Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
2 Bulan Usai Bencana, Nepal Hadapi Pemulihan Panjang dan Krisis Dana
Foto udara pemukiman yang terdampak banjir bandang di Devighat, Bidur Municipality, distrik Nuwakot, Nepal pada 27 August 2026 (AFP/ (AFP/PRABIN RANABHAT)
  • Dua bulan setelah banjir dan longsor 26 Agustus 2026, Nepal mencatat 1.457 korban tewas dan lebih dari 5.200 hilang; ribuan warga masih mengungsi.
  • Pemulihan terhambat infrastruktur rusak dan akses terputus, sementara hunian layak sebelum musim dingin, layanan kesehatan, distribusi bantuan, serta pemulihan mata pencaharian menjadi kebutuhan mendesak.
  • PBB memperkirakan rekonstruksi Nepal memerlukan 2–3 tahun dan lebih dari 4,7 miliar dolar AS, sedangkan bantuan yang diterima masih jauh dari kebutuhan di tengah penurunan dukungan donor.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Dua bulan setelah banjir dan tanah longsor dahsyat melanda wilayah perbatasan Nepal-China pada 26 Agustus 2026, upaya pemulihan masih menghadapi tantangan besar. Bencana tersebut menewaskan 1.457 orang di Nepal, sementara lebih dari 5.200 orang masih dinyatakan hilang. Di China, 43 orang dilaporkan tewas dan sekitar 510 lainnya belum ditemukan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan proses pemulihan dan rekonstruksi Nepal membutuhkan waktu 2 hingga 3 tahun, dengan biaya mencapai lebih dari 4,7 miliar dolar AS (sekitar Rp85,3 triliun). Sementara itu, ribuan warga masih mengungsi, akses ke sejumlah wilayah terputus, dan kerusakan infrastruktur menghambat distribusi bantuan serta pemulihan mata pencaharian.

1. Infrastruktur rusak dan pengungsi hadapi ancaman musim dingin

Militer Nepal telah membangun jembatan sementara, guna memulihkan jalur transportasi yang rusak akibat banjir. Infrastruktur tersebut diharapkan memperlancar pengiriman bantuan melalui kendaraan, terutama ke wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau.

Pemerintah juga menyiapkan 20 lokasi untuk menampung warga terdampak di kawasan yang lebih aman dan berada di dataran tinggi. Namun, proses rekonstruksi masih terkendala akses terbatas, bangunan rusak yang belum dibongkar, serta tumpukan puing yang harus dibersihkan.

Sarah-Yen Stemmler, spesialis tanggap darurat dan pemulihan kemanusiaan di Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), mengatakan ribuan warga masih tinggal di tenda dan tempat penampungan sementara. Stemmler menambahkan bahwa tenaga medis dan fasilitas kesehatan juga telah terpengaruh. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang wabah penyakit menular. Ia juga menekankan pentingnya dukungan global yang berkelanjutan.

"Yang penting untuk dicatat adalah musim dingin akan segera tiba dan suhu akan turun. Oleh karena itu, memindahkan orang-orang dari tenda dan tempat penampungan sementara ke hunian yang lebih layak dan tahan terhadap cuaca menjadi prioritas utama," ungkapnya, dilansir NHK News pada Senin (26/10/2026).

2. Warga Nepal cemas kehilangan mata pencaharian

Warga korban banjir bandang duduk di samping puing-puing sembari menyelamatkan barang-barang mereka setelah banjir bandang melanda Devighat di distrik Nuwakot, Nepal, pada 31 Agustus 2026 (AFP/Arun Sankar))

Koordinator Tetap PBB di Nepal, Lila Pieters Yahia, mengatakan bahwa sebagian kebutuhan pokok masih dikirim menggunakan helikopter dan drone karena sejumlah daerah belum dapat dijangkau melalui jalur darat. Menurutnya, meskipun pekerjaan pemulihan sedang berlangsung di daerah-daerah yang terkena dampak di Nepal tengah, seperti distrik Rasuwa dan Nuwakot, banyak penduduk masih mengungsi.

"Warga juga mengalami tekanan akibat ketidakpastian mengenai kelangsungan mata pencaharian mereka dan kemampuan untuk kembali bekerja setelah bencana," ujar Yahia.

3. Bantuan iklim PBB belum menutup kebutuhan

Ilustrasi bendera Nepal. (unsplash.com/Samrat Khadka)

Dilansir ABC News, di tengah kebutuhan yang mendesak, Dana PBB untuk Menanggapi Kerugian dan Kerusakan telah menyetujui alokasi awal 20 juta dolar AS (Rp363,2 milyar) dalam keputusan yang diambil pada rapat dewan darurat, guna membantu Nepal bangkit dari bencana. Pendanaan ini menjadi pembayaran pertama dari mekanisme yang dibentuk dalam membantu negara-negara rentan menghadapi dampak perubahan iklim.

Meski disambut positif, bantuan tersebut masih jauh dari kebutuhan rekonstruksi. Maheshwar Dhakal, pejabat senior Kementerian Iklim dan Lingkungan Nepal, menilai bantuan tersebut belum sebanding dengan kerugian yang dialami negaranya. Namun, ia menyebut keputusan itu sebagai bentuk komitmen komunitas internasional dalam mendukung pemulihan Nepal.

Hingga akhir September, Nepal telah menerima sekitar 102 juta dolar AS (Rp1,8 triliun) dari donor domestik dan internasional. Pihaknya juga terus mencari pendanaan tambahan melalui kerja sama bilateral dan bank pembangunan multilateral.

Kebutuhan pemulihan Nepal meningkat ketika dukungan pembangunan internasional mengalami penurunan. Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) melaporkan bahwa bantuan pembangunan resmi dari negara-negara donor utama turun 23 persen pada 2025. Amerika Serikat mencatat pengurangan terbesar, sementara Jerman, Inggris, Prancis, dan Jepang juga memangkas anggaran bantuan.

4. Perubahan iklim memperbesar risiko bencana

Potret pemandangan Pegunungan Himalaya di Nepal. (unsplash.com/Sanjay Hona)

Analisis kelompok riset World Weather Attribution yang dirilis pada September menunjukkan bahwa pemanasan global berkontribusi terhadap ketidakstabilan lereng pegunungan. Kenaikan suhu mempercepat penyusutan gletser dan pencairan lapisan es abadi di kawasan Himalaya. Akibatnya, melemahkan material beku yang membantu menjaga kestabilan batuan, sehingga meningkatkan kerentanan kawasan pegunungan terhadap longsor dan bencana terkait.

Himalaya menyimpan cadangan salju dan es terbesar di dunia di luar wilayah kutub. Lebih dari 63 ribu gletser di kawasan ini memasok air bagi sedikitnya 10 sistem sungai utama di Asia dan menopang kebutuhan air, pangan, energi, dan mata pencaharian miliaran orang. Akan tetapi, pencairan es yang terus berlangsung mengancam fungsi tersebut. Laporan PBB menunjukkan bahwa gletser dunia kehilangan rata-rata 267 miliar ton es per tahun selama periode 2000-2019.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article