Putin Heran Eropa Selalu Kambing hitamkan Rusia Terkait Protes

Vladimir Putin menolak tuduhan Rusia memprovokasi protes di kota-kota besar Eropa, menyebutnya berlebihan dan sebagai pengalihan tanggung jawab para pemimpin Eropa.
Putin menilai akar protes berada pada masalah domestik Eropa, termasuk utang publik, defisit fiskal, serta migrasi tak terkendali yang menghambat pembauran pendatang.
Pernyataan itu muncul setelah protes di Prancis serta kerusuhan di Spanyol dan Italia; Prancis menuding narasi Rusia, China, Iran, dan MAGA memengaruhi demonstran.
Jakarta, IDN Times - Presiden Rusia Vladimir Putin menolak tuduhan bahwa negaranya memprovokasi protes massal di kota-kota besar Eropa. Ia menilai klaim tersebut jelas berlebihan dan menunjukkan kegagalan para pemimpin Eropa dalam mengambil tanggung jawab.
Putin mengaku terkejut karena reaksi awal di Eropa sempat mengarah pada anti-Amerika Serikat (AS), sebelum akhirnya beralih menyalahkan Rusia.
"Tidak ada yang tidak terduga di sini. Seperti yang diketahui, Rusia selalu dituduh melakukan semua dosa besar. Tapi sekarang saya siap untuk merespons," katanya dalam wawancara dengan perusahaan penyiaran VGTRK yang diterbitkan pada Minggu (25/10/2026), dikutip Anadolu Agency.
1. Alasan pengalihan isu oleh pemimpin Eropa

ilustrasi bendera Uni Eropa (pexels.com/Dušan Cvetanović) Putin menilai tuduhan tersebut menunjukkan kelemahan sejumlah pemimpin Eropa yang enggan menganalisis peristiwa secara mendalam. Ia menyebut para pejabat tersebut hanya mencari jalan pintas untuk mengalihkan kesalahan.
"Reaksi pertama saya ketika saya melihat ini adalah terkejut, karena mengatakan bahwa kami memprovokasi protes massal di kota-kota besar Eropa adalah sesuatu yang jelas berlebihan, yang menurut saya jelas bagi warga biasa di negara-negara Eropa," katanya.
2. Krisis domestik dan tantangan migrasi

ilustrasi pesawat terbang (pexels.com/Pixabay) Menurut Putin, akar permasalahan protes ini bersumber dari kebijakan domestik Eropa sendiri, khususnya persoalan ekonomi seperti utang publik yang berlebihan dan defisit fiskal. Selain itu, situasi migrasi yang tak terkendali membuat pembauran menjadi mustahil akibat keterbatasan sumber daya serta hilangnya tradisi lokal.
Dilansir Chosun Biz, Putin menilai negara-negara Eropa gagal menanamkan bahasa, adat, serta tradisinya sendiri kepada para pendatang.
3. Respons internasional dan gelombang demonstrasi

ilustrasi bentrokan saat demo (pexels.com/Mico Medel) Pernyataan tersebut merespons gelombang protes mahasiswa nasional di Prancis serta kerusuhan di Spanyol dan Italia. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot dalam konferensi Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pada 21 Oktober 2026 menuduh pengunjuk rasa menggunakan narasi bermusuhan dari Rusia, China, Iran, dan komunitas MAGA.
Menanggapi situasi ini, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov pada 19 Oktober 2026 menyatakan bahwa tidak ada pihak yang menganggap serius tuduhan tersebut, sementara Presiden AS Donald Trump menilai kerusuhan dipicu oleh migrasi besar-besaran.























