," kata dia.

Editorial Team

Related Article