Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Wamenko Pangan Sebut Integrasi Sawit dan Sapi Cocok untuk Breeding
Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq (Dok. Wamenko Pangan)
  • Wamenko Pangan Hanif Faisol menilai integrasi sawit dan sapi efektif untuk pemenuhan daging nasional, dengan sistem breeding alami yang lebih efisien dibanding inseminasi buatan.
  • Populasi sapi di PT Buana Karya Bhakti naik lima kali lipat, menunjukkan potensi besar program SISKA di Kalimantan Selatan yang bisa membantu memenuhi kekurangan 20 ribu ekor sapi.
  • Integrasi sawit-sapi juga menekan biaya pembersihan gulma hingga 70 persen dan meningkatkan kesuburan tanah, sementara pemerintah menyiapkan regulasi agar program ini berkelanjutan secara nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Tahun 2025

Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 2025 tentang Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air diterbitkan sebagai dasar kebijakan penguatan ketahanan pangan nasional.

19 Juni 2026

Wamenko Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq meninjau peternakan dengan program Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi (SISKA) di PT Buana Karya Bhakti, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Ia menyampaikan bahwa integrasi sawit dan sapi cocok untuk breeding serta efisien secara biaya.

kini

Populasi sapi di PT Buana Karya Bhakti meningkat dari sekitar 300 menjadi hampir 1.500 ekor. Pemerintah berencana membahas pengembangan program SISKA dengan kementerian terkait untuk memperluas penerapan model integrasi sawit-sapi secara nasional.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan menilai integrasi antara perkebunan kelapa sawit dan peternakan sapi efektif untuk pengembangbiakan alami serta mendukung pemenuhan kebutuhan daging nasional.
  • Who?
    Hanif Faisol Nurofiq, Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, bersama pengelola PT Buana Karya Bhakti di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.
  • Where?
    Kegiatan dilakukan di areal perkebunan PT Buana Karya Bhakti, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan.
  • When?
    Pernyataan disampaikan pada Jumat, 19 Juni 2026, setelah peninjauan langsung ke lokasi program Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi (SISKA).
  • Why?
    Integrasi sawit dan sapi dinilai dapat meningkatkan efisiensi breeding alami, mengurangi ketergantungan impor daging, serta memperkuat ketahanan pangan hewani nasional.
  • How?
    Sapi digembalakan secara bergilir di lahan sawit untuk memanfaatkan pakan alami dan kotoran ternak sebagai pupuk; sistem ini juga menekan biaya pembersihan gulma hingga 70 persen.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pak Hanif lihat kebun sawit yang ada sapi-sapinya di Kalimantan Selatan. Katanya, kalau sawit dan sapi digabung, bisa bantu buat daging lebih banyak dan gak perlu beli dari luar negeri. Di sana dulu sapinya cuma sedikit, sekarang jadi banyak banget. Sapi-sapi itu juga bantu makan rumput liar dan pupuk tanahnya biar subur. Pemerintah mau lanjut bikin program ini supaya Indonesia punya cukup daging sendiri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pernyataan Wamenko Pangan Hanif Faisol Nurofiq menunjukkan bahwa integrasi sawit dan sapi bukan hanya efisien dalam pembiakan alami, tetapi juga membawa manfaat ekonomi dan ekologis. Peningkatan populasi sapi hingga lima kali lipat serta penghematan biaya pembersihan gulma menegaskan potensi besar model ini dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga keberlanjutan perkebunan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, menilai, model integrasi perkebunan kelapa sawit dengan peternakan sapi memiliki potensi besar untuk mendukung pemenuhan kebutuhan daging nasional dan mengurangi ketergantungan impor.

Hal ini disampaikan Hanif setelah meninjau langsung peternakan dengan program Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi (SISKA) di areal perkebunan PT Buana Karya Bhakti, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, Jumat (19/06/2026).

Menurut Hanif, sistem pengembangbiakan sapi yang dilakukan secara alami di kawasan perkebunan terbukti lebih efisien dibandingkan inseminasi buatan. Selain biaya yang lebih rendah, proses reproduksi alami dinilai lebih efektif karena seluruh hormon yang dibutuhkan untuk kebuntingan tersedia secara alami.

"Model ini sangat cocok untuk breeding. Setelah anak sapi berusia tiga hingga sembilan bulan, kemudian disapih dan dipisahkan agar pertumbuhannya lebih seragam," ujar Hanif dalam keterangan tertulis.

1. Populasi sapi di PT Buana Karya Bhakti naik lima kali lipat

Program Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi (SISKA) di areal perkebunan PT Buana Karya Bhakti, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan (Dok. Wamenko Pangan)

Berdasarkan penjelasan pengelola, populasi sapi di PT Buana Karya Bhakti yang semula hanya sekitar 300 ekor kini telah berkembang menjadi hampir 1.500 ekor. Populasi tersebut dipelihara di atas lahan perkebunan seluas hampir 16 ribu hektare.

Hanif menjelaskan, dengan rasio sekitar satu ekor sapi untuk setiap 13 hektare lahan, potensi integrasi sawit dan sapi di Kalimantan Selatan sangat besar. Dari total sekitar 480 ribu hektare perkebunan sawit di provinsi tersebut, sekitar 250 ribu hektare dinilai layak untuk program SISKA.

"Kalau 250 ribu hektare ini diintegrasikan, maka paling tidak ada sekitar 20 ribu ekor sapi yang bisa dipelihara. Jumlah ini dapat membantu memenuhi kekurangan kebutuhan sapi potong di Kalimantan Selatan," kata dia.

2. Kebutuhan sapi di Kalimantan Selatan mencapai 56 ribu

Program Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi (SISKA) di areal perkebunan PT Buana Karya Bhakti, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan (Dok. Wamenko Pangan)

Dia mengatakan, kebutuhan sapi di Kalimantan Selatan mencapai sekitar 56 ribu hingga 57 ribu ekor, sementara kemampuan produksi saat ini baru sekitar 33 ribu ekor sehingga masih terdapat kekurangan lebih dari 20 ribu ekor.

Mantan Menteri LH ini menambahkan, keberhasilan program tersebut sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 2025 tentang Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air. Apabila konsep integrasi sawit-sapi dapat diperluas secara nasional, maka ketahanan pangan hewani Indonesia dinilai dapat semakin kuat.

Secara nasional, kata Hanif, Indonesia memiliki lebih dari 17 juta hektare perkebunan kelapa sawit. Dengan asumsi satu ekor sapi membutuhkan 13 hingga 15 hektare lahan, potensi integrasi tersebut diperkirakan mampu menampung sekitar 1,3 juta ekor sapi.

"Angka itu sebenarnya sudah mampu memenuhi kebutuhan nasional. Kebutuhan daging kita sekitar 800 ribu ton per tahun, sementara produksi dalam negeri baru sekitar 400 ribu ton sehingga masih ada kekurangan yang selama ini dipenuhi melalui impor," kata dia.

3. Kehadiran sapi menekan biaya pembersihan gulma hingga 70 persen

Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq (Dok. Wamenko Pangan)

Selain mendukung penyediaan daging, integrasi sawit dan sapi juga dinilai memberikan manfaat bagi sektor perkebunan. Kehadiran sapi disebut mampu menekan biaya pembersihan gulma hingga 50-70 persen, sementara kotoran ternak dapat meningkatkan kesuburan tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman kelapa sawit.

Untuk menghindari dampak negatif terhadap tanah, Hanif mengatakan, sistem penggembalaan dilakukan secara bergilir, di mana sapi hanya berada di satu lokasi selama satu hari sebelum dipindahkan ke area lainnya.

Pemerintah, lanjut Hanif, akan membahas lebih lanjut pengembangan program SISKA bersama kementerian terkait, termasuk Kementerian Pertanian dan sektor perdagangan, guna menyusun regulasi dan menciptakan iklim usaha yang berkelanjutan.

"Kita tidak perlu memaksakan model peternakan dari negara lain. Kita harus menyesuaikannya dengan karakter Indonesia. Integrasi sawit dan sapi ini menjadi salah satu keunggulan kompetitif yang dapat dikembangkan untuk menjawab kebutuhan daging nasional," ujar dia.

Editorial Team

Related Article