Sri Lanka Naikkan Harga LPG 23 Persen akibat Perang Iran

- Pemerintah Sri Lanka menaikkan harga LPG rumah tangga sebesar 23 persen akibat lonjakan harga energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah dan gangguan rantai pasok.
- Kenaikan harga LPG, bensin, dan solar memicu inflasi serta menambah beban masyarakat kelas menengah ke bawah, dengan harga gas naik dua kali dalam dua bulan terakhir.
- Pemerintah mencairkan bantuan sosial senilai 100 miliar rupee untuk melindungi rakyat kecil, termasuk subsidi nelayan dan BLT, sambil mencari pasokan energi alternatif dari Rusia.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Sri Lanka resmi menaikkan harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) rumah tangga hingga 23 persen, berlaku mulai Senin (6/4/2026). Kebijakan drastis ini diambil menyusul meroketnya harga energi global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran.
Keputusan ini memicu kekhawatiran baru atas stabilitas ekonomi Sri Lanka, yang sebenarnya baru saja mulai bangkit dari krisis hebat tahun 2022. Penyesuaian harga diberlakukan merata bagi distributor negara maupun swasta guna menjamin ketersediaan stok di tengah gangguan rantai pasok global.
1. Perang di Timur Tengah picu lonjakan harga energi dunia
Krisis energi ini berakar dari ketegangan militer di kawasan Teluk. Penutupan Selat Hormuz, jalur vital bagi 20 persen ekspor migas dunia, telah melumpuhkan distribusi energi. Serangan udara terhadap fasilitas produksi di Shiraz (Iran) dan Qatar diprediksi memerlukan waktu pemulihan hingga lima tahun.
Kondisi ini mendorong harga minyak mentah Brent menembus angka 116 dolar AS (sekitar Rp1,97 juta) per barel. Selain harga komoditas, lonjakan biaya asuransi kapal tanker dan logistik internasional turut memaksa penyedia energi di Sri Lanka menaikkan harga jual.
"Harga LPG dunia melonjak tajam dan biaya pengiriman internasional naik drastis. Kami terpaksa mengubah harga agar distribusi gas nasional tidak terhenti," ungkap juru bicara Litro Gas, perusahaan gas milik negara, dilansir The Straits Times.
2. Harga kebutuhan pokok meroket, bebani warga kelas menengah ke bawah
Kenaikan ini dirasakan langsung oleh masyarakat mulai Minggu (5/4/2026) tengah malam. Laugfs Gas, penyedia swasta yang memegang 25 persen pangsa pasar, menaikkan harga tabung LPG dari 4.630 rupee Sri Lanka (sekitar Rp250,5 ribu) menjadi 5.700 rupee Sri Lanka (sekitar Rp308,39 ribu).
Litro Gas juga melakukan penyesuaian untuk tabung 12,5 kg menjadi 4.765 rupee Sri Lanka (sekitar Rp257,8 ribu). Ironisnya, kenaikan ini terjadi hanya sebulan setelah harga gas naik delapan persen pada Maret lalu. Tak hanya LPG, harga bensin dan solar pun telah melonjak 25 persen dalam dua pekan terakhir, yang mulai memicu inflasi pada tarif angkutan umum dan harga pangan. Presiden Sri Lanka, Anura Kumara Dissanayake, memperingatkan warga untuk bersiap.
"Kita harus menghadapi kemungkinan terburuk jika konflik Timur Tengah berlarut-larut," tegasnya, dilansir The Hindu.
3. Pemerintah cairkan bantuan Rp5,41 triliun untuk rakyat kecil
Menanggapi tekanan ekonomi tersebut, pemerintah mencairkan paket bantuan sosial senilai 100 miliar rupee Sri Lanka (sekitar Rp5,41 triliun). Langkah ini dirancang untuk melindungi 22 juta penduduk, khususnya kelompok paling rentan seperti petani dan nelayan.
Bentuk bantuan meliputi subsidi bahan bakar untuk nelayan kecil hingga 300 dolar AS (sekitar Rp5,1 juta) per bulan, serta Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebesar 25 dolar AS (sekitar Rp425,12 ribu) bagi warga miskin menjelang perayaan Tahun Baru Sinhala dan Tamil. Guna mematuhi rambu-rambu dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan mencegah hiperinflasi, dana ini dialokasikan dari pos anggaran yang sudah ada tanpa mencetak uang baru.
Di samping bantuan domestik, Sri Lanka tengah melobi Rusia untuk mengamankan pasokan alternatif gas, batu bara, dan pupuk guna mengurangi ketergantungan pada Timur Tengah.
"Bantuan ini adalah yang terbesar dalam sejarah kami untuk menjaga rakyat kecil dari dampak perang di luar negeri," kata Presiden Dissanayake.


















