Selat Hormuz Kembali Mencekam usai Tiga Tanker Diserang

- Tiga tanker diserang di Selat Hormuz pada 29 September 2026, sehingga total kapal terdampak dalam sepekan menjadi empat dan kewaspadaan pelayaran meningkat.
- Dua tanker berbendera Liberia, Mersin Prosperity dan Sinbad, dilaporkan rusak setelah mematikan AIS; Iran memperingatkan kapal tanpa izin berisiko ditembak atau terkena ranjau.
- Meski ancaman berlanjut, arus minyak mentah meningkat dengan perlindungan CENTCOM; Iran juga menerima tanggapan AS atas proposal mengakhiri perang dan membuka kembali akses selat.
Jakarta, IDN Times – Ketegangan di Selat Hormuz meningkat setelah tiga kapal tanker menjadi sasaran serangan pada Selasa (29/9/2026), di jalur penting bagi pengiriman minyak dan gas global. Kejadian tersebut membuat jumlah kapal yang diserang dalam sepekan mencapai empat unit, sementara kapal yang melintas di kawasan strategis itu diimbau meningkatkan kewaspadaan karena jenis armada yang terdampak mencakup tanker minyak mentah hingga kapal tanker gas alam cair.
Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran internasional karena Selat Hormuz memiliki peran penting dalam rantai pasok energi dunia. Pengawasan melalui udara dan angkatan laut oleh pihak berwenang juga terus dipantau untuk mengantisipasi gangguan lebih lanjut terhadap distribusi energi global.
1. Dua Tanker Liberia mematikan sistem identifikasi

ilustrasi kapal pengangkut minyak (unsplash.com/Fredick F.) Pusat Operasi Perdagangan Maritim Britania Raya (UKMTO) dan data pelacakan mengidentifikasi dua kapal berbendera Liberia yang mengalami kerusakan dalam insiden tersebut, yaitu kapal tanker raksasa Mersin Prosperity berkapasitas 299.319 deadweight tonnage (dwt) yang dioperasikan oleh Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi (ADNOC), serta kapal Sinbad dengan kapasitas 115.949 dwt. Kedua kapal tersebut terdeteksi berlayar gelap setelah mematikan Sistem Identifikasi Otomatis (AIS).
Kantor Berita Fars melaporkan adanya tembakan peringatan terhadap kapal yang melanggar ketentuan di kawasan itu bersamaan dengan laporan ledakan di sekitar Pulau Qeshm dan sejumlah titik pantai lainnya.
Sementara itu, Juru Bicara Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadier General Hossein Mohebbi, kembali menyatakan bahwa Teheran menguasai sepenuhnya kawasan perairan tersebut. Kantor Berita Wana juga melaporkan kapal yang melintas tanpa izin resmi dapat menjadi sasaran tembak atau menghadapi risiko menabrak ranjau.
2. Windward MIOC menilai arus minyak mentah meningkat

ilustrasi kapal (pexels.com/Alexander Bobrov) Kepala Meja Timur Tengah Pusat Informasi Operasi Maritim Windward (MIOC), Zane Amundsen, menyampaikan analisis mengenai perkembangan keamanan di koridor perairan tersebut. Windward MIOC menilai kemampuan Iran membatasi lalu lintas di koridor selatan lebih rendah dibandingkan pertengahan musim panas, sementara arus minyak mentah terus meningkat meski setiap kapal menghadapi ancaman.
“Windward MIOC menilai bahwa Iran kurang mampu membatasi lalu lintas koridor selatan dibandingkan pada pertengahan musim panas, karena arus minyak mentah yang meningkat terus berlanjut meskipun ada ancaman terhadap masing-masing kapal,” menurut pernyataan lembaga tersebut, dikutip Maritime Executive.
Lembaga tersebut mencatat ada 55 pelayaran terdeteksi AIS pada 16 September 2026 hingga 23 September 2026, dengan angka pergerakan harian mencapai 17 kapal pada 29 September 2026 di bawah perlindungan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM).
Laporan perusahaan pelacak data energi global Kpler menyebut lebih dari 70 persen minyak mentah yang melewati selat pada Agustus 2026 mengalami alih muat antar kapal di lepas pantai, sebelum volume non-Iran kembali ke tingkat sebelum perang sebesar 16,5 juta barel per hari pada September 2026. Adapun penyedia data pelacakan kapal dan energi Vortexa mencatat rute pipa Arab Saudi menuju Yanbu telah dipulihkan pascaserangan Houthi dan memuat 6,2 juta barel minyak ke empat kapal tanker pada 28 September 2026, meski volumenya baru mencapai sekitar dua pertiga dari laju sebelum serangan.
3. Iran menerima tanggapan AS terkait proposal Teheran

Bendera Iran (pexels.com/Engin Akyurt) Pihak berwenang Iran mengonfirmasi telah menerima tanggapan resmi dari Amerika Serikat (AS) mengenai proposal Teheran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah sekaligus membuka kembali akses Selat Hormuz. Proses diplomasi tersebut berlangsung beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump menolak draf rencana damai itu.
Di sisi lain, NBC News yang mengutip tiga pejabat AS melaporkan sebuah insiden pada 14 September 2026 ketika rudal jelajah antikapal Iran menghantam kapal operasional Marinir AS, menurut laporan Hindustan Times. Delapan personel, terdiri dari tujuh anggota tamtama dan satu perwira, mengalami akibat terhirup asap serta potensi cedera otak traumatis, tetapi seluruhnya telah kembali bertugas tanpa luka serius.

![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















