Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
78 Kapal Berawak India Kena Serangan, 139 Pelaut di Selat Hormuz
ilustrasi bendera India (pexels.com/Amit Rai)
  • Sebanyak 78 kapal berawak India menjadi sasaran serangan sejak perang Asia Barat pecah, dengan empat kapal berbendera India turut terdampak.
  • Di Selat Hormuz, terdapat 139 pelaut India dan delapan kapal berkepentingan India; serangan sejauh ini menewaskan 16 pelaut India, termasuk 11 di selat tersebut.
  • India menjajaki kerja sama energi, pelabuhan, pembuatan kapal, dan koridor pelayaran hijau dengan Arab Saudi, Belgia, Bhutan, serta Uni Eropa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Sebanyak 78 kapal yang membawa pelaut India dilaporkan menjadi sasaran serangan sejak perang Asia Barat pecah pada 28 Februari. Berdasarkan keterangan otoritas maritim India, empat di antara puluhan kapal yang diserang tersebut merupakan kapal berbendera India.

Sekretaris Perkapalan India Vijay Kumar menyampaikan data tersebut dalam konferensi pers bersama Menteri Perkapalan dan Jalur Air Sarbananda Sonowal di New Delhi, Kamis (8/10/2026). Seperti dilaporkan Business Standard, sebanyak 139 pelaut India dan delapan kapal berkepentingan India saat ini berada di dalam kawasan Selat Hormuz di tengah berlanjutnya serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di dekat Iran.

1. Situasi kapal dan pelaut India di Selat Hormuz

Selat Hormuz (MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC, Public Domain, via Wikimedia Commons)

Vijay Kumar menjelaskan bahwa dari delapan kapal berkepentingan India yang berada di Selat Hormuz, dua unit berbendera India. Sementara itu, enam armada lainnya merupakan kapal yang berlayar menuju ke pelabuhan di India. Keterangan ini disampaikan di tengah laporan serangan yang terus menyasar kapal-kapal di jalur perairan tersebut.

Kumar dan Sonowal memaparkan situasi tersebut kepada para jurnalis dalam rangkaian acara Sagarmanthan. Dalam forum tersebut, para pemangku kepentingan internasional turut menyoroti peningkatan ancaman yang terjadi di wilayah perairan internasional. Hingga saat ini, 139 pelaut berkebangsaan India masih berada di perairan Selat Hormuz.

2. Catatan korban tewas dan data perlintasan selat

ilustrasi kapal tanker (unsplash.com/Shaah Shahidh)

Serangan terhadap kapal-kapal komersial sejauh ini telah menewaskan sebanyak 16 pelaut asal India. Dari total korban jiwa tersebut, 11 pelaut tewas akibat serangan di Selat Hormuz dan lima pelaut lainnya tewas di Laut Hitam.

Seorang pejabat pemerintah yang dikutip Business Standard memaparkan bahwa sebanyak 74 kapal berkepentingan India telah melintasi Selat Hormuz sejak perang dimulai. Sebanyak 25 armada dari total perlintasan tersebut merupakan kapal yang menggunakan bendera India. Selain itu, belasan kapal tanker tercatat melintasi dan keluar dari selat pada periode ini dengan mengangkut tiga juta ton minyak mentah.

3. Penjajakan kerja sama maritim dan pelayaran hijau

ilustrasi kapal kargo (pexels.com/William Liu)

Dalam rangkaian acara yang sama, Menteri Sarbananda Sonowal menyatakan telah mengadakan pembicaraan bilateral dengan Belgia, Arab Saudi, dan Bhutan guna membidik kesepakatan di bidang energi serta pelayaran hijau. Sonowal membahas rencana partisipasi Arab Saudi dalam proyek pelabuhan India di Vadhavan, Gujarat, serta Teluk Galathea di Nikobar Besar bersama delegasi Otoritas Pelabuhan Arab Saudi (Mawani). Kedua belah pihak juga membicarakan kerja sama pembuatan kapal, pelatihan awak kapal, dan ketahanan rantai pasok.

Pernyataan pemerintah menyebutkan bahwa Arab Saudi menyatakan minat menanamkan investasi pada proyek pelabuhan India serta Dana Pengembangan Maritim (MDF). Di samping itu, Sonowal mengusulkan penjajakan koridor pelayaran hijau yang menghubungkan pelabuhan India dengan Antwerp-Bruges kepada Menteri Mobilitas, Pekerjaan Umum, Pelabuhan, dan Olahraga Flemish Annick De Ridder. Pertemuan bilateral tersebut membahas topik bahan bakar hijau, teknologi pelabuhan pintar, dan pengerukan alur laut.

India dan Uni Eropa juga mengumumkan pembentukan koalisi industri untuk koridor pelayaran hijau India-Uni Eropa pada Rabu (7/10/2026). Selain itu, Otoritas Pelabuhan VO Chidambaranar atau Pelabuhan Tuticorin telah menandatangani perjanjian dengan Pelabuhan Antwerp. Kerja sama bilateral ini ditujukan untuk program pelatihan peningkatan kapasitas dalam sektor pelayaran hijau dan bahan bakar ramah lingkungan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article