Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Warga Jakarta Bisa Cek Kualitas Udara 3 Hari ke Depan Melalui Fitur Ini
Pemprov DKI Jakarta meluncurkan Sistem Peringatan Dini (Early Warning System/EWS) dalam acara Jakarta ECHO Future Fest 2026. (Dok. Pemprov DKI)
  • Pemprov DKI Jakarta meluncurkan Sistem Peringatan Dini di platform Udara Jakarta yang memungkinkan warga memantau kualitas udara secara real-time dan prediksi hingga tiga hari ke depan.
  • Sistem ini mengintegrasikan data dari Dinas Lingkungan Hidup, BMKG, dan Dinas Kesehatan untuk menampilkan prakiraan udara serta rekomendasi aktivitas sesuai kondisi kesehatan masyarakat.
  • Tersedia fitur self-assessment bagi warga untuk menilai risiko kesehatan akibat polusi udara, membantu mengenali gejala lebih awal dan mengambil langkah antisipasi yang tepat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pemerintah Jakarta bikin aplikasi baru namanya Udara Jakarta. Aplikasi itu bisa kasih tahu udara di kota sekarang dan tiga hari ke depan. Pak Gubernur Pramono bilang ini supaya orang bisa siap kalau mau keluar rumah. Ada juga fitur buat cek kesehatan dan saran kegiatan biar semua tetap sehat dan aman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta meluncurkan Sistem Peringatan Dini atau Early Warning System (EWS) melalui aplikasi Udara Jakarta. Melalui aplikasi ini, warga kini tak hanya dapat memantau kondisi kualitas udara secara real-time, tetapi juga melihat prediksi kualitas udara hingga tiga hari ke depan. 

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengatakan kehadiran aplikasi prediksi kualitas udara ini diharapkan dapat membantu masyarakat mengambil langkah antisipasi sebelum beraktivitas. 

“Kalau sebelumnya masyarakat hanya dapat melihat kondisi kualitas udara pada hari itu, sekarang sudah disiapkan prediksi hingga tiga hari ke depan. Semoga ini dapat menjadi referensi bagi masyarakat untuk selalu mengetahui kondisi kualitas udara Jakarta dan mengambil langkah antisipasi yang diperlukan,” kata Pramono saat agenda Jakarta Eco Future Festival (JEFF), Jumat (3/7/2026).

1. Kualitas udara dipantau secara real-time

Pemprov DKI Jakarta meluncurkan Sistem Peringatan Dini (Early Warning System/EWS) dalam acara Jakarta ECHO Future Fest 2026. (Dok. Pemprov DKI)

Pengembangan EWS pada website udara.jakarta.go.id menjadi bagian dari upaya Pemprov DKI Jakarta menghadirkan layanan publik yang semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, mengatakan sistem tersebut turut didukung sejumlah mitra global, untuk memperkuat perlindungan kesehatan masyarakat dari dampak pencemaran udara perkotaan. 

Melalui aplikasi ini, masyarakat dapat memantau kondisi kualitas udara Jakarta secara spasial dan real-time, melalui peta interaktif berdasarkan Indeks  Standar Pencemar Udara (ISPU), termasuk sebaran stasiun pemantau kualitas udara di masing-masing lokasi.

2. Bisa cek prediksi kualitas udara hingga tiga hari

Kondisi langit Jakarta yang masih berpolusi pada Rabu (23/8/2023). (IDN Times/Deti Mega Purnamasari)

Salah satu fitur utama EWS adalah prakiraan kualitas udara hingga tiga hari ke depan pada tingkat kecamatan. Melalui fitur ini, warga dapat merencanakan aktivitas harian secara lebih aman, termasuk menentukan waktu yang tepat untuk beraktivitas di luar ruangan. 

Dudi menjelaskan, sistem tersebut menggabungkan data kualitas udara, prakiraan kondisi udara, serta informasi kesehatan dalam satu platform. 

“Fitur Sistem Peringatan Dini ini mengintegrasikan data kualitas udara dari Dinas Lingkungan Hidup, prakiraan kualitas udara dari BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika), serta rekomendasi aktivitas dan informasi kesehatan dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta,” jelas Dudi.

3. Ada rekomendasi aktivitas sesuai kondisi kesehatan

Ilustrasi kesehatan. (IDN Times/Arief Rahmat)

EWS juga menyediakan rekomendasi aktivitas berdasarkan kondisi kualitas udara. Rekomendasi tersebut ditujukan bagi masyarakat umum maupun kelompok rentan, seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit kronis. 

Panduan tersebut mencakup aktivitas di dalam maupun luar ruangan, serta informasi fasilitas kesehatan terdekat.

4. Tersedia fitur self-assessment kesehatan

Ilustrasi sakit kepala. (IDN Times/Sukma Shakti)

Fitur lainnya adalah self-assessment atau penilaian mandiri untuk mengecek risiko kesehatan akibat paparan polusi udara. Melalui fitur ini, masyarakat dapat mengisi survei terkait gejala kesehatan untuk mengetahui tingkat risiko, mulai dari rendah, sedang, hingga tinggi. 

Dudi mengatakan, fitur ini diharapkan membantu masyarakat mengenali kondisi kesehatannya lebih awal sekaligus mengambil langkah penanganan tepat. Ia berharap EWS dapat menjadi rujukan utama warga dalam memantau kondisi kualitas udara Jakarta dan mengambil langkah antisipasi sejak dini.

“Pengendalian pencemaran udara membutuhkan kerja bersama. Pemerintah terus memperkuat sistem dan kebijakannya, sementara masyarakat dapat berperan dengan memanfaatkan informasi ini untuk melindungi diri, keluarga, dan lingkungan sekitar,” pungkas Dudi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article