Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Negara dengan Penurunan Kebebasan Akademik Terparah, AS dan Indonesia Disorot

Negara dengan Penurunan Kebebasan Akademik Terparah, AS dan Indonesia Disorot
ilustrasi lulus kuliah, sarjana (unsplash.com/Christian Lendl)
Intinya Sih
  • Data V-Dem Institute menunjukkan 67 persen negara mengalami penurunan kebebasan akademik pada 2015-2025, menandakan kemunduran terjadi secara luas lintas kawasan.
  • Nikaragua mencatat penurunan terbesar, 95 persen, diikuti Myanmar 94 persen dan Afghanistan 83 persen; gejolak politik mempersempit independensi akademisi dan pendidikan tinggi.
  • Amerika Serikat turun 57 persen dan Indonesia 56 persen; pembatasan ruang akademik dapat memengaruhi riset, inovasi, kerja sama ilmiah, serta daya saing negara.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times – Kebebasan akademik menjadi salah satu fondasi penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan di suatu negara. Saat kampus dan para akademisi bisa melakukan riset, mengajar, menerbitkan hasil penelitian, hingga bertukar gagasan tanpa tekanan politik, inovasi biasanya tumbuh lebih cepat.

Sayangnya, kondisi tersebut justru mengalami kemunduran di banyak negara dalam satu dekade terakhir. Data terbaru dari V-Dem Institute melalui Our World in Data menunjukkan bahwa sekitar 67 persen negara mengalami penurunan kebebasan akademik sepanjang 2015-2025. Menariknya, bukan hanya negara berkembang yang terdampak, tapi juga negara maju seperti Amerika Serikat, sementara Indonesia juga masuk dalam daftar negara dengan penurunan yang cukup besar.

1. Negara dengan penurunan kebebasan akademik paling drastis

ilustrasi militer Myanmar
ilustrasi militer Myanmar (commons.wikimedia.org/Mil.ru)

Nikaragua menempati posisi pertama sebagai negara dengan penurunan kebebasan akademik terbesar di dunia. Indeks kebebasan akademiknya anjlok hingga 95 persen dalam periode 2015–2025, dari skor 0,42 menjadi hanya 0,02. Penurunan tajam ini terjadi setelah pemerintah mengambil berbagai langkah terhadap universitas yang dianggap berkaitan dengan aksi protes anti-pemerintah.

Myanmar berada di posisi kedua dengan penurunan sebesar 94 persen, disusul Afghanistan yang turun 83 persen. Kedua negara tersebut mengalami gejolak politik besar selama satu dekade terakhir, termasuk kudeta militer di Myanmar pada 2021 dan kembalinya Taliban berkuasa di Afghanistan. Kondisi tersebut membuat lingkungan pendidikan tinggi ikut terdampak sehingga ruang bagi akademisi untuk bekerja secara independen menjadi semakin sempit.

2. Amerika Serikat dan Indonesia ikut menjadi sorotan

ilustrasi Purdue University, Amerika Serikat, universitas, kuliah
ilustrasi Purdue University, Amerika Serikat, universitas, kuliah (unsplash.com/Cole Parsons)

Salah satu temuan yang cukup mengejutkan adalah masuknya Amerika Serikat dalam daftar negara dengan penurunan terbesar. Negara tersebut mengalami penurunan indeks sebesar 57 persen, dari skor 0,92 pada 2015 menjadi 0,40 pada 2025. Bahkan, peringkat global Amerika Serikat merosot dari posisi ke-27 menjadi peringkat ke-116 dalam kurun waktu sepuluh tahun.

Indonesia juga masuk dalam daftar dengan penurunan sebesar 56 persen. Skor indeks kebebasan akademik Indonesia turun dari 0,74 menjadi 0,33 selama periode yang sama. Meski tidak sedrastis Nikaragua atau Myanmar, angka tersebut menunjukkan bahwa kebebasan akademik di Indonesia juga mengalami kemunduran yang cukup signifikan sehingga ikut mendapat perhatian dalam pemeringkatan global.

3. Kenapa Amerika Serikat dianggap berbeda?

ilustrasi New York City, USA, Amerika Serikat
ilustrasi New York City, USA, Amerika Serikat (pexels.com/Gil Garza)

Penurunan di Amerika Serikat menjadi perhatian khusus karena negara tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu pusat riset dan pendidikan tinggi dunia. Banyak universitas di sana mendominasi peringkat internasional, menarik peneliti dari berbagai negara, serta menghasilkan kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, perubahan yang terjadi di negara tersebut memiliki dampak yang lebih luas dibanding banyak negara lainnya.

Sejumlah faktor disebut ikut memengaruhi kondisi tersebut. Pembatasan pendanaan federal, meningkatnya pengawasan terhadap universitas, hingga kebijakan yang memengaruhi mahasiswa dan peneliti internasional menciptakan ketidakpastian di lingkungan akademik. Selain itu, berbagai kebijakan di sejumlah negara bagian juga meningkatkan tekanan terhadap proses pembelajaran, tata kelola kampus, hingga kebebasan dosen dalam menyusun materi perkuliahan.

4. Penurunan ini gak hanya terjadi di negara berkembang

ilustrasi Hong Kong
ilustrasi Hong Kong (pexels.com/C Y C)

Sebagian besar negara yang mengalami penurunan terbesar memang berasal dari kelompok negara berkembang atau emerging markets. Selain Nikaragua, Myanmar, Afghanistan, Chad, Mali, Pakistan, hingga Kamboja, banyak negara lain dalam kategori tersebut juga mengalami penurunan cukup tajam. Hal ini menunjukkan bahwa ketidakstabilan politik dan tekanan terhadap institusi pendidikan sering berjalan beriringan.

Namun, kehadiran Amerika Serikat dan Hong Kong dalam daftar membuktikan bahwa persoalan kebebasan akademik gak mengenal batas kawasan maupun tingkat pendapatan suatu negara. Tekanan politik terhadap universitas dapat muncul dalam berbagai bentuk, baik melalui regulasi, kebijakan pemerintah, maupun perubahan sistem pengelolaan pendidikan tinggi. Artinya, tantangan ini bisa muncul di hampir semua negara, termasuk yang selama ini dianggap memiliki sistem pendidikan kuat.

5. Mengapa kebebasan akademik penting bagi semua orang?

ilustrasi belajar, kuliah, dosen
ilustrasi belajar, kuliah, dosen (pexels.com/Yan Krukau)

Mungkin kamu mengira kebebasan akademik hanya berpengaruh bagi dosen atau peneliti. Padahal, dampaknya jauh lebih luas karena universitas berperan menghasilkan riset, mencetak tenaga kerja terampil, hingga melahirkan inovasi yang nantinya digunakan masyarakat. Jika ruang akademik semakin terbatas, perkembangan ilmu pengetahuan juga berpotensi ikut melambat.

Tekanan politik terhadap dunia pendidikan juga dapat memengaruhi topik penelitian yang dipilih, hasil riset yang dipublikasikan, hingga kerja sama ilmiah lintas negara. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut bisa mengurangi daya saing suatu negara dalam bidang inovasi, teknologi, dan ekonomi. Itulah sebabnya perkembangan kebebasan akademik gak hanya menjadi isu kampus, tapi juga berkaitan dengan masa depan pembangunan suatu negara.

Data V-Dem Institute melalui Our World in Data menunjukkan bahwa kebebasan akademik mengalami penurunan di sebagian besar negara dalam satu dekade terakhir. Nikaragua, Myanmar, dan Afghanistan mencatat penurunan paling tajam, sementara Amerika Serikat dan Indonesia juga masuk dalam daftar yang mendapat perhatian.

Kondisi ini mengingatkan bahwa kebebasan akademik bukan sekadar persoalan dunia pendidikan, melainkan faktor penting yang mendukung inovasi, penelitian, dan daya saing suatu negara. Semakin besar ruang bagi akademisi untuk berpikir dan berkarya secara independen, semakin besar pula peluang lahirnya berbagai solusi bagi tantangan yang dihadapi masyarakat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More