Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
9 WN China Penyelundup Alat Cyber Crime Ditangkap di Bandara Sri Lanka
Bendera China (unsplash.com/runningchild)
  • Sembilan warga negara China ditangkap di Bandara Internasional Sri Lanka karena menyelundupkan ratusan perangkat elektronik yang disembunyikan di tubuh mereka untuk menghindari pemeriksaan petugas.
  • Petugas menyita 383 ponsel, 101 tablet, dan enam router Wi-Fi bernilai sekitar 24 juta rupee Sri Lanka, diduga akan digunakan untuk mendukung operasi penipuan daring terorganisir.
  • Kedutaan Besar China di Kolombo menyatakan dukungan penuh terhadap langkah hukum Sri Lanka serta komitmen bekerja sama memberantas geng penipuan lintas negara demi menjaga keamanan digital.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Petugas Bea Cukai di Bandara Internasional Sri Lanka berhasil menggagalkan upaya penyelundupan ratusan perangkat elektronik yang dilakukan oleh sembilan warga negara China pada Kamis (16/4/2026). Para pelaku yang baru tiba dari Kunming, China, mencoba melewati jalur hijau (green channel) untuk menghindari pemeriksaan petugas dengan menyembunyikan barang-barang tersebut di balik pakaian mereka.

Kecurigaan petugas muncul setelah melihat gerak-gerik dan postur tubuh para penumpang yang tampak tidak wajar. Setelah dilakukan pemeriksaan fisik secara mendalam, ditemukan ratusan telepon genggam dan perangkat komunikasi lainnya yang ditempelkan langsung ke tubuh mereka menggunakan selotip elastis agar tidak menimbulkan suara atau tonjolan yang mencolok.

1. Penangkapan sembilan warga China di bandara internasional Sri Lanka

ilustrasi bandara (unsplash.com/Phil Mosley)

Penyelidikan awal menunjukkan bahwa para tersangka sengaja merancang metode ini untuk menembus pengawasan bandara. Mereka menempelkan perangkat-perangkat tersebut dengan sangat rapi di badan mereka. Seorang pejabat berwenang menjelaskan cara kerja para pelaku dalam menjalankan aksinya di area kedatangan.

"Para tersangka secara sengaja menyembunyikan stok perangkat komunikasi elektronik dalam jumlah besar dengan cara menempelkannya menggunakan selotip pada tubuh mereka dan di dalam pakaian untuk menghindari pengawasan ketat petugas di pintu kedatangan," kata seorang pejabat Bea Cukai Sri Lanka, dilansir The Straits Times.

Setelah barang bukti ditemukan, para tersangka langsung diamankan oleh pihak otoritas bandara. Mereka menjalani interogasi untuk mencari tahu siapa penerima barang-barang tersebut di Sri Lanka, yang diduga akan digunakan untuk membangun pusat penipuan daring. Pihak kepolisian menegaskan bahwa tindakan ini adalah pelanggaran hukum serius dan ancaman bagi keamanan digital negara.

"Mereka yang terbukti terlibat dalam aktivitas penipuan siber akan diproses secara tegas di bawah hukum pidana kami, sementara bagi mereka yang tidak memiliki kaitan langsung namun melanggar aturan izin tinggal akan segera menghadapi prosedur deportasi ke negara asal mereka," kata juru bicara kepolisian Sri Lanka, Frederick Wootler.

2. Rincian penyitaan perangkat komunikasi

ilustrasi alat elektronik (unsplash.com/athharv)

Dalam pemeriksaan, petugas menyita 383 unit telepon genggam bekas, 101 komputer tablet, dan enam router Wi-Fi yang sudah dilengkapi dengan pelacak GPS. Total nilai seluruh barang ilegal ini diperkirakan mencapai 24 juta rupee Sri Lanka (Rp1,3 miliar). Penggunaan router dengan GPS ini menjadi perhatian khusus karena menunjukkan bahwa kelompok ini berencana untuk berpindah-pindah tempat agar tidak terlacak oleh polisi siber.

"Peralatan komunikasi yang kami sita dari para tersangka, yang secara fisik ditempelkan ke tubuh mereka menggunakan selotip, telah secara resmi kami ambil alih untuk kemudian dimusnahkan karena secara jelas melanggar peraturan impor serta diduga kuat ditujukan untuk mendukung operasi kejahatan finansial berbasis komputer," kata juru bicara resmi departemen Bea Cukai Sri Lanka.

Modus operandi yang digunakan para pelaku mirip dengan jaringan kejahatan terorganisir di Asia Tenggara. Mereka menggunakan kurir untuk membawa peralatan teknis dalam jumlah banyak tanpa melewati jalur resmi. Laporan dari otoritas setempat menyebutkan bahwa cara ini merupakan upaya terencana sindikat untuk menembus keamanan bandara yang semakin ketat.

"Penemuan perangkat yang ditempelkan pada tubuh tersangka ini menunjukkan tingkat organisasi yang sangat terencana dalam upaya memasukkan alat-alat pendukung kejahatan siber ke wilayah kami, sehingga penyitaan barang bukti senilai puluhan juta rupee ini merupakan tindakan penegakan hukum yang signifikan terhadap jaringan tersebut," tulis laporan resmi otoritas setempat.

3. Kedutaan Besar China siap membantu memberatas geng penipuan

Bendera China (unsplash.com/d_ks11)

Kasus kejahatan siber di Sri Lanka terus menunjukkan peningkatan. Sebelumnya, polisi telah menangkap 152 warga asing di sebuah hotel di Chilaw yang juga menjalankan pusat penipuan. Sri Lanka kini sering menjadi incaran sindikat kriminal karena fasilitas telekomunikasi yang memadai dan kebijakan visa yang longgar. Menanggapi hal ini, Kedutaan Besar China di Kolombo menyatakan kesiapannya untuk membantu pemerintah setempat dalam memberantas geng penipuan tersebut.

"Disebabkan oleh infrastruktur telekomunikasi Sri Lanka yang berkembang dengan sangat baik, lokasi geografis yang menguntungkan, serta kebijakan visa yang cenderung longgar, beberapa geng penipuan telekomunikasi telah memindahkan basis operasional mereka ke negara ini," kata pihak Kedutaan Besar China di Kolombo.

Pemerintah China juga meminta seluruh warga negaranya yang berada di luar negeri untuk selalu taat pada aturan yang berlaku. Mereka mendukung penuh langkah hukum yang diambil oleh otoritas Sri Lanka demi menjaga keamanan publik dari ancaman kejahatan digital yang semakin modern.

"Pemerintah China mewajibkan seluruh warga negaranya yang berada di luar negeri untuk selalu mematuhi hukum dan peraturan setempat secara ketat. Kami menyatakan kesiapan penuh untuk bekerja sama dengan otoritas terkait dalam upaya internasional untuk bersama-sama memerangi segala bentuk kegiatan kriminal, termasuk penipuan daring," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team