Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Waspada Dampak El Nino, Kualitas Udara Jakarta Berpotensi Makin Buruk

Waspada Dampak El Nino, Kualitas Udara Jakarta Berpotensi Makin Buruk
Ilustrasi Jakarta. (IDN Times/Dini Suciatiningrum)
Intinya Sih
Gini Kak
Sisi Positif
  • BMKG memperingatkan potensi memburuknya kualitas udara Jakarta selama kemarau panjang 2026 karena minim hujan membuat polutan tidak tercuci dari atmosfer.
  • Fenomena El Nino diperkirakan membuat suhu Jakarta terasa lebih panas pada September–Oktober, disertai udara kering dan penurunan kelembaban sejak Juli hingga Agustus.
  • BMKG memprediksi El Nino aktif hingga awal 2027 dengan peluang moderat 98 persen, serta mengimbau pemerintah daerah menyiapkan langkah antisipasi dampak kemarau dan polusi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times -  Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat mewaspadai potensi memburuknya kualitas udara di Jakarta selama musim kemarau panjang 2026 akibat fenomena El Nino.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan minimnya hujan saat musim kemarau membuat polutan di atmosfer tidak tercuci secara optimal. 

“Sumber polutan itu kan ada setiap saat melalui aktivitas manusia, ada transportasi dan lain sebagainya, sehingga absennya hujan ini tidak membantu kita untuk memperbaiki kualitas udara karena tidak dibantu pencucian atmosfer oleh hujan,” kata Ardhasena saat konferensi pers di Gedung MHEWS BMKG, Rabu (10/6/2026). 

Kondisi tersebut dapat diperparah dengan kondisi kualitas udara Jakarta yang sempat masuk kategori terburuk keenam di dunia, berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada Selasa, (5/5/2026). 

Indeks kualitas udara (AQI) Jakarta tercatat berada di angka 174 atau masuk kategori tidak sehat dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 79,5 mikrogram per meter kubik.

Table of Content

1. Minim hujan membuat polutan tidak tercuci

1. Minim hujan membuat polutan tidak tercuci

WhatsApp Image 2025-08-07 at 13.22.49.jpeg
Ilustrasi Jakarta, Bundaran HI (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Ardhasena menjelaskan, kualitas udara di Jakarta berpotensi memburuk saat musim kemarau karena polutan di atmosfer tidak tercuci oleh hujan. 

Menurutnya, sumber polusi udara tetap muncul setiap hari dari berbagai aktivitas manusia, termasuk transportasi dan industri.

Di sisi lain, wilayah Jakarta bagian utara sudah lebih dulu memasuki musim kemarau sejak Mei 2026, sedangkan wilayah Jakarta bagian selatan diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada Juni. 

“Untuk wilayah DKI Jakarta bagian utara itu sudah masuk bulan Mei musim kemaraunya. Bagian selatan akan menyusul bulan Juni ini sehingga dampaknya adalah pada kondisi kemarau yang lebih panjang,” ujarnya Ardhasena. 

2. El Nino bikin Jakarta terasa lebih panas

Waspada Dampak El Nino yang Berpotensi Perburuk Kualitas Udara Jakarta
ilustrasi Jakarta saat terik (IDN Times/Sunariyah)

BMKG menjelaskan, fenomena El Nino berdampak terhadap kondisi musim kemarau di DKI Jakarta, sama seperti wilayah lain di Pulau Jawa.

Menurut Ardhasena, temperatur udara di Jakarta diperkirakan terasa lebih panas terutama pada akhir September hingga Oktober, saat posisi matahari melintas tepat di atas Pulau Jawa.

“Mengenai temperatur biasanya DKI Jakarta itu akan terasa lebih sumuk kalau orang Jawa bilang, sekitar bulan September akhir hingga Oktober karena persis posisi matahari melintas di sekitar wilayah atasnya Pulau Jawa,” jelasnya.

Ia menambahkan, pada Juli hingga Agustus kondisi udara kering akibat minimnya curah hujan juga akan disertai penurunan kelembaban udara.

3. BMKG prediksi El Nino bertahan hingga awal 2027

Waspada Dampak El Nino yang Berpotensi Perburuk Kualitas Udara Jakarta
Ilustrasi kekeringan akibat kemarau panjang dan fenomena El Nino terjadi di Indonesia, Senin (18/9/2023). Cover Grafis IDN Times

BMKG sebelumnya memprediksi fenomena El Nino akan mulai aktif pada pertengahan 2026 dan berpotensi bertahan hingga awal 2027.

Saat ini, peluang El Nino mencapai kategori moderat sebesar 98 persen, sedangkan peluang mencapai kategori kuat sebesar 62 persen.

Selain berdampak pada kualitas udara, El Nino juga diperkirakan memicu musim kemarau yang lebih kering dan panjang di sebagian besar wilayah Indonesia.

BMKG turut mengimbau pemerintah daerah menyiapkan langkah antisipasi terhadap dampak musim kemarau, termasuk memburuknya kualitas udara yang berpotensi memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah

Related Articles

See More